Terbayang Kenangan Mantan

Terbayang Kenangan Mantan
Keguguran


__ADS_3

Niken sedang di periksa dokter . Erik mondar-mandir di depan ruang periksa tangan di lipat di dada yang satunya memegang mulutnya . Dia terlihat bingung dan kuatir dengan keadaan Niken .


Kemudian Bi Ina terlihat lari-lari kecil di lorong rumah sakit menuju keruang Niken di periksa " bagaimana keadaannya tuan?".


"Belum tahu Bi sedang di lakukan tindakan ".


Bi Ina duduk di kursi menunggu dokter keluar dan memberitahu hasilnya. Erik masih tetap mondar-mandir dengan posisi yang berbeda-beda.


" Bi sudah telepon suaminya Niken ". masih dengan posisi yang berbeda dan mondar-mandir di depan Bi Ina


"Sudah tuan tapi belum diangkat, tapi saya sudah kirim pesan siapa tahu nanti dibaca tuan ".


" Baiklah bi ".


Nadia yang mendengar bahwa Niken berada di rumah sakit itu segera melihat keadaannya.


"Bagaimana keadaannya ?".


"Masih di periksa dokter ? ". jawab Erik


"semoga yang aku kuatir kan tidak tejadi ". Nadia terlihat kuatir sambil duduk di samping Bi Ina.


Nadia memegang tangan Bi Ina erat yang terlihat gemetar " sabar Bi ".

__ADS_1


"Iya non, saya sudah menganggap non Niken seperti anak saya sendiri, dia baik. Non Niken memperlakukan saya sebagai orangtuanya sopan ,menghormati orang tua,dan juga menghargai orang lain". Bi Ina sambil menitihkan air mata Nadia mengelus punggung Bi Ina .


Erik yang mendengar perkataan Bi Ina semakin bingung dan kuatir mondar-mandir dengan posisi yang berbeda-beda dari tangan di pinggang di kepala di mulut entah berapa kali dia berganti posisi.


Sementara Andika yang sibuk bekerja tiba-tiba ingin melihat ponselnya dia menyuruh asistennya untuk mengambil ponsel di laci ruangannya. Andika tidak membawa ponsel karena posisi dia sedang memimpin meeting.


Asisten nya berbisik-bisik kepada Andika dan tiba-tiba Andika bangun dan segera pergi meninggal ruang meeting, melajukan mobilnya ke rumah sakit dimana Niken berada.


Andika terlihat di lorong rumah sakit dengan langkahnya yang cepat dan tergesa-gesa.


Sesampainya di depan ruangan dia menatap Erik dengan tajam seperti kucing bertemu lawan nya. Kemudian melihat bi Ina " bagaimana keadaan nya bi?".


" Anu tuan masih di periksa dokter" . dengan sedikit gemetar dengan tatapan nanar.


Andika sedikit tenang tidak seperti Erik yang mondar-mandir dia tetap berada di tempatnya namun dengan posisi yang berbeda-beda.


Bunyi pintu di buka perawat.serta Niken yang masih berbaring tidak sadarkan diri keluar dari ruangan. Bi Ina dan Nadia menghampiri begitu pun juga dengan mereka berdua.


Dokter pun juga keluar Andika ,Erik ,dan Nadia menghampiri dokter tersebut . sedangkan Bi Ina mengikuti perawatan membawa ke ruangan lain .


"Bagaimana keadaannya Dok?". Andika melontarkan pertanyaan kepada dokter dengan tatapan penuh harap


" Maaf anda keluarga pasien ? ". Dokter

__ADS_1


" Saya suaminya ".


" Baik tuan Andika keadaan istri anda baik tapi janin dalam kandungan mohon maaf tidak bisa di selamatkan ". Dokter


"Maksudnya Dokter, istri saya keguguran ". Andika dengan tangan yang gemetar jantung berdetak tidak beraturan badan lemah lunglai.


" Iya, kami mohon maaf karena tidak bisa menyelamatkan". Dokter sambil meninggalkan mereka bertiga


Erik yang mendengar pun ikut gemetar dan lemas. sedangkan Nadia terduduk lagi sambil menutup mulutnya merasa kasihan melihat Niken yang beberapa tahun dia menantikan kehamilan ini.


"Ini salah mu ". sambil menghantamkan kepalan tangan nya ke wajah Erik


Erik tersungkur jatuh kelantai, darah segar menetes dari pinggir bibirnya .


Erik bangun sambil mengusap darah itu


" apa maksudmu ? ".


"Kalian sengaja merencanakan ini kan ? karena kalian takut hubungan kalian terbongkar jika aku melakukan tes DNA". dengan tatapan menantang dan ingin menghantamkan lagi tinjunya


Namun dengan sigap Erik menangkisnya dan menghantam tinjunya ke wajah Andika


Bug ...

__ADS_1


Andika terjatuh dan tersungkur


"Dengar aku bukanlah orang yang serendah itu".


__ADS_2