
"Aku ada dimana, Bi?" Saat aku membuka mata, pertama kali orang yang aku lihat adalah bi Titin. Wanita paruh baya itu terlihat sembab wajahnya.
"Mbak Anniyah ada di rumah sakit, mbak.
Gimana, apa yang mbak Anniyah rasakan?" sahut bibi yang menggenggam jemari ini erat. Air matanya berjatuhan.
"Maafin bibi, ya mbak.
Gara gara bibi tinggal telpon mbak Rena, bibi gak tau kalau bu Bella nekat nyakiti mbak Anniyah." sahut bibi dengan suara bergetar, air matanya semakin deras mengalir.
"Bukan salah bibi, semua sudah takdir Anniyah, Bi." sahutku sambil menghibur diri, dan meraba perut yang terasa sedikit nyeri.
"Bi, bagaimana dengan kandunganku?" aku menatap wajah bi Titin dengan perasaan tak menentu, takut jawaban yang diberikannya nanti membuat hatiku kian berdenyut nyeri. Semoga bayiku masih terselamatkan.
"Alhamdulillah, mbak.
Bayi mbak Anniyah baik baik saja, karena saat mbak jatuh, bertepatan dengan kedatangan mbak Rena. Mbak Rena langsung meminta pak Karmin untuk mengangkat mbak Anniyah dan di bawa kerumah sakit." Bi Titin nampak merasa bersalah, air matanya masih saja berjatuhan.
"Alhamdulillah, bibi gak usah sedih lagi. Aku juga sudah baik baik saja. Mungkin butuh waktu untuk penyembuhan saja." balasku yang berusaha menenangkan kecemasan bi Titin. Bagaimanapun ini bukan salahnya.
"Pak Hamzah marah besar, mbak.
Bu Bella sampai di pukul nya, dan mereka bertengkar hebat, pak Hamzah membawa barang barang mbak Anniyah kerumah baru yang diberikan nyonya." Sambung bi Titin dengan sorot mata sendu.
"Aku takut, bi.
Ini akan berbuntut panjang dan lebih memanas lagi. Mbak Bella sangat membenciku, padahal dia sendiri yang membawaku masuk dalam kehidupannya bersama mas Hamzah. Aku sepertinya tidak bisa lagi meneruskan semua ini, Bi.
Tapi aku juga tidak punya uang untuk mengembalikan apa yang sudah diberikan sebagai tanda perjanjian. Aku bingung, bi." Air mataku lolos begitu saja, rasa sakit dan sesak kini bercampur jadi satu, seandainya aku bisa mengganti uang biaya operasi Ayu, mungkin aku tidak segundah ini.
"Yang sabar, mbak.
Semua bukan kesalahan mbak Anniyah.
Bu Bella dari dulu memang orangnya kasar dan keras kepala. Lambat laun, pak Hamzah pasti akan terbuka pikiran dan hatinya untuk memilah mana yang baik dan bukan. Sekarang pikirkan kesehatan mbak Anniyah dan bayi di kandungan mbak Anniyah saja." Balas Bi Titin dengan seuntai senyum tipis di bibirnya.
"Mbak, mbak gak papa?" Ayu yang baru saja datang, tiba tiba berlari dan langsung memelukku, Isak tangisnya membuat hati ini semakin perih. Adikku terlihat sangat cemas dan khawatir dengan keadaanku.
"Gak usah nangis ah, mbak gak papa kok.
Mbak cuma butuh istirahat saja." sahutku yang berusaha terlihat baik baik saja, nampak mas Hamzah sudah berdiri tak jauh dari tempatku berbaring dengan tatapan sendu.
"Kamu gimana, sudah sehat kan?" Rasanya lega, melihat Ayu sudah berangsur pulih, dan wajahnya sudah tidak pucat lagi. Semoga dia segera sehat dan bisa beraktivitas seperti orang pada umumnya. Aku sangat menyayangi adikku satu satunya itu, meskipun kita hidup kekurangan, Ayu sama sekali tidak pernah mengeluh. Justru dia selalu berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
"Alhamdulillah, mbak.
Aku sudah lebih baik.
Mas Hamzah sudah memindahkan semua baju bajuku kerumahnya mbak yang baru. Ayu janji, akan menjaga mbak setelah ini." sahut adikku dengan wajah berbinar, meskipun dimatanya masih ada sisa sisa air mata.
Aku mengalihkan pandangan ke arah mas Hamzah, menatapnya lekat untuk meminta penjelasan dan sepertinya laki laki yang masih sah jadi suamiku itu mengerti maksud dari tatapanku.
"Setelah kamu di perbolehkan pulang dari rumah sakit, lebih baik dek Anniyah langsung menepati rumah yang sudah disiapkan oleh mama dengan ditemani Ayu. Kalian bisa saling menjaga dan sudah sepantasnya tinggal satu rumah.
Dan mama juga sudah meminta mbok Atun untuk ikut merawat dan menjagamu." mas Hamzah membalas tatapanku dalam, wajahnya nampak datar, namun ada luka di kedua bola matanya yang teduh.
__ADS_1
"Tapi, mas. Aku..." belum selesai aku menyelesaikan kalimatku, mas Hamzah sudah memotongnya dengan tegas.
