Tentang Luka Istri Kedua

Tentang Luka Istri Kedua
Bab 13


__ADS_3

"Anniyah, mulai sekarang, jangan pernah kamu menampakkan diri saat aku tengah bersama suamiku. Kalau butuh apa apa panggil bi Titin saja.


Lebih baik kamu tetap di kamarmu." sambut mbak Bella dengan tatapan tajam saat aku baru saja sampai ke ruang makan, niat hati mau ikut sarapan karena perutku sudah sangat lapar sejak semalam. Tapi kata kata pedas mbak Bella membuatku membeku, rasa lapar hilang seketika.


"Bella." tegur mas Hamzah dengan wajah mengerut menatap istrinya.


"Diam kamu, mas.


Aku tidak suka, kebersamaan kita dapat gangguan dari orang lain." bentak mbak Bella dengan menunjukkan wajah tak sukanya.


Tanpa banyak bicara, aku langsung menuju ke arah dapur, terlihat bi Titin menatapku dengan raut iba.


"Bi, ada apa saja di kulkas?


Aku mau bikin Cha sawi lagi."


"Sawi nya habis mbak. Adanya kol saja sama wortel." sahut bibi masih dengan pandangan iba padaku.


"Yasudah, aku mau bikin oseng kol sama wortel saja." sahutku yang pura pura tak mengerti dengan arti tatapan bi Titin padaku. Dengan cekatan aku mulai memotong kol dan wortel, di bikin tumis agak pedas manis pasti enak.


"Kasih dagingnya, mbak.


Biar ada gizinya buat calon Dede." Bi Titin mengeluarkan daging dari kulkas yang sudah direbus, lalu memotong beberapa.


"Makasih ya, bi.


Besok kalau bibi belanja, tolong belikan sayuran, sawi dan teman temannya." aku bicara sama Bi Titin sambil fokus memotong bumbu yang akan aku tumis.


"Iya, mbak. Sekarang bibi sudah tau kesukaan mbak Anniyah. Besok bibi akan beli sayuran macam macam buat stok di kulkas." sahut bi Titin dengan senyuman hangat.


"Mbak Anniyah, gak papa?" lanjutnya dengan menatapku dalam.


"Gak papa gimana, Bi?" aku pura pura tidak mengerti dengan maksud pertanyaan bi Titin.


"Itu, sama sikapnya Bu Bella." jawabnya sambil berbisik, matanya sibuk menelisik ke arah luar, takut kalau kalimatnya ada yang mendengar.


"Aku baik baik saja kok, Bi.


Bi Titin baik sama aku saja, itu sudah cukup." sahutku tenang, menyembunyikan rasa sakit di dalam hati ini.


"Yang sabar ya, mbak.


Mbak Anniyah orang baik, insyaallah akan beruntung setelah melewati ujian." balas bibi yang membuatku langsung menatapnya heran, kalimat ambigu yang di ucapkan bibi, membuatku berpikir jika bi Titin memang tengah menyembunyikan sesuatu, tapi apa itu aku juga gak tau.


"Kok lihatin bibi begitu sih, mbak?" Bi Titin salah tingkah dan terlihat menggaruk pipinya, tingkahnya jujur membuatku geli.


Lalu aku kembali fokus dengan acara memasak.


Setelah selesai, aku menuangkan sayur ke dalam mangkok, lalu mengambil nasi yang masih ada di dalam magic com yang ada di dapur.


"Bi Titin sudah makan?"


"Belum mbak, nanti saja habis menyelesaikan pekerjaan bibi dulu." sahutnya sambil tangannya sibuk membersihkan alat bekas masak ku.

__ADS_1


"Sini, bi.


Makan bareng Anniyah. Bibi biar tau rasa masakan Anniyah." aku berusaha membujuk bibi biar tidak sungkan makan bareng denganku, dan akhirnya bi Titin pun mau. Kami makan sambil bercerita, Bi Titin memang orangnya ramah dan lucu. Bicara dengannya sedikit membuatku merasa lebih baik.


