
"Cukup, mbak!
Jangan mempermalukan dirimu sendiri.
Sebelum aku bongkar kebusukan kamu di hadapan mas Hamzah dan semua orang yang ada disini, lebih baik mbak Bella diam dan pergilah dari hadapan kami." bentak Rena dengan wajah mengeras, terlihat mbak Bella salah tingkah dengan wajah pucat pasi nya.
"Rena, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari, mas?" tiba tiba mas Hamzah ikut buka suara menanggapi ucapan adik perempuannya.
"Sebaiknya, mas Hamzah langsung tanya ke istri kesayangan mas itu. Tuh, orangnya masih disini." sahut Rena dengan senyuman sinis diarahkan pada mbak Bella yang sudah terlihat pucat.
"Em, aku pergi dulu, mas. Aku tadi ada acara arisan sama teman temanku." Tanpa menunggu persetujuan dari mas Hamzah, mbak Bella langsung pergi begitu saja dengan langkah terburu buru. Terlihat sekali kalau mbak Bella sengaja ingin menghindari mas Hamzah.
"Rena, kamu punya hutang penjelasan sama, mas." Rena langsung membuka mulutnya dengan mata melotot tak percaya ke arah kakaknya.
"CK, kebiasaan." sungut Rena dengan wajah ditekuk.
Selama dalam perjalanan pulang, kami semua sibuk dengan pikiran masing masing, tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Suasana di dalam mobil terlihat canggung. Apalagi wajah mas Hamzah terlihat menyimpan amarah.
Ternyata apa yang disampaikan mas Hamzah beberapa waktu lalu benar benar dia tepati, hari ini mas Hamzah membawaku pulang ke rumah yang diberikan oleh mama mertua.
Kami semua turun dari mobil dengan perasaan yang tak biasa. Terlihat ada mama dan mbok Atun sedang berdiri di depan pintu utama untuk menyambut kedatangan kami.
"Selamat datang, Anniyah.
Semoga kamu betah tinggal di rumah ini.
Jaga cucu mama, baik baik. Karena mama sudah sangat mengharapkan kehadirannya." Sambut mama yang langsung memelukku dengan ciuman.
Dan mbok Atun juga menyalamiku dengan wajah ramahnya. Lalu, mama menuntunku masuk ke dalam rumah dan mengajak duduk di sofa yang ada di dalam ruang tamu.
"Mbok, buatkan minuman buat kami semua ya.
Ayu, kalau kamu capek, bisa langsung istirahat, nak. Dan Rena, mama akan bicara sama kamu setelah ini." Sambung mama yang bicara dengan wajah tegas tapi tetap terdengar lembut.
Ayu memilih masuk ke dalam kamarnya, sedangkan mas Hamzah terlihat lesu dengan kepala menyender ke punggung sofa dengan wajah muram. Rena terlihat santai santai saja. Sedangkan aku merasa canggung dan bingung harus bersikap bagaimana menghadapi situasi yang membuatku tegang.
"Anniyah, kamu sudah merasa lebih baik, nak?
Jangan banyak bergerak ya, sayangi calon bayimu. Kalau butuh apa apa, bilang saja sama mbok Atun atau meminta bantuan sama Ayu.
__ADS_1
Kamu tidak usah khawatir dan takut, kamu disini aman. Karena Bella tidak akan berani masuk rumah ini." ucap mama panjang lebar.
"Iya, ma.
Maaf, kalau Anniyah sudah banyak merepotkan mama dan semua." sahutku dengan kepala menunduk, ada rasa tidak enak dan segan. Bukan perempuan yang dicintai dan bukan perempuan yang di inginkan tapi aku sudah banyak merepotkan. Rasanya sangat tak tau malu sekali diri ini.
"Kamu tanggung jawabnya Hamzah, Anniyah.
Kamu ini istri sahnya anak mama. Jadi tidak ada yang merasa direpotkan. Semua juga karena ulah perempuan tak tau malu itu." sahut mama yang menatap tajam ke arah mas Hamzah. Dan terlihat laki laki yang bergelar suamiku itu nampak mengusap wajahnya kasar.
Aku tak berani ikut campur, memilih diam dan hanya mendengarkan saja.
"Apa kamu masih ingin mempertahankan istrimu itu, Hamzah?
Berkali kali kamu di ingatkan tapi selalu saja menutup mata dan telinga kamu. Apa perlu mama perlihatkan kebusukan istrimu itu di hadapan kamu?" ketus mama dengan wajah kesalnya.
"Tadi dia juga bikin ulah di rumah sakit, niatnya mau mempermalukan mbak Anniyah sih, tapi sayangnya dia sudah ketakutan karena aku berhasil menggertak nya." Rena menimpali ucapan mamanya dengan gaya santainya.
"Dia teman satu kampus aku, kalau mas Hamzah ingin tau, selidiki sendiri biar nanti aku kirim alamat laki laki itu. Karena kalau aku yang bicara, mana mau kamu percaya, mas. Dasar aneh, saking bucinnya sampai sampai terus terusan di peralat istri kok mau mau saja." Rena menatap kesal ke arah kakak lelakinya dengan senyuman miring.
"Sudahlah, kepalaku pusing, jangan terus membahas itu terus." Sentak mas Hamzah yang terlihat memijat pelipisnya, sepertinya dia tidak suka ada orang yang mengatakan hal buruk pada mbak Bella. Mas Hamzah meninggalkan kami begitu saja, masuk ke dalam kamar utama yang ada dirumah ini.
"Selalu saja seperti itu kalau di ingatkan." keluh mama yang terlihat kecewa.
Dan mama terlihat senang menanggapi usulan anak bungsunya itu.
"Kamu benar, Ren.
Mama akan telpon Bi Titin sekarang.
Semoga kita mendapatkan buktinya, karena firasat mama memang tidak pernah baik pada Bella." sahut mama yang langsung mengotak atik layar ponselnya, sepertinya akan menghubungi bi Titin sesuai saran dari Rena.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
__ADS_1
Novel on going :
#Ayah aku juga anakmu
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️