Tentang Luka Istri Kedua

Tentang Luka Istri Kedua
bab 22


__ADS_3

"Sama sama, tolong bantu mas ya, agar bisa adil sama kamu juga Bella.


Maafin Bella kalau sudah menyakitimu selama ini." lirihnya yang berubah sendu, mungkin mas Hamzah teringat dengan istrinya yang begitu dia cintai selama ini. Entah kenapa hatiku mendadak perih, aku tau, aku tak berhak cemburu pada mbak Bella, tapi entah kenapa selalu saja hati ini merasa perih, setiap kali mas Hamzah berbicara tentang istri pertamanya.


"Iya, mas." sahutku singkat dengan senyuman terukir di bibir ini. Aku harus bisa menekan perasaan cemburu yang tak seharusnya ada. Karena bagaimanapun, mbak Bella lebih berhak atas diri mas Hamzah, dan aku harus cukup tau diri.


Seharian mas Hamzah hanya menatap layar laptopnya dengan wajah terlihat murung.


Mungkin tengah memikirkan masalah yang menimpa hubungan kami bertiga.


Haruskah aku menyerah, agar tak membebani siapapun.


Sedangkan mama dan Rena sudah pergi sejak pagi setelah selesai sarapan.


"Mas, mau dibuatin kopi?" Aku memberanikan diri untuk menawarkan sesuatu pada mas Hamzah. Melihatnya tertekan aku merasa tidak tega.


"Boleh, gulanya sedikit saja ya." sahutnya sambil mengukir senyum tipis di bibirnya.


Akupun langsung menuju ke arah dapur dan membuatkan kopi sesuai keinginan mas Hamzah. Melihat ada pisang, aku berinisiatif untuk membuat pisang goreng agar menjadi teman ngopinya.


Saat tangan ini sibuk mengaduk tepung, Ayu datang dan menggantikan aktivitasku.


"Mbak, mau bikin apa?"


"Pisang goreng, buat teman ngopinya mas Hamzah." sahutku dengan melihat ke arah adikku yang sudah kelihatan segar.


"Biar Ayu yang goreng pisangnya.


Mbak Anniyah ke depan saja temani mas Hamzah." sahutnya dan dengan cekatan Ayu langsung mengambil alih pekerjaan ku.


Akupun menurut dan membawa kopi pada mas Hamzah yang masih terlihat termenung.


"Mas. Ini kopinya." Meletakkan secangkir kopi di hadapan mas Hamzah.


"Makasih, dek.


Kamu kalau masih pusing, istirahat saja." balasnya yang kini mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Aku sudah gak papa kok, mas.


Insyaallah sudah baik baik saja." sahutku yang tak berani menatap balik sorot matanya yang tajam.


"Alhamdulillah.


Dek, apa kamu mau ngajarin mas ngaji?


Entah kenapa, rasanya berat sekali.


Padahal dulu, mas itu hampir gak pernah absen ngaji." Lirihnya dengan wajah yang tak biasa.


"Kok bisa, mas?


Apa mungkin mas Hamzah terlalu capek, sehingga mau ngaji jadi gak bersemangat?"


"Gak tau, mungkin saja begitu.


Tapi, setelah aku tinggal disini beberapa hari dan selalu mendengar dek Anniyah ngaji, rasanya perasaan rindu ingin ngaji terus mengusikku."


"Alhamdulillah, insyaallah mas.

__ADS_1


Nanti kita akan sama sama ngaji.


Dan sholat berjamaah ya.


Dan saran Anniyah sih, mas Hamzah lebih baik melakukan ruqyah, barangkali ada sesuatu yang salah dalam diri mas." Balasku hati hati, takut jika menyinggung perasaannya.


"Iya, nanti mas akan minta ustadz Karim untuk ruqyah mas."


"Iya, mas.


Kalau bisa secepatnya. Biar tubuh mas Hamzah juga segera bersih dari sesuatu yang buruk. Insyaallah."


"Kalau begitu, mas akan hubungi ustadz Karim.


Semoga saja beliau tidak sibuk."


"Iya, mas.


Bismillah." Mas Hamzah terlihat mengotak atik ponselnya dan menghubungi seseorang, sepertinya beliau adalah ustadz yang tadi di bicarakan mas Hamzah.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Ternyata ini kelakuan mereka.


Sungguh menjijikkan. Ibu dan anak sama sama rakusnya." geram nyonya setelah mendengarkan rekaman suara perbincangan Bu Bella dengan ibunya.


"Terimakasih, Bi.


Bi Titin sudah memberikan bukti bukti ini. Akan aku bawa semua benda ini ke ustadz Karim. Semoga setelah ini, Hamzah kembali menjadi dirinya yang dulu." Lirih nyonya dengan menarik nafasnya dalam, terlihat sekali wajah kecewa dan sedih dengan penemuan benda benda magic di kamarnya pak Hamzah.


"Njih, nyonya.


"Bi Titin sebaiknya pulang, biar dipesankan taksi sama Rena. Dan ini ada sedikit uang buat tambahan dikirim ke kampung buat biaya sekolah anak anaknya bi Titin." Seperti biasanya, nyonya selalu saja memberikan bonus setiap kali meminta bantuan, rasanya sungkan, karena nyonya sudah terlalu banyak membantu biaya pendidikan anak anak di kampung. Bahkan anak pertamaku bisa sampai sekolah hingga jadi sarjana, dan sekarang sudah bekerja di salah satu perusahaan di pulau Kalimantan.


"Tapi, nya. Insyaallah saya itu iklas membantu nyonya dan pak Hamzah. Nyonya sudah terlalu baik pada saya dan anak anak. Saya tidak bisa menerima ini." Kembali aku menyodorkan amplop warna putih yang sedikit tebal itu ke tangan nyonya.


"Terima saja, bi.


Anggap itu rejeki buat anak anak bi Titin.


Lagian, saya itu senang bantu biaya sekolah mereka. Anak bi Titin itu cerdas dan juga semangat belajarnya. Sudah, jangan di tolak. Terima saja."


"Alhamdulillah, terimakasih, nyonya."


"Iya, sama sama.


Dan bi Titin juga harus bisa bersikap biasa saja di hadapan Bella dan ibunya seolah bibi gak tau apa apa. Bisa kamu bi?"


"Siap, nyonya.


Bibi tidak akan membocorkan pada siapapun dan pasti akan terus di pihak nyonya.


Nanti akan bibi kirimkan bukti bukti selanjutnya.


Nyonya tenang saja.


Yang penting, pak Hamzah segera sadar dan menjadi dirinya sendiri lagi."


"Aamiin, terimakasih ya, bi."

__ADS_1


"Sama sama nyonya, kalau begitu bibi pergi dulu.


Itu taksinya sudah nunggu.


Mari mbak Rena. Asalamualaikum." Akupun pergi meninggalkan nyonya dan mbak Rena untuk kembali kerumahnya pak Hamzah, sebelum Bu Lasmi berulah dan curiga.


Rasanya lega, setelah memberikan semua bukti kejahatan Bu Bella selama ini. Niatnya menikah dengan pak Hamzah tidak tulus, hanya inginkan hartanya saja dan bahkan tega berbuat hal sehina itu. Semoga semua segera kembali baik baik saja dan Bu Bella menyadari kesalahannya dan mau berubah.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Fitnah mereka


Novel on going :


#Ayah aku juga anakmu


#Tentang luka istri kedua


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


#Ganti istri [Tamat]


#Wanita sebatang kara [Tempat]


#Ternyata aku yang kedua [Tamat]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2