
POV Hamzah
Entahlah, perasaan yang dulu menggebu untuk Bella, seolah kini berlalu menipis dan hampir saja hilang. Aku yang dulu tidak bisa menolak semua keinginannya, saat ini justru aku selalu membatasi semua sikap dan ruang geraknya.
Perselingkuhannya benar benar membuatku merasa tak dihargai, apalagi dia adalah laki laki muda yang jauh di bawahku.
Pantas saja, selama ini Bella begitu boros soal keuangan, ternyata dia yang mencukupi semua kebutuhan selingkuhannya, menjijikkan.
Aku mempertahankan pernikahanku dengannya bukan karena tanpa sebab, selain ingin memberikan efek jera juga balasan akan sakit hati ini. Aku ingin mengambil semua yang sudah diberikan Bella pada laki laki itu dengan menggunakan uangku. Tak tanggung tanggung, Bella sudah membelikan laki laki itu apartemen mewah dan juga mobil sport yang berharga tak murah. Aku tak rela, jika kerja kerasku dinikmati orang lain, apalagi oleh selingkuhan istriku.
Aku tau, Bella tengah berusaha untuk membuatku tetap berada dirumah bersamanya, dengan berpura pura jatuh. Dan apalagi dramanya yang memasang wajah sedih. Tapi aku tidak akan tertipu lagi, setelah memastikan dia baik baik saja, akupun kembali melanjutkan niatku untuk kerumah Anniyah, ingin mengantarnya pergi ke dokter memeriksakan kehamilannya. Meskipun terdengar suara Bella dan mamanya tengah marah marah padaku, entahlah, aku tak perduli sama sekali.
Melajukan mobil dengan kecepatan sedang, membayangkan wajah teduh Anniyah yang akan menyambut kedatanganku. Dia memang perempuan yang berbeda, berhati lembut dengan senyuman manis yang selalu terukir di wajah cantiknya.
Tak butuh waktu lama, dua puluh lima menit aku sudah sampai di halaman rumah yang dibelikan mama untuk istri keduaku, tak dipungkiri jika mamaku lebih menyayangi Anniyah dari pada Bella. Alasannya sudah tentu karena Bella memiliki sifat dan kepribadian yang mamaku tidak suka, apalagi pergaulan dan juga cara berpakaiannya, membuat mama semakin tidak menyukainya.
Sedangkan Anniyah, adalah tipe perempuan yang menjadi impian menantu idaman mama.
"Asalamualaikum." Mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah, dan terdengar suara Ayu, adik Anniyah yang menjawab salamku.
"Waalaikumsallm. Mas Hamzah." Sambutnya, sambil mencium punggung tangan ini takzim, gadis yang sudah memakai seragam sekolahnya itu nampak sumringah dan sudah terlihat lebih segar, Ayu berlahan sudah mulai membaik dan sehat.
"Mau berangkat sekolah, Yu?
Kakakmu mana?" Tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, namun tak kutemukan wajah teduh istriku.
"Mbak Anniyah ada di kamarnya, mas. Mungkin masih tiduran, tadi dia bilang kepalanya pusing." Balas Ayu.
"Kakakmu, sakit?"
"Mungkin efek dari hamil muda, mbak Anniyah lemes saja habis muntah muntah dan mengeluh pusing. Sekarang dibuat tiduran di kamarnya.
Ayu berangkat sekolah dulu ya mas, takut terlambat. Asalamualaikum." Sambung Ayu, lalu pergi dengan langkah tergesa karena takut telat sampai ke sekolah.
"Asalamualaikum, dek.
__ADS_1
Katanya Ayu, kamu sakit?" Setelah kepergian Ayu, aku langsung menemui Anniyah ke dalam kamar, benar saja, Anniyah terlihat meringkuk di atas kasur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Waalaikumsallm, mas.
Mas Hamzah gak ke kantor?
Kok ada disini?" Sahutnya dengan wajah yang nampak sedikit pucat. Matanya terlihat sayu, kelihatan kalau tengah menahan rasa sakit.
"Mas hari ini libur, sengaja ingin menemani kamu pergi ke dokter, mas mau tau perkembangan anak mas di dalam perutmu itu."
"Terimakasih, mas.
Aku tidak apa apa kok, mungkin efek hamil muda, jadi ya begini, bawaannya lemes dan masih suka muntah muntah." Sahutnya dengan tersenyum lembut, inilah salah satu yang aku suka darinya, tidak manja dan tidak suka memanfaatkan keadaannya, Anniyah perempuan tangguh yang selalu berusaha untuk bersikap tenang dalam segala kondisi. Jujur, aku sangat kagum dengan kepribadiannya.
"Kamu sudah sarapan?
Atau kamu lagi pingin makan apa?
Biar mas carikan." Berusaha bersikap lembut agar Anniyah semakin nyaman berada di dekatku, karena jujur saja, aku sangat bahagia dengan kehamilannya, sudah lama aku menanti kehadiran seorang anak di hidupku, dan sekarang sudah di penuhi oleh Anniyah, dan aku tidak akan pernah membiarkan dia merasa sendirian dalam merasakan dan menjalani saat saat sulitnya.
"Aku sudah makan kok, mas. Lagi pingin tiduran sebentar saja, karena kepala rasanya pusing banget. Kita ke dokternya agak siangan saja ya, gak papa kan, mas?"
"Iya mas, terimakasih." Sahutnya lirih, dan mulai memejamkan matanya, Anniyah semakin terlihat cantik saat dia tertidur, wajahnya begitu teduh. Pantas saja, jika perasaan ini mulai merasakan sesuatu yang lebih untuknya. Apalagi, selama menikah dengan Bella, aku sama sekali belum pernah merasakan diperlakukan selembut Anniyah dalam memperlakukan aku.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
#Anak yang tak dianggap
__ADS_1
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️