Setelah selesai makan, aku kembali ke kamar atas, sambil membawa buah mangga yang sudah aku potong potong. Untuk jadi teman nyemil saat menulis nanti.


Saat melewati ruang tengah, nampak mbak Bella dan mas Hamzah tengah bermesraan, mereka saling duduk berdempetan dan nampak mas Hamzah tengah mengusap wajah istrinya itu. Meskipun ada perasaan sakit, aku berusaha bersikap biasa saja, lagi pula aku ini siapa, hanya perempuan yang dipinjam rahimnya untuk memberikan mereka seorang anak.


Baru saja akan mendaratkan bokong ini ke kasur, terdengar bunyi ponselku menjerit jerit.


Nama Rena adik mas Hamzah terpampang di layar datar milikku.


"Hallo Asalamualaikum, Ren.


Iya, ada apa?" sapaku setelah memencet tombol hijau pada layar.


"Waalaikumsallm, mbak.


Mbak, habis ini aku jemput mbak Anniyah ya, mama memintaku untuk bawa mbak Anniyah melihat sesuatu, insyaallah sesuatu yang akan membuat mbak Anniyah senang." sahut Rena dengan suara yang terdengar riang.


"Jam berapa, Ren?


ini mbak masih belum siap siap loh." sahutku yang sedikit penasaran dengan ucapan Rena.


"Yasudah, mbak langsung siap siap gih.


Gak usah dandan, mbak sudah cantik kok.


Dua puluh menit lagi aku akan sampai disana. Soal mas Hamzah tenang saja, biar nanti aku yang akan bicara dengannya. Mbak sekarang siap siap ya. Asalamualaikum." tanpa menunggu jawaban dariku, Rena langsung menutup telponnya. Dan akupun menuruti perintahnya untuk langsung bersiap siap.


Akupun tanpa menunggu lagi, langsung turun tapi sebelumnya meraih tas warna hitam kesayanganku yang ada di atas meja.


"Emangnya mau kemana kalian?" terdengar suara mbak Bella bertanya pada Rena.


"Bukan urusan mbak. Aku cuma melakukan perintah mama untuk menjemput mbak Anniyah." sahut Rena dengan suara ketusnya.


"Lihat adikmu, mas.


Dari dulu tidak pernah ada hormatnya padaku.


Dan kenapa juga dengan mama, kenapa mau ketemu dengan Anniyah segala?


Sama aku yang menantunya saja tidak pernah mau perduli." terdengar suara kesal mbak Bella yang tengah protes pada mas Hamzah.


Aku masih diam mematung di undakan tangga dengan perasaan yang tak menentu.


"Itu mbak Anniyah, ayo mbak kita berangkat.


Mama sudah nungguin." Rena menghampiriku dan mengulurkan tangannya menyambut kedatanganku, akupun menyambutnya dengan senyuman manis dan meraih jemari nya yang lentik dan mulus.


"Mas, aku pamit pergi dengan Rena ya?


Mbak Bella, aku pamit pergi dulu." setelah berada di hadapan mas Hamzah dan mbak Bella akupun berpamitan dan mengulurkan tangan ini untuk bersalaman, namun mbak Bella dengan kasar menepis tanganku, sedangkan mas Hamzah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istri kesayangannya itu.

__ADS_1


"Aku pamit, mas. Asalamualaikum." pamit ku setelah mencium tangannya takzim.


Dengan langkah ringan, aku dan Rena pergi meninggalkan rumah yang membuatku merasa tak nyaman berada di dalamnya. Setidaknya hari ini aku akan sedikit tenang jauh dari ocehan kasar istri pertama suamiku.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Fitnah mereka


Novel on going :


#Ayah aku juga anakmu


#Tentang luka istri kedua


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


#Ganti istri [Tamat]


#Wanita sebatang kara [Tempat]


#Ternyata aku yang kedua [Tamat]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2