"Tidak usah takut dan mengkhawatirkan soal Bella, dia tidak bakal berani menemui kamu dirumah itu. Aku bisa menjamin keselamatan kamu dan anak kita. Sekarang, lebih baik kamu fokus pada kesehatan kamu saja, dokter meminta agar kamu untuk tidak mengerjakan apapun, karena saat ini kandungan kamu dalam kondisi lemah." Mas Hamzah menjelaskan tanpa aku memintanya. Kalimatnya tegas dan terdengar tak ingin di bantah.
"Baik, mas. Terimakasih." sahutku pasrah pada akhirnya. Lagian tubuh ini juga masih terasa sakit dan lemah. Semoga, mbak Bella tidak semakin menggila setelah ini, jujur aku jadi takut dan kepikiran akan sikapnya yang mengerikan itu.
"Sudah ada Ayu, kamu di temani Ayu dulu disini.
Aku akan mengantar bi Titin pulang, agar bisa istirahat. Dan sebentar lagi, Rena juga akan kesini setelah pulang dari kampus. Kalau butuh apa apa hubungi langsung ke nomorku.
Ayo, bi. Bi Titin harus istirahat dulu." Kembali mas Hamzah mengeluarkan suaranya, dia pergi bersama bi Titin dengan seuntai senyum tipis. Aku hanya bisa menatapnya getir. Tapi setidaknya kini aku sudah bisa bersama Ayu, adik kesayanganku.
"Mbak, maafin ayu ya.
Gara gara Ayu, mbak jadi bernasib seperti ini." Adikku itu terlihat menunduk dalam, kedua tangannya saling meremas, menunjukkan kalau dia sedang tidak baik baik saja, rasa bersalah membuatnya merasa sedih.
"Ini bukan salah kamu, Yu.
Sudah kewajiban, mbak, menyelamatkan adik mbak dari rasa sakit. Ini sudah jadi salah satu jalan takdir yang harus mbak lalui. Melihatmu sehat begini, mbak merasa senang dan lega." sahut ku dengan menatapnya hangat. Ayu nampak mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air matanya.
"Jangan nangis lagi. Insyaallah kita bisa melewati ujian ini sama sama. Kamu harus janji sama mbak, ya?
Setelah kamu sehat, kamu harus kuliah dengan sungguh sungguh, mbak ingin melihatmu jadi orang sukses. Tabungan mbak sudah banyak dari gaji menulis, insyaallah cukup untuk biaya kuliah kamu."
"Mbak." Ayu berhambur memeluk tubuhku, bahunya terguncang, dia nangis hingga tersedu.
"Ayu janji tidak akan ngecewain kamu, mbak.
Terimakasih sudah menyayangi dan menjaga Ayu sampai di titik ini. Doa ayu akan terus mengalir untuk kebahagiaan mbak Anniyah, Ayu sayang sama, mbak." suaranya terdengar bergetar, adikku itu memang berhati lembut dan mudah nelangsa. Dia mewarisi sifat ibu yang welas asih pada siapapun.
"Mbak, aku datang.
Ada ayu juga ternyata. Maaf ya, baru bisa jenguk mbak lagi, soalnya di kampus lagi banyak tugas.
Ini aku bawain cemilan dan buah buahan." cerocos Rena yang membuatku tersenyum geli. Dia memiliki sifat yang berbeda dengan kakaknya, mas Hamzah lebih pendiam dan tak suka banyak bicara, sedangkan Rena selalu terlihat ceria dan suka bicara.
"Iya, gak papa. Terimakasih ya.
Kamu dari kampus, Ren?"
"Iya, mbak. Aku baru pulang dari kampus.
Owh iya, kenalin ini temanku, Aldi namanya." Rena memperkenalkan laki laki tampan yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
Aldi mengeluarkan tangannya kepadaku dan Ayu bergantian. Dia juga melihat sopan dan pemalu.
Berbanding terbalik dengan Rena yang cerewet, kalau mereka benar pacaran, pasti Aldi kewalahan menghadapi sikap Rena. Duh jadi geli sendiri membayangkan gaya pacaran mereka.
"Mbak Anniyah kenapa senyum senyum gitu ngelihatin kami?
Pasti lagi mikirin yang aneh aneh kan, tentang aku sama Aldi?
Hayo ngaku kamu mbak." Nah kan benar, Rena memang cerewet dan ceplas ceplos, tapi aku suka dengan sikapnya itu.
"Enggak kok, cuma mikirin saja, kalau kalian itu pasangan serasi, satu cantik, satunya tampan." elak ku yang membuat Rena memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Aku seneng deh, mbak.
Waktu mbak Anniyah jatuh gara gara Mak lampir itu, Mas Hamzah bisa bersikap tegas dan memberi pelajaran sama dia. Biasanya mas Hamzah akan selalu memaklumi semua kesalahan wanita culas itu." Aku dan Ayu saling berpandangan mendengar ucapan Rena yang menyebut mbak Bella dengan sebutan Mak lampir, ya ampun ada ada saja tuh anak. Kalau sampai mbak Bella dengar pasti panjang urusannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
#Ayah aku juga anakmu
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1