
Bi Ina kuatir mendengar perkataan dokter Irawan,Bi Ina terus memegang tangan Niken berupaya untuk menenangkan Niken.
Sedangkan Niken sedikit gugup dengan pikirannya yang tidak karuan ,Niken menelan ludahnya dengan kasar berharap kabar yang diberikan dokter tidak seburuk yang dia pikirkan.
" Bagaimana nona apa anda sudah siap mendengarkan nya ? ". Dokter Irawan dengan tatapan sayu tak berdaya .
" Siap tidak siap saya harus siap menerima kenyataan dokter , apapun itu saya harus ikhlas karena semua sudah kehendak-Nya. Dan saya berharap ada hikmah di balik semuanya ". Niken mencoba melapangkan dadanya dan mencoba menerima kenyataan dan yang sebenarnya dia masih belum Siap
" Baik jika anda siap saya akan menjelaskan semuanya. Nona anda mengidap kanker darah atau leukemia". tutur dokter Irawan
Deg...
jantung Niken berdetak kencang darah nya mengalir cepat ke atas kepala hingga dia merasa pusing , tangan nya gemetar tubuhnya lemah seperti di sengat listrik tiba - tiba .
" Maksud dokter?". Niken berusaha bertanya lagi barang kali dokter salah mendiagnosa penyakit nya
Bi Ina terkejut kaki nya gemetar tubuhnya pun ikut lemas tak berdaya seperti disambar petir dan tangannya masih menggenggam tangan Niken .
" Iya nona anda positif mengidap kanker darah yang sudah menginjak akut Nona." Dokter meyakinkan Niken sambil menyerahkan kertas berisikan diagnosa penyakit dari tes yang dilakukan Niken .
Bi Ina langsung memeluk Niken dan menciumi Niken serta tangisan Bi Ina yang menggema di ruangan ini " Astaghfirullah non , yang sabar ya ! bibi akan menjaga nona dan merawat nona sebaiknya ,bibi tidak akan meninggal kan nona dan bibi akan tetap di samping nona apapun yang tejadi non ". sambil terus menciumi Niken
Niken hanya bisa mematung dan masih belum percaya tentang kenyataan ini dia benar-benar tidak bisa berkata apa - apa namun tanpa sadar air matanya jatuh di pipinya.
Bi Ina yang melihat Niken menangis mengusap air matanya dengan lembut dan meraih wajah Niken dengan lembut dan memeluknya seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya.
Dokter Irawan yang melihat kejadian ini pun tak mampu menahan kepedihan mata nya berkaca -kaca namun dia mampu mengendalikan air matanya .
" Apa mungkin saya bisa disembuhkan dokter ". Niken dengan penuh harap .
"semoga Tuhan memberi keajaiban Nona namun kami sebagai dokter sebisa mungkin akan berusaha ".
Niken lemas mendengar nya apa lagi dia sudah tidak mempunyai saudara kandung dan orang tuanya pun sudah meninggal sehingga kecil kemungkinan dia mendapat donor sumsum tulang yang cocok untuk dia.
__ADS_1
" Nona kalau boleh aku sarankan nona bisa berkonsultasi ke dokter Tania dia berada di daerah M mungkin dia bisa membantu nona namun tetap berdoa dan serahkan segalanya kepada Tuhan ". Tutur Dokter Irawan
"Kota M ?". tanya Niken
"Iya benar nona ". dokter Irawan
"Itu adalah tempat nenek dan kakek ku tinggal namun sudah lama mereka tidak ada dan sudah lama pula aku tidak pernah kesana Se ingat ku aku masih SD kesana dan disana masih ada rumah peninggalan kakek dan nenek ".
" Apakah kita akan kesana nona ? " . tanya Bi Ina
Niken masih diam dia tak mampu berpikir lagi dan tak mampu berbuat apa -apa. Akhirnya mereka berpamitan kepada dokter Irawan dengan penuh kesedihan .
Di setiap jalan menuju rumah Niken hanya diam saja bagaikan hidup sudah tidak ada gunanya Bi Ina yang melihatnya sangat kuatir berkali - kali dia menggenggam tangan Niken dan menciuminya namun Niken tak bereaksi sama sekali dia sudah tidak sanggup menghadapi dunia.
