Tentang Luka Istri Kedua

Tentang Luka Istri Kedua
Bab 33


__ADS_3

"Gak papa kok, mbok. Mbak Bella kesini hanya ingin bicara saja." Sahutku jujur, karena memang mbak Bella tidak melakukan apapun yang menyakiti fisikku, tapi ucapannya mampu menampar hati ini untuk tidak lagi berharap banyak dari pernikahan yang memang dijalankan karena sebuah perjanjian saja.


"Ya Tuhan apakah aku sejahat itu?" lirihku yang hanya bisa terucap dari dalam hati ini saja.


"Mbak, mbak Anniyah." suara mbok Atun menyadarkan aku dari lamunan, wajahnya terlihat cemas, matanya yang mulai tumbuh keriput memandangku penuh selidik.


"Iya, mbok." balasku yang sedikit gelagapan, entahlah, ucapan mbak Bella terus terngiang di telinga ini, kata kata pelakor murahan begitu menyayat hati, apakah diri ini sudah benar benar menjadi perempuan murahan, lantaran mulai merasakan rasa nyaman bersama laki laki yang sah menjadi suamiku saat ini. Ya Alloh, kenapa ini terasa begitu sesak?


"Apa ada sesuatu yang dikatakan Bu Bella pada mbak Anniyah?


Katakan sama mbok, biar mbak Anniyah tidak merasa sendirian, karena mbok lihat, mbak Anniyah begitu tertekan." Sambung mbok Atun yang sudah duduk di sampingku, menepuk lembut punggung tangan ini, tak terasa air mata sudah mengalir begitu saja, aku merasa menemukan kasih sayang seorang ibu dari mbok Atun. Kalau saja ibu masih hidup, astagfirullah.


"Mbok, apa aku salah kalau mulai merasakan jatuh cinta sama mas Hamzah?" Entah kekuatan dari mana, tiba tiba bibir ini begitu lancar mengeluarkan apa yang ada di pikiranku.


"Gak salah, mbak. Kalian suami istri, nikah sah secara agama dan hukum. Wajar kalau mulai tumbuh perasaan cinta dan sayang." Sahut mbok Atun yang menatapku dalam, tangannya terasa menggenggam jari jemariku, seolah ingin menyalurkan kekuatan lewat perhatiannya.


"Apa aku ini seorang pelakor, mbok?


Aku sudah merusak hubungan orang lain, Ya Alloh aku sungguh merasa bersalah karena menerima tawaran perjanjian itu, aku harus bagaimana, mbok?" Tangisku pun pecah bersama rasa perih yang kian menusuk perasaan.


"Ya Alloh, mbak. Iling, istighfar, jangan nangis begini. Apa yang terjadi bukan sepenuhnya salah mbak Anniyah, Bu Bella sendiri yang sudah mendatangkan mbak Anniyah untuk jadi madunya, terlepas apapun niatnya atas pernikahan mbak Anniyah dengan pak Hamzah.


Kalian menikah sah dimata hukum dan agama atas persetujuan istri pertama, kalau bu Bella saat ini menyalahkan mbak Anniyah dengan menuduh mbak pelakor, itu salah besar. Mbak Anniyah bukan pelakor, karena Bu Bella sendiri yang membawa mbak masuk dalam rumah tangganya." Ucap mbok Atun panjang lebar, tangannya mengusap punggung ini lembut, ada iba di sorot matanya yang teduh.


"Entahlah, mbok.


Aku mungkin sudah salah, karena mulai bermain dengan perasan, padahal pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian. Ya Alloh, rasanya sangat berat, mbok." Balasku yang masih tergugu, karena tuduhan yang di sematkan oleh mbak Bella, kalau diri ini pelakor murahan, sungguh melukai perasaan.


"Sudahlah, jangan terlalu dimasukkan hati ucapan bu Bella. Mbak Anniyah harus pikirkan bayi dalam kandungan mbak. Untuk Bu Bella, dia memang begitu, dari dulu egois dan punya niat jahat untuk menguasai pak Hamzah. Dia dan ibunya, cuma ingin memanfaatkan kekayaan keluarga ini saja demi memenuhi ambisi mereka.


