
"Alhamdulillah sudah, mas Hamzah sudah makan belum?" Sahut Anniyah menanggapi ucapan suaminya.
"Iya, ini baru mau makan. Titip salam sama dedek yang ada di perut ya, bilang kalau papanya kangen." Balas Hamzah yang membuat Anniyah merona. Sedangkan Bella yang tak sengaja mendengarkan obrolan mereka, nampak menahan rasa sakit yang luar biasa dihatinya. Air matanya mengalir begitu saja, tak menyangka jika kebodohannya adalah penyebab lukanya sendiri.
"Bella, ada apa?" Tiba tiba Bu Lasmi sudah berada disampingnya Bella, menatap iba pada anak perempuannya yang begitu terpuruk.
"Gak papa, ma. Aku hanya merindukan kehangatan seperti dulu bersama suamiku. Tapi sepertinya itu butuh waktu, karena saat ini, dia masih begitu menjaga jarak denganku." Sahut Bella yang tak ingin mengatakan apa yang baru saja didengarnya. Berusaha menutupi luka hatinya, agar tidak melebar kemana mana karena ikut campur sang mama.
"Bersabarlah, mama yakin, suami kamu masih menyimpan perasaan cinta itu untukmu. Sebaiknya fokus pada perbaikan sikapmu dan hentikan semua kebiasaan buruk kamu selama ini. Jangan ulangi lagi apa yang membuat Hamzah murka. Jujur, mama menyesal karena tidak bisa mendidik kamu dengan baik selama ini. Justru karena sikap mama, kamu menjadi istri yang pembangkang pada suami kamu. Maafin mama!" Balas Bu Lasmi yang memang akhir akhir ini merenungi sikapnya yang salah.
"Iya, ma. Bella juga sudah memikirkan semuanya dengan matang. Saat ini hanya ingin fokus menata hati dan diri, agar siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi." Lirih Bella yang mengusap titik bening di pipi mulusnya.
"Ayo, tunggu suami kamu di meja makan. Jangan siksa dirimu untuk mendengarkan apa yang seharusnya tidak perlu kamu dengarkan." Sambung Bu Lasmi yang sebenarnya sudah tau penyebab anaknya bersedih, karena dia sendiri juga mendengar pembicaraan Hamzah dengan istri mudanya.
Tanpa banyak bicara, Bella menuruti ucapan ibunya. Mereka berjalan beriringan menuju dapur, duduk di kursi meja makan sambil berbincang. Menunggu kedatangan Hamzah untuk bergabung. Tak lama kemudian, Hamzah muncul dengan wajah datarnya. Mengambil tempat duduk tepat di hadapan Bella tanpa melihat ke arah sang istri.
"Mas mau makan dengan lauk apa?" Sambut Bella yang dengan cekatan mengambilkan nasi ke atas piringnya.
"Sayur lodeh sama ikan saja." Sahut Hamzah singkat, dan langsung di iyakan sama Bella.
"Ini, mas. Silahkan makan." Bella menyodorkan piring yang sudah di isi dengan nasi dan sayur lengkap dengan lauknya sesuai permintaan Hamzah.
"Terimakasih." Balas Hamzah singkat dan langsung menikmati makanan yang ada di piringnya. Begitu juga dengan Bella dan Bu Lasmi, mereka memilih diam dengan menikmati makanan yang ada di piring masing masing.
********************************
"Mas, boleh aku bertemu dengan Anniyah?
Aku ingin bicara dengannya." Bella mengutarakan keinginannya untuk bertemu Anniyah, setelah mereka selesai makan dan tengah duduk santai di teras belakang.
"Untuk apa?
Jangan bikin masalah baru lagi, Bella." Sahut Hamzah yang terlihat tidak suka dengan niat Bella ingin bertemu istri mudanya.
"Aku ingin minta maaf, mas. Aku hanya ingin bicara dengan Anniyah, tidak lebih." Sahut Bella lirih, ada sesak yang meranggas dadanya kala terdengar suaminya tak lagi mempercayai niat baiknya.
"Apa kamu yakin tidak akan bikin ulah lagi?
__ADS_1
Anniyah sedang mengandung anakku, aku tidak ingin terjadi apa apa dengan mereka." Balas Hamzah yang menatap tajam ke arah Bella yang sudah terlihat kecewa dengan sikap suaminya.
"Baiklah, aku tidak akan menemui istri muda kamu. Maaf kalau aku sudah lancang mengganggu ketenangan kalian." Sahut Bella dengan dada yang sudah bergemuruh menahan rasa sakit. Tanpa mau menoleh lagi, Bella pergi meninggalkan Hamzah dan memilih memasuki kamarnya. Menumpahkan rasa sakit dan kecewanya dengan tangisan. Hamzah hanya diam dan berulang kali membuang nafasnya kasar.
Pukul sepuluh malam, Hamzah baru masuk ke dalam kamar, dan mendapati Bella yang sudah tertidur dengan posisi membelakangi.
Dengan pikiran yang kacau, Hamzah ikut merebahkan tubuhnya di samping Bella. Meskipun matanya enggan untuk tidur, namun Hamzah berusaha memejamkan matanya. Hingga larut malam, Hamzah belum juga bisa tertidur. Memilih beranjak dan pergi keruang kerjanya. Disana Hamzah menyalakan komputer miliknya dan melihat album pernikahannya dengan Bella beberapa tahun lalu.
"Nyatanya ini tak mudah, kamu sudah menjadi bagian dari hidupku bertahun tahun. Meskipun sudah sangat berusaha untuk bersikap acuh, hati ini tak bisa dipungkiri jika nyatanya aku tersiksa dengan semua ini." Gumam Hamzah yang sudah berkaca kaca menatap foto pernikahannya dengan Bella yang terlihat begitu bahagia.
Lama Hamzah meratapi kesedihannya hingga tanpa sadar tertidur dalam posisi duduk dengan kepala yang tertelungkup di atas meja kerjanya, sampai terdengar adzan subuh, baru Hamzah terjaga dan tubuhnya terasa sakit semua.
"Aaargh, ternyata aku tertidur di sini. Pantesan badanku sakit semua." Gumam Hamzah yang mengusap wajahnya kasar dan akan beranjak ke kamar mandi, namun tiba tiba Bella sudah berdiri di hadapannya dengan wajah heran.
"Kamu tidur di sini, mas?" Tanya Bella yang sudah berkaca kaca menatap wajah salah tingkah Hamzah.
"Iya, aku ketiduran di sini." Sahut Hamzah jujur dan berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Apa begitu jijiknya kamu denganku, mas?
Sebenci itukah kamu padaku saat ini?
Lalu untuk apa kamu memberikan waktu satu bulan untuk kita memperbaiki hubungan ini, sedangkan dirimu saja enggan membuka hatimu untukku?" Sambung Bella yang sudah tak tahan menahan perasaan kecewanya. Tanpa mau mendengarkan jawaban dari Hamzah, Bella pergi begitu saja meninggalkan Hamzah yang terpaku melihat kemarahan Bella. Bella kembali memasuki kamarnya dan menguncinya dari dalam, menangis sejadi jadinya mencurahkan rasa sesak yang kian membunuh mentalnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Sahabat Benalu
Novel on going :
#Anak yang tak dianggap
#Tentang luka istri kedua
__ADS_1
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
#Ganti istri [Tamat]
#Wanita sebatang kara [Tempat]
#Ternyata aku yang kedua [Tamat]
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1