
Saat terbangun, kepalaku tiba tiba terasa berat. Entah apa yang terjadi, kenapa aku bisa tidur bersama Bella dan bahkan aku sudah bertelanjang dada, dingin suhu dari AC membuatku semakin meriang. Bella nampak sudah tertidur pulas. Mataku menyorot angka pada jam dinding yang kini menunjukkan angka dua pagi.
Dengan menahan rasa sakit di kepala, aku mencari baju di kemari milikku, tubuhku rasanya kedinginan. Setelah mengenakan kaos, aku duduk sebentar di sofa yang ada di dalam kamar, mencoba mengingat apa yang terjadi, sehingga aku bisa di kamar ini dalam keadaan tak sadar.
Apakah Bella sudah memberikan obat tidur ke dalam minumanku. Aaargh, ada ada saja perempuan itu, sebenarnya apa yang dia inginkan?
Semakin aku memikirkan ulah Bella, kepalaku rasanya semakin pusing, lebih baik aku melaksanakan sholat isya yang tadi belum dikerjakan, dan diteruskan dengan sholat sunah tahajud. Semoga pikiran dan tubuhku kembali fresh lagi.
Aku menghabiskan waktu di sepertiga malam dengan mengaji hingga terdengar adzan subuh, lalu diteruskan dengan sholat subuh. Benar saja, pusing yang tadi begitu menyiksa langsung hilang entah kemana.
Melangkahkan kaki menuju ke dapur, berniat untuk membuat secangkir kopi. Ternyata sudah ada bi Titin yang terlihat tengah memasak.
"Bi, lagi ngapain?" Ucapku basa basi.
"Pak Hamzah, sudah bangun pak?
Ini, bibi lagi mau masak buat sarapan. Mau dibuatkan kopi, pak?" Balasnya sopan, tapi matanya seolah tengah mencari sesuatu pada diri ini, mungkin bi Titin heran, kenapa aku sudah bangun sepagi ini, karena semenjak menikah dan tinggal dirumah ini, ini untuk pertama kalinya aku bangun sepagi ini, dan sudah bersih juga wangi.
"Iya, Bi. Tolong buatkan kopi seperti biasanya." sahutku yang kini sudah duduk di salah satu kursi meja makan.
"Semalam kenapa aku langsung merasa ngantuk berat ya, bi?
Yang bikin kopi Bu Titin apa Bella?" Tanyaku penasaran, karena kalau yang menyiapkan kopi bi Titin, tidak mungkin dia berani macam macam. Pasti ini perbuatan Bella atau ibunya.
"Oh, yang bikin kopi pak Hamzah semalam Bu Lasmi, beliau yang memintanya dan menyuruh bibi beli minyak goreng di toko depan gang." Sahut bi Titin gamblang. Dan terjawab sudah rasa curiga ini, pasti ibu mencampur sesuatu di dalam kopiku.
"Iya, bik." Sahutku biasa saja, entah apa yang mertua rencanakan.
Rencananya, aku hari ini libur ke kantor, ingin menemani Anniyah periksa kehamilannya, tapi sebelum itu aku akan bicara dulu dengan Bella.
"Mas, sudah bangun?
Kenapa gak bangunin aku juga tadi?
Kan kita bisa sholat berjamaah, aku mau belajar jadi istri yang taat sama suami dan mulai belajar agama lagi, agar tidak semakin salah langkah." Tiba tiba Bella sudah ada disampingku dengan rambut basahnya, cantik dan seksi, sejak dulu Bella memang wanita yang sempurna dalam fisiknya.
"Alhamdulillah, semoga kamu benar benar mau berubah, dan kita akan memperbaiki hubungan yang sempat renggang." Sahutku yang jujur masih menyimpan keraguan, namun memberi kesempatan orang mau bertaubat adalah keharusan. Semoga saja Bella benar benar mau merubah kebiasaannya.
"Insyaallah, mas. Sungguh aku menyesal, dan takut kehilanganmu. Jangan bersikap acuh lagi padaku, karena aku gak pernah sanggup jauh dari kamu, mas." Lirih Bella yang tangannya sudah melingkar di leher, bau wangi shampo membuatku terangsang. Karena aku masih laki laki normal, jadi wajar. Kelemahan laki laki salah satunya adalah pesona wanita.
"Duduklah, aku ingin bicara."
__ADS_1
"Apa ada yang penting, mas?"
"Iya, karena ini demi kenyamanan diantara kita.
Apa kamu serius mau berbenah diri?" Aku menatap lekat manik biru milik istri pertamaku, dia wanita yang memang sangat suka berdandan, softlens di matanya tiap hari ganti ganti.
"Maksudnya?" tanyanya dengan mengerutkan wajahnya.
"Apa kamu sudah siap untuk berbenah sesuai apa yang aku harapkan?
Salah satunya dengan memakai hijab saat diluar rumah?"
"Iya, mas. Tapi aku tidak punya satupun baju buat memakai hijab, kan mas tau sendiri, kalau aku selama ini selalu memakai baju baju seksi." Sahutnya dengan wajah yang dibuat manja.
"Tidak masalah, kita bisa membelinya. Kamu tetap bisa memakai baju baju seksimu saat di dalam rumah saja. Dan yang boleh berkeliaran masuk ke dalam rumah hanyalah bi Titin saja, pak Rahmat dan Bondan cukup di area halaman. Untuk makanan, minuman dan cemilan mereka biar bi Titin yang menyiapkan. Aku tidak mau, istriku tubuhnya di lihat laki laki lain selain aku. Paham?"
"Iya, mas. Paham.
Terimakasih ya, kamu sudah begitu menjagaku."
"Dan satu lagi, belajarlah menerima Anniyah. Karena aku sudah membuang surat perjanjian itu. Dia akan tetap jadi istriku, tapi kamu tetap yang pertama untukku. Lepas KB kamu, aku ingin punya anak juga darimu." Sambungku yang membuat Bella langsung melotot dengan mulut menganga.
"Tapi, mas. Bukannya aku sudah menuruti semua keinginan mas?
Kenapa Anniyah masih harus tetap ada diantara kita, ini gak adil untukku." Cicitnya dengan mata yang menatapku tajam.
"Kamu masih punya kesalahan yang tidak mudah aku terima, Bella. Apa kamu tidak menyadari kesalahan kamu itu?" Tanyaku yang tak mau kalah menatap dirinya tajam.
"Aku sudah minta maaf, dan sudah mengakui semuanya. Bahkan aku rela berubah demi membuatmu senang, mas. Lalu, kesalahan mana lagi yang harus aku akui?"
"Laki laki muda itu, tinggalkan dia. Atau aku akan melepaskan kamu agar bisa dengan laki laki simpanan kamu itu. Jangan pikir aku ini bodoh, Bella. Aku tau semuanya." Sambungku dengan senyuman miring yang membuatnya langsung salah tingkah dan pucat pasi. Dia pikir, aku terlalu lemah untuk mengetahui kecurangannya itu, sejak aku terbangun dari kebodohan ku, aku langsung menyuruh orang untuk mencari informasi tentang kehidupan Bella diluar, dan ternyata apa yang dikatakan adikku benar adanya. Sungguh keterlaluan, jujur aku sangat benci perempuan itu, tapi aku masih berusaha untuk menahan amarah ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
__ADS_1
#Anak yang tak dianggap
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1