Tentang Luka Istri Kedua

Tentang Luka Istri Kedua
Bab 28


__ADS_3

"Tidak masalah kamu tidak suka apa lagi tidak setuju. Tinggal ajukan saja gugatan cerai, semua akan selesai." sahut Hamzah tenang, membuat Bella semakin meradang dengan tatapan tak percaya ke arah suaminya yang kini telah berubah sikapnya.


"Apa kamu sudah gila, mas?


Apa sudah tak ada cinta lagi di hatimu untukku?


Kesalahanku hanyalah sebuah kekeliruan dan ketidaksengajaan. Harusnya kamu menyadari kenapa aku melakukan semua itu, karena aku sangat takut kehilanganmu, aku sangat mencintaimu." Lirih Bella yang menggunakan triknya dengan cara memelas tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kesalahan yang sudah dia buat seolah tak masalah dan tak berarti.


"Tidak usah pura pura memelas di hadapanku.


Aku sudah mulai mengerti bagaimana kamu dalam menjalani rumah tangga ini. Bukan cinta yang ada di dalam hatimu, tapi ambisi. Perbaiki sikapmu, kalau kamu masih ingin mempertahankan pernikahan kita." Sahut Hamzah tegas, tanpa mau menatap ke arah istrinya. Kecewa dan amarah sudah menutup perasaan kasihnya yang besar.


"Dan satu lagi, mulai bulan depan, aku akan tarik kartu kredit yang kamu pegang. Dan kamu akan hanya dapat jatah bulanan sebesar lima belas juta saja. Urusan kebutuhan dapur dan rumah sudah jadi urusanku. Kamu gak usaha khawatir." Sambung Hamzah yang membuat Bella langsung melotot tak percaya.


"Apa mas?


Keterlaluan kamu, aku ini istrimu loh, aku punya hak dengan harta yang kamu punya. Jangan seenaknya dalam mengambil keputusan. Aku tak terima kamu perlakuan seperti ini." Teriak Bella dengan dada naik turun sangking kesalnya.


"Lima belas juta bukan jumlah yang sedikit, Bella.


Harusnya kamu bersyukur, lagian kita juga belum punya momongan. Kecuali kalau kamu hamil dan punya anak. Aku akan memberikan jatah bulanan yang lebih besar. Semua tergantung dari keputusan kamu juga." Sahut Hamzah santai, bahkan sedikitpun tidak terusik dengan amarah Bella.


"Apa yang sudah dilakukan Anniyah padamu, mas?


Sampai kamu bersikap seperti ini padaku?


Katakan, apa yang sudah Anniyah berikan padamu, hah?" Teriak Bella dengan wajah memerah, kedua tangannya mengepal erat sangking emosinya.


"Anniyah bahkan tidak melakukan apapun.


Dia tidak tau apa apa soal masalah kita.


Jadi, jangan bawa bawa dia dalam masalah ini.


Harusnya kamu ingat, Bella.


Kalau aku sudah menjadi diriku sendiri, tidak lagi Hamzah yang selama ini bisa kamu kendalikan dengan bantuan dari dukunmu itu.


Jadi, berhentilah menyalahkan orang lain." Balas Hamzah dengan tatapan tajam, membuat Bella seketika bungkam.


"Sekarang terserah kamu, keputusan ada pada dirimu sendiri.


Jika kamu masih ingin bertahan, maka kamu harus menerima semua keputusan yang sudah aku ambil. Dan rubah semua kebiasaan kamu. Jadilah istri yang baik untuk suamimu ini." Sambung Hamzah yang langsung beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Bella dalam sakit hatinya.


"Seharusnya kamu menyadari kesalahan kamu, Bella. Tapi justru kamu terlihat begitu egois dan jahat, dengan menyalahkan orang lain demi menutupi kesalahan kamu itu. Maafkan aku kalau sudah bersikap sekeras ini. Semoga dengan cara ini kamu bisa berubah jadi lebih baik." Gumam Hamzah di dalam hatinya sambil menuruni setiap anak tangga, menuju ke dalam kamar utama miliknya yang selama ini ditempati bersama Bella.


