
Pagi terasa begitu dingin, seolah mampu membekukan hati wanita cantik yang tengah menikmati segelas susu hangat di meja dapur nya.
Bella, menyesap susu hangat yang ada di gelasnya dengan hati berkecamuk. Setelah menunaikan ibadah sholat subuh, Bella langsung menuju dapurnya. Berniat akan membuat makanan dan cemilan sehat untuk dibawa ke yayasan yatim piatu nanti siang. Sementara Hamzah, sudah pulang kerumah istri keduanya.
"Sampai kapan aku menyembunyikan luka ini dengan bersikap baik baik saja?
Nyatanya aku rapuh dan tak mampu menahan rasa sakit ini. Allah, ampuni rasa sakit ini. Bukan aku membenci takdirMu, namun rasa itu hadir tanpa bisa aku cegah." Lirih Bella yang menatap kosong ke sembarang arah, Bu Titin yang baru saja memasuki dapur, tertegun melihat majikannya sudah melamun pagi pagi.
"Bu, sudah bangun?
Maaf, bibi kesiangan ya?" Bi titin mengatur nafasnya sebelum mendekati Bella. Perempuan paruh baya itu mengerti apa yang Bella pikirkan. Kasihan dan iba merajai pikiran bi Titin pada Bella.
"Ah, bibi. Iya, tadi habis sholat kok pingen minum susu. Ini masih sangat pagi, bi. Kalau bi titin capek, istirahat saja gak papa." Sahut Bella menatap lembut wajah sungkan pembantu nya.
"Enggak kok, Bu. Cuma semalam tidurnya agak malam saja. Keasyikan ngobrol sama cucu di vidio call." Kekeh bi Titin yang bicara apa adanya, semalam memang sedang vidio call sama anak dan cucunya, melepas rindu dengan bicara panjang lebar juga bercanda melepaskan perasaan sayangnya pada anak dan cucunya.
"Gimana kabar mereka, sehat semuanya kan, bi?" Sahut Bella menanggapi cerita bi Titin.
"Alhamdulillah, semuanya pada sehat, Bu. Cucu saya sudah besar, sudah mau masuk TK bulan ini." Bi Titin bicara dengan binar bahagia, membuat Bella ikut merasakan bahagia yang dirasakan bi Titin.
"Kita jadi belanja ke pasar, Bu?" Tanya bi Titin mengingatkan Bella yang katanya mau belanja ke pasar tradisional yang tak jauh dari rumahnya, hanya sekitar satu kilometer.
"Jadi dong, bi. Aku mau belanja sayuran segar dan juga ikan. Mau bikin capcay dan ayam bakar. Juga mau bikin puding buah dan beli jajanan pasar kesukaan anak anak." Sahut Bella antusias, membuat bi Titin tersenyum melihat sikap Bella yang berubah semangat, tidak lesu saat pertama tadi dilihatnya.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang saja, Bu. Mumpung masih pagi, sayur dan ikan masih pada fresh. Dan jajanan pasar juga pada masih lengkap." Sahut bi Titin tak kalah antusiasnya.
"Memangnya jam segini pasar sudah buka, bi?" Sahut Bella yang mengerutkan wajahnya. Karena selama ini dia tidak pernah menginjakkan kakinya pergi ke pasar. Bi Titin yang selalu pergi belanja untuk membeli kebutuhan dapur.
"Sudah dong, Bu. Malah sejak jam empat tadi pasar sudah rame. Banyak para penjual sayur keliling yang pergi kulak an pagi pagi." Balas Bi Titin dengan senyum mengembang.
"Yasudah, tunggu sebentar ya, bi. Aku mau ganti pakaian dulu." Bella langsung masuk ke kamarnya untuk ganti pakaian, hanya memakai kulot dan kaos lengan panjang yang longgar, lalu memakai jilbab instan. Sangat sederhana, bahkan Bella hanya mengenakan sandal jepit warna pink kesayangannya. Bi Titin menatap geli penampilan majikannya yang tak biasanya itu. Bella justru terlihat lebih cantik dengan pakaian sederhananya.
