
Hampir tiga jam, Anniyah terlelap ke dalam tidur nyenyaknya. Tubuhnya benar benar lemas, karena sejak semalam dia muntah muntah. Saat membuka matanya, nampak sang suami tengah serius menatap laptopnya. Hamzah tengah berada di sofa yang ada di dalam kamar mereka.
"Mas." Lirih Anniyah yang mengubah posisinya dengan bersandar di bahu ranjang.
"Udah bangun, dek?
Gimana, masih pusing?" Sahut Hamzah, yang langsung beranjak untuk mendekat ke arah sang istri.
"Alhamdulillah, sudah mendingan." Sahut Anniyah, yang menatap wajah suaminya dengan perasaan berdebar.
"Alhamdulillah. Kamu siap siap gih, kita pergi ke dokter setelah ini. Dan nanti setelah pergi ke dokter, mas mau ajak kamu jalan jalan." Hamzah meraih jemari Anniyah lembut, digenggamnya dengan perasaan yang kini mulai bersemi bibit bibit cinta.
"Iya, mas. Aku siap siap dulu ya." Balas Anniyah yang langsung beranjak dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Dek, mas tunggu di bawah ya."
"Iya, mas." Sahut Anniyah dari dalam kamar mandi. Hamzah langsung keluar kamar menuju dapur. Membuka kulkas dan mengambil beberapa buah dan mengupasnya, lalu di potong-potong dan dimasukkan ke dalam wadah. Hamzah ingin melayani istrinya, memakan buah sangat baik untuk pertumbuhan janin, apalagi orang hamil sangat mudah merasa lapar.
"Loh, pak Hamzah. Kenapa gak bilang sama mbok saja. Biar mbok yang siapin." Mbok Atun menatap majikannya dengan wajah mengerut, merasa heran dengan sikap Hamzah yang tak biasanya.
"Biar Hamzah saja, mbok. Ini kan juga buat istri dan calon anakku. Anniyah baru saja bangun tidur, pasti dia lapar, makan yang seger seger biar dia fresh. Dan juga bisa dibawa di perjalanan, kami akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya Anniyah." Sahut Hamzah yang begitu bersemangat melakukan tugasnya sebagai calon ayah.
"Owh begitu, Mbok senang melihat mas Hamzah bahagia seperti ini. Semoga sehat terus ya, mas. Dan selalu rukun sama istri. Mbak Anniyah wanita yang baik dan shalihah, insyaallah akan jadi penyejuk untuk suami dan anak anaknya kelak."
"Aamiin, makasih ya mbok.
Aku juga senang banget. Rasanya sudah gak sabar menunggu kelahiran anak pertamaku, mbok. Akhirnya, aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah. Alhamdulillah."
"Loh, mas. Kamu sedang apa?" Tiba tiba Anniyah sudah ada di dekatnya Hamzah, menatap suaminya dengan wajah mengerut. Hamzah justru tersenyum lebar sambil terus memotong buah apel yang ada ditangannya.
"Mas lagi potongin buah buat kamu, dek. Biasanya bumil itu mudah sekali lapar. Ayo ini di makan dulu buahnya, nanti sisanya bisa dibawa ke mobil, di makan di jalan saja." Hamzah menyodorkan buah yang sudah selesai di potong potong ke arah Anniyah.
"Makasih ya, mas. Aku memang sedang lapar." Balas Anniyah yang langsung melahap buah di hadapannya. Senyumnya terkembang sempurna, semakin membuatnya terlihat cantik. Apalagi kini pipinya mulai terlihat tembem. Hamzah semakin gemas dengan wanita yang kini mulai mengisi hatinya itu.
"Mau sekalian dibuatkan susu, gak?" Tawar Hamzah yang tersenyum melihat wajah bahagia sang istri.
"Gak usah, mas. Ini saja sudah cukup. Kita lebih baik berangkat sekarang saja, biar tidak kesorean. Buahnya, biar aku makan di mobil saja."