Yang sabar, insyaallah siapa yang baik itulah yang akan menemukan kebahagiaan sesungguhnya." Sahut mbok Atun yang bicara dengan nada serius, matanya nampak menyorotku tajam.


"Terimakasih, mbok.


Terimakasih sudah mau mendengarkan keluhanku, terimakasih sudah mau jadi temanku saat seperti ini. Aku mau ke kamar dulu, kepalaku terasa pusing."


"Baiklah, mbak Anniyah. Lebih baik buat istirahat dan jangan dipikirkan ucapan Bu Bella lagi. Jalani saja sesuai hati mbak Anniyah, cinta tidak pernah tau kapan datangnya dan kapan waktunya dia berlabuh. Pada siapa dan hati yang mana. Mbok buatkan jus mangga biar mbak Anniyah kembali segar." Sahut mbok Atun, yang langsung memunguti semua belanjaan yang tadi diletakkan begitu saja.

__ADS_1


"Iya, mbok. Terimakasih." Sahutku, lalu melangkahkan kaki ini untuk masuk ke dalam kamar, saksi jika pertama kali pindah di rumah ini, menjadi tempat membaiknya hubungan antara aku dan mas Hamzah. Laki laki itu bersikap lembut dan penuh perasaan saat kami melakukan ritual hubungan suami istri, karena sebelumnya, mas Hamzah melakukan dengan keterpaksaan.


Tak terasa aku sudah tertidur selama tiga jam, saat terbangun, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku langsung terbangun dan segera mengambil air wudhu, karena belum melaksanakan sholat dhuhur.


Setelah selesai mengerjakan kewajiban empat rokaat, aku pergi ke dapur dan mengambil buah yang ada dikulkas, sejak hamil aku sangat mudah lapar dan begitu menyukai buah buahan, buah apa saja pasti akan masuk ke mulut ini.


Satu buah apel dan satu mangga muda sudah berada ditangan, saat aku akan mengupasnya, mbok Atun datang dari arah pintu belakang.


"Mbak Anniyah lapar?" tanyanya dengan membawa cucian kering.


"Iya, mbok. Sekarang aku sedikit sedikit lapar dan pingin ngemil terus. Mbok Atun dapat mangga muda ini dari mana?"


"Oh itu, tadi habis pulang dari pasar ketemu sama Bu RT, di depan rumahnya pohon mangga lagi banyak buahnya, beliau menawari karena tau kalau mbak Anniyah sedang hamil. Yasudah, mbok langsung iyakan saja, lumayan dikasih satu kresek tadi."


"Wah, Alhamdulillah ya mbok. Ternyata tetangga disini baik baik, ramah juga, padahal kebanyakan mereka orang kaya semua."


"Iya, mbak. Perumahan ini dihuni oleh orang orang kaya, tapi mereka baik baik, gak sombong. Kecuali rumah yang ada di ujung gang itu, duh amit amit orangnya."


Aku mengernyit mendengar penuturan mbok Atun, sepertinya mbok Atun tau banyak sama penghuni komplek ini.


"Mbok kan dulu juga tingga disini, nemeni adiknya nyonya yang sekarang sudah pindah ikut suaminya tinggal di luar negri. Tapi rumahnya bukan yang ini, masih empat rumah dari sini, sekarang sudah dijual dan di tempati oleh penghuni baru.


Kalau yang tinggal diujung gang itu, seorang janda kaya, duh sombong banget dan suka ganggu suami orang, bahkan denger dengar anak perempuannya juga menjanda." Sahut mbok Atun dengan wajah serius, aku hanya tersenyum menanggapi ocehannya, lagian aku tidak mengenalnya dan semoga saja juga tidak akan pernah berurusan dengan orang orang seperti itu. Bukan membenci status jandanya, tapi lebih pada sikapnya saja.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Fitnah mereka


Novel on going :


#Anak yang tak dianggap


#Tentang luka istri kedua

__ADS_1


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


#Ganti istri [Tamat]


#Wanita sebatang kara [Tempat]


#Ternyata aku yang kedua [Tamat]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2