
"Mbak, kenapa kamu bicara sekasar itu padaku?" Sahut Anniyah dengan masih mencoba bersikap tenang.
"Karena memang kamu pantas di kasari. Dan aku hanya bicara tentang fakta yang ada. Bukannya kamu memang di bayar untuk mengandung benih suamiku?
Jadi jangan pernah bermimpi bisa menggantikan posisiku disini. Aku tidak akan tinggal diam untuk itu. Paham?" Tekan Bella dengan wajah memerah, matanya melotot penuh kebencian pada Anniyah yang justru sedikitpun tak merasa terintimidasi olehnya.
Anniyah menghembuskan nafasnya dalam, dadanya terasa sesak mendengar ucapan Bella. Namun berusaha untuk tetap tenang menyikapinya, karena Anniyah paham tengah berada dimana. Anniyah tidak ingin mempermalukan Hamzah, karena ribut diantara dirinya dan Bella.
"Kenapa kamu diam saja?
Apa kamu baru menyadari siapa kamu?
Miskin ya miskin saja, tidak usah sok sokan jadi nyonya segala." Sambung Bella yang semakin menunjukkan kebenciannya.
"Maaf permisi, ini kopinya, Bu." Sisi meletakkan secangkir kopi panas di atas meja dengan sopan.
"Terimakasih, kamu boleh keluar." Sahut Bella ketus. Namun Sisi sudah terbiasa dengan sikap Bella yang seperti itu. Sisi melirik ke arah Anniyah yang terlihat tertekan, lalu pergi meninggalkan kedua istri atasannya itu dengan pikiran yang terus menerka nerka.
"Lihatlah, bahkan karyawan disini lebih menghormati ku dari pada kamu. Harusnya dari sini kamu paham dan sadar diri. Jika terjadi perpisahan antara aku dan suamiku, orang yang paling disalahkan adalah kamu, kamu yang sudah merayu suamiku." Sambung Bella yang sengaja ingin membuat Anniyah bersalah dan tertekan.
"Cukup, mbak. Tolong jangan terus menyalahkan aku dengan masalah yang mbak Bella hadapi. Aku tidak ada hubungannya dengan permasalahan kamu dengan mas Hamzah, mbak. Jadi, lebih baik mbak Bella bicara langsung dengan mas Hamzah." Sahut Anniyah yang sudah geram oleh kata kata kasarnya Bella.
"Wow, sudah berani melawanku kamu, ya.
Aku peringatkan sekali lagi sama kamu, Anniyah.
Mundur dan tinggalkan suamiku, bawa anakmu itu pergi jauh dari kehidupan kami. Aku sudah tidak butuh bayi itu, karena aku akan hamil anakku sendiri dengan mas Hamzah. Jadi, pergilah menjauh dari kehidupan kami. Paham?" Sahut Bella penuh dengan penekanan.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu sama Anniyah, Bella?" Tiba tiba Hamzah sudah berada tepat dibelakang Bella dengan wajah merah padam.
"Mas." Bella seketika langsung salah tingkah dan memucat, tak menyangka jika Hamzah tiba secepat itu, apalagi dirinya sedang menekan mental Anniyah.
"Aku, aku ..." Sahut Bella tergagap dengan muka yang terlihat pias.
"Anak yang di kandung Anniyah adalah darah dagingku, anakku! Kamu tidak punya hak menyuruh Anniyah pergi, dia ibu dari anakku. Paham kamu?" Bentak Hamzah yang tak lagi bersikap lembut pada Bella.
"Tapi aku akan memberikan anak dari rahimku untukmu, mas. Kita tidak butuh lagi Anniyah, tolong mengertilah. Aku tidak suka kamu berdekatan dengan dia, apalagi lebih mengutamakan dia dari pada aku." Sahut Bella yang merasa tidak terima.
__ADS_1
"Bella, Bella!
Apa kamu lupa, kalau kita sebentar lagi akan berpisah?
Aku sudah katakan sama kamu, kalau aku tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga kita." Balas Hamzah dengan wajah datarnya.
"Enggak, mas. Enggak, kamu gak boleh pergi ninggalin aku. Kita tidak akan pernah bercerai, aku gak mau." Sahut Bella yang sudah memegangi lengan Hamzah dengan kuat.
"Maaf, aku tidak bisa hidup dengan perempuan yang sudah tidur dengan laki laki lain. Jijik dan muak dengan tingkahmu yang tak pernah bisa berubah. Pergilah, lupakan perjanjian yang dua Minggu itu. Aku sudah tidak berminat lagi, karena kamu tidak pernah berubah sampai kapanpun." Balas Hamzah geram, muak dengan sikap kasar dan semena mena Bella.
"Jahat kamu, mas. Jahat!
Karena perempuan murahan itu, kamu tega menyakiti hatiku. Demi perempuan miskin itu kamu membuangku. Aku gak terima ya, mas! Aku akan balas perbuatan kalian, awas saja, aku akan melakukan apapun untuk menghancurkan kalian." Teriak Bella yang membuat Hamzah semakin geram dan hilang respect padanya. Sedangkan Anniyah memilih diam dan tak mau ikut campur, hatinya sudah merasakan perih akibat hinaan yang sedari tadi dilontarkan oleh Bella padanya.
"Pergilah, sebelum aku meminta scurity untuk menyeret kamu keluar dengan cara tidak hormat." Tekan Hamzah yang sudah kehilangan kesabarannya.
Bella yang hilang kendali tak lagi mau mendengarkan peringatan dari Hamzah. Dia dengan cepat meraih jilbab Anniyah dan berusaha untuk membenturkan kepala Anniyah pada bahu kursi, namun dengan cekatan Hamzah langsung menarik Bella dengan kasar dan menghempaskan tubuh istri pertamanya itu secara kasar.
"Cukup, Bella. Cukup!
Keterlaluan, kamu!
"Aku tidak mau, aku tidak mau.
Aku mencintaimu, mas. Tolong jangan tinggalkan aku hanya demi perempuan itu. Tolong." Lirih Bella yang terduduk lesu dengan air mata yang sudah menderas.
"Semua sudah terlambat, pergilah dan renungi kesalahan kamu. Aku ingin kita berpisah baik baik, jaga sikapmu itu Bella. Itupun kalau kamu masih ingin mendapatkan bagian harta dariku." Sambung Hamzah yang mati matian menahan amarahnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Sahabat Benalu
Novel on going :
__ADS_1
#Anak yang tak dianggap
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️