"Siap, sayang. Mas cuci tangan dulu ya." Sahut Hamzah, yang langsung membuat Anniyah merona. Tak menyangka jika hati laki laki yang menikahinya karena perjanjian, kini mulai tumbuh rasa dan berlahan mulai bersikap hangat dan penuh perhatian.
__ADS_1
"Kondisi bayinya bagus ya, sehat dan terlihat mulai aktif. Ibunya harus banyak makan sayur, buah dan jangan lupa minum vitamin juga. Untuk keseluruhan baik semua." Jelas dokter Rani yang menjadi dokter langganan Anniyah sejak awal.
"Makasih ya dok, Alhamdulillah." Sahut Anniyah lega dan tersenyum manis menatap Hamzah yang juga tersenyum bahagia.
Anniyah dan Hamzah keluar dari ruangan dokter. Lalu mengantri untuk menebus obat. Namun tanpa di duga, perempuan cantik yang tak asing di mata Hamzah dan Anniyah datang menghampiri dengan wajah tak bersahabat.
"Ternyata kamu ada di sini juga, mas.
Kamu tega ya, lebih memilih mengantar istri muda kamu dari pada aku, istrimu yang sah, istri yang sudah menemani kamu sejak kamu masih belum jadi apa apa. Dan hanya karena aku belum bisa punya anak, kamu tega menikahi perempuan lain dan lebih perduli kepadanya." Bella sengaja ingin mempermalukan Hamzah dan Anniyah di depan umum, seolah dirinya yang sudah terdzalimi. Dan sikapnya itu semakin membuat Hamzah muak dan hilang respect padanya.
"Apa apaan kamu, Bella?
Jangan bikin onar disini, ini rumah sakit, jangan memancing emosiku." Tekan Hamzah yang wajahnya kini sudah merah padam, sedangkan Anniyah memilih diam saja, meskipun hatinya kembali merasakan nyeri oleh ulah absurd kakak madunya.
"Apa aku salah, mas?
Aku ini istrimu loh, istri pertama kamu. Aku juga ingin diperhatikan dan disayang seperti dia, istri muda kamu." Sungut Bella dengan senyuman sinis diarahkan pada Anniyah.
Bisik bisik pengunjung yang kebanyakan para ibu ibu semakin terdengar riuh, banyak yang mencaci Anniyah karena dinilai seorang pelakor, dan banyak juga yang menatap benci pada Hamzah yang dinilai tukang selingkuh.
"Benarkan, kamu hanyalah istri muda yang berhasil merebut perhatian dan cinta suamiku?
Sesama perempuan harusnya kamu bisa memahami hati perempuan lain, bukannya malah bahagia karena sudah berhasil merebut suami wanita lain. Bahkan kamu sudah merebut simpati mertuaku, buktinya dia memberikan rumah mewah untukmu. Menjijikkan!" Lanjut Bella yang sengaja mengeraskan suaranya, agar di dengar oleh semua orang. Anniyah terdiam, hatinya teramat sakit oleh tuduhan palsu yang Bella lontarkan. Sedangkan Hamzah, sekuat tenaga berusaha menahan emosinya.
"Cukup! Hentikan ocehan gilamu itu, Bella.
Anniyah istriku, dan itupun juga kamu sendiri yang memilihnya. Kami punya hubungan yang halal. Sah dimata hukum dan agama. Harusnya kamu malu dengan ucapan kamu itu, kata katamu harusnya kamu lontarkan untuk dirimu sendiri, yang sangat senang berselingkuh dan menjalin hubungan dengan laki laki muda bahkan menggunakan uangku untuk menyenangkan selingkuhan kamu. Memalukan!" Bentak Hamzah yang langsung membuat Bella salah tingkah, wajahnya sudah terlihat pucat pasi. Suara suara riuh ibu ibu kini beralih mengecam pada Bella. Karena gak kuat malu, akhirnya Bella memilih meninggalkan rumah sakit dengan kebencian dan amarah di hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Fitnah mereka
Novel on going :
__ADS_1
#Anak yang tak dianggap
#Tentang luka istri kedua
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️