
Sudah empat hari aku dirawat di rumah sakit, Ayu selalu menemani dan merawatku dengan telaten. Meskipun kadang ada mbok Atun atau bi Titin yang menunggu, Ayu tetap tak mau beranjak dari kamar rawat ku, dia memilih tidur dan istirahat di sofa yang ada di ruangan ini.
Seperti hari ini, Bi Titin datang untuk menjagaku, mas Hamzah yang datang mengantarnya, lalu mas Hamzah pergi ke kantor.
"Gimana keadaan mbak Anniyah, sudah enakkan?" tanya bi Titin sambil meletakkan buah buahan di atas nakas.
"Alhamdulillah, Bi. Sudah enakkan kok. Semoga besok sudah boleh pulang, gak betah di infus kayak gini." sahutku sambil terkekeh.
"Alhamdulillah, mbak Anniyah juga sudah kelihatan seger lagi. Bibi bawain buah apel sama jambu kristal kesukaan mbak Anniyah, mau dimakan sekarang?" balas Bi Titin menatapku lembut.
"Nanti saja, bi. Tadi habis makan bubur, masih kenyang.
Ayu, sebaiknya kamu istirahat saja dulu, sudah ada bi Titin yang menemani, mbak." aku beralih menatap ke arah adikku yang terlihat sudah mengantuk, dan Ayu langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Mbak." Bi Titin memanggilku dengan suara lirih.
"Bapak gak pulang kerumah sudah empat hari ini.
Bu Bella marah marah setiap hari. Dan sepertinya, bapak sedang menghindari perdebatan dengan Bu Bella, telpon Bu Bella juga gak pernah bapak angkat." Cerita bi Titin dengan wajah seriusnya.
Akupun menatap pada bi Titin lekat.
"Kalau bapak gak pulang kerumah, kok bibi bisa diantar sama bapak?" tanyaku dengan wajah heran.
"Kan bibi nunggu di depan gang perumahan, mbak.
Bapak yang suruh bibi tunggu disana." sahut bi Titin tanpa ragu.
"Lalu, bagaimana bibi bisa keluar tanpa ijin sama mbak Bella?
Apa bibi gak takut dimarahi?" sahutku yang masih belum bisa mencerna ucapan dari Bi Titin.
"Kan, mbak Bella selalu pergi kalau siang, mbak.
Nanti malam baru kembali kerumah. Entahlah kenapa pak Hamzah betah punya istri modelan begitu." Bi Titin terlihat membuang nafasnya kasar.
"Aku gak mau ikut campur masalah mereka, bi.
Sekarang aku hanya ingin menjaga anak dalam kandunganku saja. Kalau memang aku dan mas Hamzah harus cerai, aku sudah iklas. Gak mau ribut dan gak mau makin sakit hati." sahutku yang tanpa sengaja mencurahkan isi hati ini.
"Mbak Anniyah yakin mau ninggalin pak Hamzah?
Kalau menurut bibi, mbak Anniyah lebih baik bertahan saja, ada anak mbak yang harus mbak perjuangkan. Apalagi, pak Hamzah memang gak seharusnya terus bersama dengan Bu Bella. Semoga kebenaran segera terungkap oleh mata dan kepala pak Hamzah sendiri." balas Bi Titin yang terlihat murung.
"Maksud bibi apa?
Kebenaran yang seperti apa yang bi Titin maksud?" Aku masih belum mengerti arah pembicaraan bi Titin, sepertinya Bi Titin memang tengah menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Sudahlah, mbak. Lupakan, nanti kalau sudah waktunya, mbak Anniyah juga pasti tau.
Bibi berharap mbak Anniyah tidak mengambil keputusan dengan terburu-buru, pikirkan baik baik.
Pak Hamzah itu laki laki baik dan bertanggung jawab, insyaallah mbak Anniyah akan bisa meraih hati pak Hamzah suatu hari nanti. Bibi percaya itu, karena sekarang saja bibi sudah melihat ada sesuatu di mata pak Hamzah untuk mbak Anniyah." Bi Titin bicara panjang lebar, tangannya mengusap lembut punggung tanganku.
"Entahlah, bi.
Aku masih bingung dan juga takut. Kehadiranku hanya membuat masalah semakin rumit." Lirihku dengan suara tercekat.
"Yang sabar, mbak Anniyah tidak bersalah kok.
Yang membawa mbak Anniyah masuk dalam kehidupan rumah tangga mereka ya Bu Bella sendiri, jadi semua bukan salah mbak Anniyah." Bi Titin tersenyum hangat saat mengatakannya, namun hatiku sudah terlanjur gundah akan apa yang terjadi saat ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hari ini dokter sudah mengijinkan aku pulang, tapi harus tetap istirahat total, karena kandunganku masih rawan, belum benar benar pulih.
Mas Hamzah terlihat sibuk mengurus administrasi dan menebus obatku di apotik.
Sedangkan Rena dan Ayu terlihat kompak membereskan semua barang barang ku yang ada di kamar rawat.
"Semua sudah beres, kita pulang sekarang.
Dek Anniyah lebih baik naik ke kursi roda saja, biar tidak capek." mas Hamzah mendorong kursi roda ke arahku, dan dengan lembut membantuku untuk duduk di atas kursi roda lalu mendorongnya keluar dari kamar.
Memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan simpati suami orang, menjijikkan." Tiba tiba mbak Bella sudah ada di hadapan kami dengan wajah sinisnya, dia sengaja berbicara dengan suara lantang agar di dengar para pengunjung di rumah sakit ini.
"Jangan bikin masalah kamu, Bella.
Ini rumah sakit, tahan ucapan kamu." Tekan mas Hamzah dengan suara terdengar kesal.
"Wow, sekarang suamiku terang terangan sudah membela gundiknya di hadapanku, istrinya.
Sungguh pasangan romantis. Enak ya, merebut suami orang, puas kamu?
Dasar perempuan murahan!" teriak mbak Bella masih dengan suara lantang, membuat beberapa orang yang berada tak jauh dari kami saling berbisik dan menatap sinis ke arahku. Bahkan suara suara menyakitkan mulai terlontar dari mulut beberapa ibu ibu.
"Cukup, mbak!
Jangan mempermalukan dirimu sendiri.
Sebelum aku bongkar kebusukan kamu di hadapan mas Hamzah dan semua orang yang ada disini, lebih baik mbak Bella diam dan pergilah dari hadapan kami." bentak Rena dengan wajah mengeras, terlihat mbak Bella salah tingkah dengan wajah pucat pasi nya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
__ADS_1
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
#Ayah aku juga anakmu
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1