
"Ayuk masuk dulu, kamu harus bahagia melihat anak anak disini. Insyaallah kamu akan menemukan sesuatu yang indah dengan tingkah mereka." Balas Muthia yang menggandeng tangan Bella untuk masuk ke dalam. Sedangkan bi Titin sudah bergabung dengan para pengurus yayasan di dalam untuk membagikan makanan yang tadi dibawa oleh Bella untuk mereka.
**************"***
Setelah puas mengobrol dan bermain dengan anak anak, Muthia mengajak Bella masuk ke dalam ruangannya. Muthia memberikan ruang dimana temannya itu akan mencurahkan isi perasaannya. Sedikit banyak Muthia sudah tau cerita hidup Bella, karena Bella sudah pernah cerita meskipun hanya sekilas saja.
"Ada apa?" Muthia mengawali obrolan mereka, menatap lembut wajah cantiknya Bella yang kini sudah berubah sendu. Sebelum menjawab, Bella menarik nafasnya dalam.
"Aku tengah bingung apa yang harus aku putuskan untuk pernikahan yang bagiku sudah gak sehat ini. Sejak mas Hamzah menikahi wanita itu, aku selalu merasa tidak nyaman dan terus berprasangka buruk akan apa apa yang suami dan maduku lakukan. Aku ingin mundur, tapi perasaan ini masih berat. Aku masih tidak rela, jika suamiku dimiliki perempuan lain. Namun jika aku tetap bertahan, hatiku kian merasakan sakit saat memikirkan kebersamaan dan kebahagiaan mereka yang sudah memiliki anak. Aku harus bagaimana, Thia?" Keluh Bella mengungkapkan isi hatinya panjang lebar.
"Memang sulit, itulah kenapa kita harus menyiapkan mental dan hati kita saat memutuskan untuk menjalani hubungan poligami, ya itu, karena perempuan itu tidak bisa menghindari perasaan cemburu dan sulit untuk berbagi kepemilikan pada perempuan yang lain. Dulu aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi bedanya disini aku yang kedua, aku memilih banyak diam dan mengalah. Berusaha menekan egoku untuk bersaing dengan istri pertama suamiku, meskipun waktu itu Subhanallah sekali.
Pikirkan baik baik sebelum kamu mengambil keputusan, Bella. Selagi suamimu tidak dzalim dan dia masih bersikap baik, bertahanlah." Sahut Muthia lembut, mengerti apa yang tengah Bella rasakan saat ini.
"Sulit, dan ini berat sekali. Aku hampir menyerah, apalagi aku yang belum kunjung hamil, membuatku merasa aku ini sudah gagal menjadi istri yang sempurna untuk mas Hamzah." Lirih Bella yang sudah tersedu, dia akan sangat sensitif jika sudah membahas masalah anak.
"Bersabarlah, urusan anak adalah hak progresif dari yang kuasa. Tugas kita hanya berikhtiar semampu kita. Insyaallah, kamu perempuan yang tidak memiliki masalah dengan rahimmu, suatu saat kamu pasti akan merasakan mengandung dan melahirkan. Untuk saat ini, mungkin Alloh sedang memintamu untuk menyiapkan diri dulu, agar kelak saat sudah waktunya kamu menjadi ibu, kamu akan jadi seorang ibu yang hebat, yang bisa mendidik anak anak dengan luar biasa. Berprasangka baik saja, insyaallah kebaikan kebaikan yang lain pasti akan mengikutinya." Balas Muthia bijak, membuat Bella sedikit tenang mendengar jawaban jawaban dari Muthia.
"Terimakasih, Thia. Aku lega bisa bicara denganmu seperti ini. Kamu bisa membuat perasaan ini jauh lebih tenang tanpa penghakiman sama sekali. Aku berniat akan mengadopsi salah satu anak asuh mu, semoga kamu tidak keberatan." Sambung Bella yang membuat Muthia mengerutkan wajahnya.
"Kamu yakin, siapa yang ingin kamu adopsi?" Sahut Muthia dengan mimik wajah serius.
"Amel, sejak pertama kali aku melihatnya entah kenapa hati ini langsung bergetar, aku jatuh cinta sama senyum anak itu. Perasaan ingin menyayanginya begitu besar. Tolong ijinkan aku merawatnya, Muthia. Aku mohon, dan aku janji akan menjadi orang tua yang baik untuk Amel." Sahut Bella penuh pengharapan.
"Baiklah, tapi sebaiknya kamu meminta ijin dulu sama suami kamu dan lakukan pendekatan dulu ke Amel nya, agar dia juga tidak kaget saat kamu membawanya pergi dari sini. Dia anak yatim piatu, orang tuanya meninggal karena kecelakaan, dia dititipkan disini oleh neneknya yang sudah renta dan sekarang beliau pun juga sudah meninggal. Dia anak yang tak lagi punya siapa siapa, tolong jaga dan rawat dia dengan baik dan tulus." Sambung Muthia yang sangat serius jika membicarakan anak anak asuhnya. Karena Muthia menyayangi mereka semua layaknya anak anaknya sendiri.
"Kamu jangan khawatir, Muthia. Aku pasti akan menyayangi dan mencintai Amel dengan tulus. Aku benar benar jatuh hati pada anak itu, dan insyaallah suamiku pasti mengijinkan aku merawatnya. Besok saat dia waktu bersamaku, aku akan membicarakan niat ini. Dan aku akan setia hari mengunjungi Amel disini, kamu gak keberatan, kan?" Balas Bella dengan senyuman tulus.
__ADS_1
"Tidak, justru aku senang. Semoga dengan kehadiran Amel, kamu akan segera mendapatkan momongan dari rahimmu sendiri. Kata orang Jawa, pancingan." Sahut Muthia sambil terkekeh, membuat Bella ikut mengembangkan senyum dan mengaminkan doa sahabatnya itu.
Setelah puas mengobrol dengan Muthia. Bella kembali mencari Amel yang ternyata tengah diasuh oleh bi Titin. Bella tersenyum senang melihat keakraban bayi itu sama asisten rumah tangganya. Semoga apa yang dilihatnya adalah petunjuk untuk meneguhkan niat baiknya.
"Bi, biar Amel sama aku, tolong Bi Titin foto kan kami berdua ya." Bella meminta Amel dari pangkuan bi Titin dan memintanya untuk mengambil gambar mereka berdua dengan berbagai pose. Bayi lucu itu sepertinya juga sangat nyaman berada di pelukan Bella, dia tidak berhenti tertawa dan terus berceloteh dengan lucunya, semakin membuat Bella gemas dan ingin segera membawanya pulang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Sahabat Benalu
Novel on going :
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
__ADS_1
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1