"Aaaarrrghhh.....


Kurang ajar!

__ADS_1


Sialan! Awas saja kamu Anniyah, aku akan buat hidupmu menderita karena sudah berani mengusikku." teriak Bella yang masih saja menganggap Anniyah penyebab kemarahan Hamzah. Padahal kesalahan yang sudah dibuatnya terlalu banyak dan sulit termaafkan.


"Ada apa kamu teriak begitu sih, bel?


Hamzah dimana, kalian berantem?" tiba tiba Bu Lasmi sudah ada dibelakang Bella dengan raut bingung melihat anaknya yang kacau.


"Mas Hamzah sudah keterlaluan, Bu.


Dia mulai berani menyudutkan aku dan sudah mengambil keputusan yang membuatku rugi." sahut Bella yang terduduk lesu.


"Maksudnya?" tanya Bu Lasmi dengan wajah mengerut.


"Dia akan melanjutkan pernikahannya dengan Anniyah. Dan jatah bulananku juga dipangkasnya, bahkan kartu kredit juga akan dia tarik. Mas Hamzah benar benar ingin memiskinkan aku.


Aku tak terima diperlakukan begini. Anniyah harus membayar mahal semua ini. Gara gara dia rencanaku berantakan." geram Bella dengan wajah mengeras.


"Kurang ajar sekali suami kamu itu.


Ibu harus bertindak, agar dia tidak melakukan sesuatu yang melebihi batasannya." Geram Bu Lasmi yang ikut kesal mendengar penuturan anak perempuannya.


"Apa yang akan ibu lakukan?" sahut Bella yang menatap penuh selidik ke arah ibunya.


"Kamu lihat saja sendiri, Hamzah harus mempertanggung jawabkan keputusannya pada ibu sekarang juga." balas Bu Lasmi yang langsung memutar tubuhnya dan melangkah menuruni tangga mencari keberadaan menantunya. Sedangkan Bella tersenyum miring melihat apa yang akan dilakukan ibunya.


"Aku yakin, ibu pasti bisa mengatasinya.


Sedangkan Bu Lasmi sudah berada di depan pintu kamarnya Hamzah, mengetuknya kencang tanpa punya sopan santun.


"Hamzah, ibu mau bicara!" teriak Bu Lasmi dengan nada tinggi. Hamzah yang sudah tau maksud mertuanya, memilih acuh dan merebahkan tubuhnya di atas kasur super empuk miliknya.


Tak ingin ambil pusing dan berdebat dengan sang mertua, Hamzah memilih tidur dengan tenang, karena pintu sudah dikuncinya dari dalam. Sekalian memberikan pelajaran pada Bella jika dirinya benar benar marah.


"Kenapa ibu masih disitu, mas Hamzah tidak mau buka pintunya?" tanya Bella yang barusan turun dan melihat ibunya masih mengetuk pintu kamarnya dan memanggil manggil suaminya.


"Coba kamu buka pintunya, suamimu tidak mau buka pintu buat ibu, tidak menghargai mertua sedikitpun. Awas saja nanti." sungut Bu Lasmi yang sudah memerah wajahnya.


Bella langsung mendekat dan mencoba membuka pintu tapi sudah terkunci.


"Mas, mas Hamzah!


Bukain pintunya dong, aku mau masuk.


Mas!" teriak Bella sambil menggedor-gedor pintu kamarnya. Namun Hamzah sama sekali tak perduli dan malah memejamkan matanya.


Sedangkan diluar nampak Bella dan Bu Lasmi sudah kebakaran, marah tapi tak bisa berbuat apa apa.


Sedangkan dibalik tembok pembatas dapur, Bi Titin tersenyum senang melihat drama yang ada, baru pertama kali Hamzah berani melawan istrinya, dan itu berita baik bagi Bi Titin untuk disampaikan kepada sang nyonya besar.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Fitnah mereka


Novel on going :


#Ayah aku juga anakmu


#Tentang luka istri kedua


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


#Ganti istri [Tamat]


#Wanita sebatang kara [Tempat]


#Ternyata aku yang kedua [Tamat]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2