
Rumah kembali sepi setelah kepergian mas Hamzah. Mbok Atun juga belum kembali dari pasar, aku berniat kembali melanjutkan membaca buku, namun suara dering ponsel langsung mengusik konsentrasi ku membaca. Nama mbak Bella terpampang di layar ponsel, pikiran dan perasaan cemas langsung membuatku tegang.
Dering itu berhenti, namun hanya sesaat saja, mbak Bella kembali menghubungi lagi, meskipun ragu aku coba mengangkat telepon darinya.
"Hallo, Asalamualaikum, mbak." Sapaku ramah meskipun hatiku tengah bergejolak oleh rasa cemas dan takut.
"Waalaikumsallm, Anniyah, aku sudah ada di depan rumah kamu, tolong minta penjagamu untuk membuka pagarnya. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Deg, perasaan ini semakin tak karuan, aku berada dalam kondisi serba salah, jika aku perbolehkan mbak Bella masuk, aku takut dia akan berbuat jahat padaku lagi dan bisa membahayakan janin dalam perutku, dan aku juga akan melanggar perintah mama mertua yang tidak mengijinkan mbak Bella datang kerumah ini.
Tapi, jika aku menolak kedatangan mbak Bella, sama saja aku sudah bersikap tidak baik dan tak menghargainya.
"Anniyah, kamu masih ada disana kan?
Tolong buka pagarnya, kita harus bicara.
Kamu tidak usah khawatir, aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi. Aku ingin kita bicara sebagai sesama perempuan, itu saja." Suara mbak Bella menyadarkan aku dari lamunan, jika benar apa yang diucapkan, itu sungguh sesuatu yang mengejutkan, aku tidak boleh egois, bagaimanapun mbak Bella yang sudah membawaku masuk dalam keluarga ini.
"Iya, mbak.
Tunggu sebentar." Akupun secepatnya langsung keluar, menemui pak Ahmad yang hari ini giliran jaga di pos depan.
"Pak, tolong buka pagarnya. Diluar ada mbak Bella, biarkan dia masuk." Nampak pak Ahmad menatapku penuh selidik.
"Loh, mbak.
Kok di kasih ijin masuk, nanti kalau nyonya tau pasti saya yang kena marah." Sahut pak Ahmad yang nampak ragu dan cemas.
"Bukain saja, pak.
Nanti saya yang akan tanggung jawab kalau mama marah. Insyaallah, gak akan terjadi apa apa kok. Lagian, mbak Bella juga istrinya mas Hamzah." sahutku yang berusaha memberi pengertian pada salah satu orang kepercayaan mama mertua.
"Mbak Anniyah yakin kalau Bu Bella gak akan berbuat jahat lagi sama, mbak?
Saya takut saja, nanti kalau terjadi sesuatu sama mbak Anniyah, saya yang akan disalahkan sama nyonya dan pak Hamzah." Pak Ahmad masih kekeuh sama keputusannya.
"Insyaallah gak akan pernah terjadi apa apa, pak.
Bukain saja pagarnya, gak boleh suudzon, dosa loh. Kalau nanti terjadi sesuatu, pasti saya teriak panggil bapak. Sudah, insyaallah gak apa apa." Setelah berdebat lumayan panjang, akhirnya pak Ahmad mau membuka pintu pagarnya. Tanpa menunggu lama, mobil yang dikendarai mbak Bella langsung masuk ke dalam dan parkir di halaman rumah yang lumayan luas.
Mbak Bella mematung menatap bangunan yang ada dihadapannya, rumah ini memang tak semegah rumah yang ditempatinya, tapi rumah pemberian mama juga tak kalah mewahnya, bahkan memiliki struktur bangunan modern ala eropa.
"Mari masuk, mbak." Akupun berusaha bersikap baik dan ramah pada perempuan cantik yang selalu terlihat modis dan berkelas. Mbak Bella hanya menatapku sekilas dengan pandangan yang entah, lalu melangkah memasuki rumah.
__ADS_1
"Silahkan duduk, biar aku buatkan minum.
Mbak, mau kopi atau jus?"
"Tidak usah repot repot, aku tidak akan lama.
Hanya ingin bicara sebentar saja denganmu." Sahutnya dengan menarik nafasnya dalam.
"Iya, mbak." Sahutku lirih, bingung harus bagaimana meresponnya, ada rasa canggung dan merasa tak enak dengan situasi yang ada.
"Apa kamu ada niat menjadi istri mas Hamzah seterusnya?" Tanya mbak Bella dengan wajah serius, matanya menatapku tajam.
"Kenapa diam saja, katakan saja apa yang ada dalam hatimu. Apa kamu mulai menyukai suamiku?" sambungnya dengan wajah yang masih sama. Dan aku masih belum bisa mencerna semua pertanyaannya, entahlah aku sendiri masih belum yakin dengan apa yang aku rasakan.
"Tidak usah dijawab, diam mu sudah bisa diartikan, kalau kamu mulai merasa nyaman dengan posisi kamu menjadi istrinya suamiku.
Perlu kamu tau, Anniyah. Aku sebagai istrinya sungguh terluka, aku kecewa dan sangat cemburu. Pahami perasaan sesama perempuan. Pikirkan baik baik sebelum kamu ingin meneruskan pernikahan kontrak kalian." Kembali mbak Bella meneruskan ucapannya, matanya nampak mengembun dan itu cukup membuatku merasa bersalah.
"Maafkan aku mbak, aku akan menjalani semua sesuai dengan perjanjian. Mbak Bella tidak usah khawatir." sahutku pada akhirnya, meskipun hatiku serasa di iris saat mengatakannya.
"Semoga, ucapan kamu bisa aku pegang.
"Mbak Anniyah gak papa?" Mbok Atun langsung menghampiriku yang kini terdiam lesu memikirkan ucapan mbak Bella.
"Gak papa, mbok." sahutku lirih sambil mengukir senyum tipis.
"Yakin gak papa, Bu Bella gak nyakiti mbak Anniyah, kan?" sambungnya dengan wajah yang terlihat cemas.
"Gak papa kok, mbok. Mbak Bella kesini hanya ingin bicara saja." Sahutku jujur, karena memang mbak Bella tidak melakukan apapun yang menyakiti fisikku, tapi ucapannya mampu menampar hati ini untuk tidak lagi berharap banyak dari pernikahan yang memang dijalankan karena sebuah perjanjian saja.
"Ya Tuhan apakah aku sejahat itu?" lirihku yang hanya bisa terucap dari dalam hati ini saja.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
__ADS_1
#Anak yang tak dianggap
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1