
Kebahagiaan terpancar di wajah ayunya Bella, liburan kali ini membuatnya lebih bersemangat karena ada Amel diantara dirinya dan Hamzah. Apalagi Hamzah juga terlihat sayang kepada sosok Amel yang memang sangat menggemaskan.
"Kamu senang, sayang?" Hamzah menatap lekat wajah istrinya saat mereka sudah berada di dalam kamar hotel yang begitu nyaman.
"Iya, mas. Terimakasih banyak, sudah membahagiakan aku dengan Amel." Sahut Bella manja, memeluk tubuh suaminya dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung tegap sang suami.
"Aku senang melihatmu kembali ceria seperti ini, aku mencintaimu Bella, sangat." Sahut Hamzah yang sudah membalikkan badannya menghadap ke arah sang istri, saling mengunci dalam tatapan dalam. Dan keduanya sama sama larut oleh perasaan saling memiliki. Mereka menghabiskan malam dengan penuh cinta, berharap benih yang disiram ke dalam rahim sang istri membuahkan hasil.
Lima hari adalah waktu yang cukup untuk mereka saling melepaskan rindu dan kasih sayang, hari ini Hamzah dan Bella kembali pulang dengan berbagai macam oleh oleh. Hamzah tipe suami yang sangat loyal kepada istri istrinya, tidak pernah membedakan, hanya saja cintanya lebih condong pada diri Anniyah dan itu sebenarnya disadari oleh Bella, namun Bella berusaha untuk menepis rasa itu agar tidak semakin membuatnya terluka.
************************
Baru saja mereka akan memasuki halaman rumah, ponsel Hamzah berdering, ada panggilan masuk dari sang adik.
"Hallo, asalamualaikum, Ren. Ada apa?"
"Waalaikumsallm, mas. Mas Hamzah ada dimana?"
Balas Rena diujung sana dengan suara gugup.
"Ini baru saja sampai rumah, ada apa? Kenapa suaramu terdengar gugup begitu?" Sahut Hamzah yang langsung membuat Bella menghentikan langkahnya, menoleh ke arah suaminya yang tengah bicara dengan sang adik di telepon.
"Itu, mas. Mbak Anniyah jatuh, sekarang ada dirumah sakit Hasanuddin. Aku sama mama tengah nunggu kabar dari dokter." Rena membalas pertanyaan sang Kakak dengan suara bergetar.
"Apa, Astagfirullah, innalilahi. Aku akan segera kesana, tolong kabari aku kalau ada apa apa, Asalamualaikum." Balas Hamzah panik, terlihat jelas dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan istri mudanya.
"Ada apa, mas?" Sahut Bella penasaran karena melihat suaminya yang panik dan cemas.
"Anniyah jatuh, dan sekarang ada dirumah sakit. Kamu gak papakan aku tinggal, aku sangat khawatir terjadi apa apa dengannya, dia sedang hamil muda." Sahut Hamzah yang membuat Bella langsung membeku, sepanik itu suaminya kala mendengar kabar Anniyah terluka.
"Iya, mas. Pergilah, aku gak papa. Semoga tidak terjadi apa apa dengan Anniyah dan bayinya." Balas Bella dengan bibir bergetar, hatinya terasa diremas, begitu menyakitkan. Hamzah hanya mengangguk dan berlari masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Bella yang hanya bisa menatapnya tanpa tau harus bagaimana mengendalikan perasaannya.
"Sebesar itukah cintamu sama istri muda mu, mas? Sampai sampai kamu lupa, jika aku juga istrimu yang harus kamu jaga perasaannya." lirih Bella yang tak terasa sudah meneteskan air matanya. Sedangkan bi Titin yang sedari tadi menyaksikan adegan suami istri itu hanya bisa diam terpaku, menatap iba pada perempuan yang dulu begitu bar bar, namun kini sangat lemah dan terpuruk oleh cinta segitiga yang dia hadirkan sendiri dalam rumah tangganya.
"Mama, kenapa mama nangis?" Tiba tiba Amel sudah berada disamping Bella, memegang tangan mamanya dengan mendongakkan kepalanya menatap kesedihan sang mama.
"Eh sayangnya mama. Mama gak nangis kok, tadi kena debu, jadi kelilipan. Ayok masuk, kita istirahat dikamar, capek kan habis perjalanan jauh." Sambut Bella yang berusaha tersenyum menyembunyikan rasa perihnya di hadapan malaikat kecilnya.
"Papa pergi lagi ya, ma?" Sahut Amel dengan begitu polosnya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Papa masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Amel dirumah sama mama dan BI Titin ya." Sahut Bella lembut, mengajak putri kecilnya memasuki rumah dengan perasaan campur aduk.
"Mau dibuatkan minuman hangat, Bu?" Sambut Bi Titin yang mengerti akan kesedihan Bella.
"Iya, Bi. Tolong buatkan kopi kayak biasanya ya, antar ke kamar saja." Sahut Bella dengan senyuman tipis.
**************************
Sudah larut malam, Hamzah tak kunjung ada kabar, mengabarinya lewat pesan pun tidak. Seolah keberadaanya sudah tidak dianggap sama sekali bila itu sudah berurusan dengan Anniyah.
Bella hanya bisa menarik nafasnya dalam, keinginan untuk pergi kian kuat di dalam hatinya. Mengakhiri segalanya adalah keputusan yang tepat yang kini ada dipikirannya, tak sanggup lagi menahan rasa sakit akibat pengabaian. Terdengar egois memang, tapi itulah yang kini dia rasakan, semakin di tahan, sakitnya semakin dalam.
"Haruskah aku pergi, membawa rasa sakit ini agar tak semakin parah?
Aku bukanlah satu satunya wanita yang kamu cintai, mas. Bahkan cintamu lebih besar kepadanya, dan aku tersisihkan dan semakin merasa tidak nyaman. Tidak ada yang harus dipertahankan, karena diantara kita belum ada seorang anak yang harus kita pikirkan." Lirih Bella yang menatap kosong halaman luas rumahnya di gelapnya malam. Sedangkan Amel sudah tertidur pulas diranjang empuk miliknya.
"Kita bertemu dengan hati yang kecamuk dan berpisah jalan dengan dada yang lega. Mencintai terkadang bukan sekadar menyatukan dua rasa, melainkan juga sebagai masa belajar bahwa segala luka penyesalan bisa diobati.
Selalu terpikir jika akan tiba hari di mana segalanya berakhir; dan aku tidak tahu bagaimana caranya bertahan.
Satu-satunya yang berkelindan di kepala hanyalah keinginan untuk pergi.
Aku memilih mundur dalam cinta segitiga diantara aku, kau dan dia.
Biarlah takdir yang akan menghampiri akhir dari kisah ini harus seperti apa."
Bisik Bella di dalam hatinya, keinginan untuk pergi dan mengakhiri semakin kuat dalam dirinya. Dan mungkin inilah saatnya dia harus mengambil sikap dan keputusan untuk mengakhiri segala luka yang selama ini tercipta.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Sahabat Benalu
Novel on going :
#Anak yang tak dianggap
__ADS_1
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1