"Kok senyum senyum gitu, bi?
Apa ada yang aneh sama penampilanku?" Bella mengerutkan wajahnya sambil menatap bi Titin yang cengengesan.
"Bu Bella makin kelihatan cantik kalau pakaian begitu, kayak anak kuliahan. Jujur, bibi suka lihat Bu Bella yang sekarang, masyaalloh." Sahut bi Titin jujur, membuat Bella bernafas lega.
__ADS_1
"Owh, kirain apa, bi?
Yasudah, yuk berangkat sekarang. Aku sudah gak sabar pengen banget masuk pasar dan belanja yang banyak." Kekeh Bella yang disambut tawa geli sama Bu Titin.
*************************
Bella kaget dengan harga harga yang dibandrol di pasar, sungguh jauh lebih murah dari tempat yang biasa dia belanja. Karena selama ini Bella hanya masuk ke swalayan besar untuk belanja. Jadi harga di pasar sangat berbeda jauh dari yang ada di swalayan.
Bella memutuskan untuk belanja apa saja, sayur sayuran hijau, daging, ayam, ikan, buah buahan, telor. Dan beraneka macam jajanan basah tradisional. Bi Titin hanya menggeleng saja melihat tingkah lucu majikannya yang terlihat sangat senang, sampai sampai belanja begitu banyaknya.
"Apa ini gak kebanyakan, Bu?
Ini banyak banget Lo kalau hanya untuk stok di kulkas." Bi Titin menatap heran semua belanjaan yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Gak kok bik, kan kita mau masak buat di bawa ke yayasan. Rencananya, aku akan bikin makanan setiap dua hari sekali buat anak anak di panti. Mereka pasti sangat senang, aku merasa bahagia saat melihat mereka tertawa. Hanya ini yang bisa aku lakukan saat ini untuk mengusir rasa sepi ku, bi." Sahut Bella sambil tersenyum tipis, menyembunyikan duka yang mendalam di sudut hatinya terdalam. Bi Titin menatap iba pada wanita cantik yang dulu pernah dia benci.
**********************
Tepat pukul Sebelas siang, semua masakan sudah selesai di masak, Bella yang dibantu bi Titin dan satu tetangga mulai memasukkan makanan yang akan diberikan pada anak anak panti dalam kotak makan yang Bella beli kusus mereka. Nasi, capcay, ayam bakar, dan acar juga telur puyuh adalah menu makan siang yang Bella buat untuk anak anak. Tak lupa Bella juga memberikan kerupuk udang di setiap kotaknya. Bella juga membawakan jajanan basah yang tadi dibelinya dari pasar, seperti lumpia, serabi, lemper dan roti kukus juga puding buah buatannya.
"Terimakasih banyak ya, Bu Windi. Besok lusa kalau Bu Windi tidak keberatan tolong kesini, buat bantu bantu masak lagi. Dan ini ada sedikit makanan dan buat beli jajanan Doni." Bella memberikan Bu Windi masakan yang tadi dimasak yang sudah dibungkus oleh bi Titin, dan juga amplop berisi beberapa lembar uang berwarna biru untuk mengucapkan terimakasih, karena Bu Windi sudah mau membantunya. Bu Windi adalah seorang janda dengan dua orang anak, Bella sering membantu beliau karena merasa kasihan dengan nasibnya yang kurang beruntung.
"Aamiin, terimakasih banyak untuk doanya, Bu." Sahut Bella ramah dengan senyuman hangat.
Setelah kepergian Bu Windi, Bella sama bi Titin siap siap untuk pergi ke yayasan, karena anak anak dan Muthia sudah menunggu kedatangannya di yayasan. Sebelum berangkat, Bella mengirimkan pesan meminta ijin terlebih dulu pada sang suami. Hamzah tak keberatan dan senang dengan aktifitas istrinya saat ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Sahabat Benalu
Novel on going :
#Anak yang tak dianggap
__ADS_1
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️