Sesampainya di rumah Niken langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya. Bi Ina sangat kuatir dan tidak tahu harus berbuat apa berkali - kali dia mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.
Didalam kamar Niken hanya bisa meringkuk dan menangis . Dia menangisi kisah hidupnya yang sangat menyedihkan mulai kehilangan ayahnya ,kemudian ibunya , kemudian calon baby nya hingga suaminya yang berselingkuh dan sekarang dia harus menghadapi penyakit yang mematikan didalam dirinya.
Tangisan Niken menggema ke seluruh ruangan kamar nya, Yang penuh kehampaan dan kesunyian . Baru saja dia menikmati kebahagiaan saat dia bersama Erik dan merasa kan dihargai oleh seorang laki-laki namun dia harus mengubur kebahagian itu dalam-dalam hingga tak ada yang mampu menggalinya lagi .
Tangisan nya semakin pecah dan menjadi - jadi hingga matanya membengkak air mata nya mengalir deras bercampur dengan ingus nya yang tidak dihiraukan lagi oleh Niken . Dia benar-benar merasa hancur lebur hingga merasa tidak tersisa.
Tiba - tiba dia teringat dengan Maisya yang mempunyai kisah yang menyedihkan namun dia masih bisa tegar dan masih berpikir untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain . Dia masih bersemangat untuk hidup walaupun dia tidak mempunyai siapa - siapa.
" Kenapa aku harus larut dalam sebuah kesedihan seperti ini , kenapa aku harus putus asa ? jika aku harus berakhir dengan penyakit ku ini setidaknya aku bisa berguna bagi orang lain , walaupun aku tidak menemukan bahagia setidak nya aku bisa membahagiakan orang lain ? ". Gumam Niken yang bergelut dengan pikirannya sendiri.
Kemudian Niken mengusap air matanya dan mencoba menata hatinya menerima keadaannya dan berdamai dengan kenyataan .
Niken menghela nafas panjang berkali- kali dan menghirup udara di ruangan itu dengan dalam .
mencoba menikmati kisah hidupnya yang kelam dengan tenang.
Tok ...tok.
__ADS_1
Bunyi ketukan pintu berkali-kali.
Bi Ina masih kuatir dan berusaha untuk menghibur Niken
" bagaimana ini apa aku harus menelepon tuan Erik untuk mengatakan semuanya atau..
?". bi Ina berbicara sendiri sambil mondar-mandir di depan pintu kamar Niken dan memegang erat ponselnya .
Tiba - tiba Niken keluar dari kamarnya dan berdiri dihadapan Bi Ina.
" Non .. apa nona baik - baik saja ? ". bi Ina gemetar melihat Niken sambil memegang bahu Niken dan memeluknya erat - erat dan berkali - kali membelai wajah Niken dan menciuminya .
"Aku baru saja akan menelepon tuan Erik non".
" Bi tolong jangan beri tahu siapa pun tentang penyakit ku Bi ! ". sambil mengajak bi Ina duduk santai di sofa
" Maksud nona". dengan tatapan kosong tidak mengerti yang dimaksud Niken .
"Tolong rahasiakan tentang penyakit ku Bi aku tidak ingin dia bersedih dan kuatir dengan ku".
" Lalu non akan merahasiakan ini semua kepada semua orang non ? ."
Niken tersenyum melihat wajah polos Bi Ina
" Iya Bi aku akan bersikap seperti biasanya dan melanjutkan rencana ku setelah selesai aku akan pergi ke kota M menemui dokter Tania siapa tahu ada jalan . jika pun tidak ada jalan aku ingin di semayamkan di tanah tempat kelahiran ku di samping makam kakek dan nenek ku sehingga aku merasa tidak kesepian". Niken sambil tersenyum seperti tidak ada kepedihan dalam hidupnya.
***
hai readers nyesek banget ya dengan kisah hidup Niken .
Gimana masih bertanya-tanya tentang kelanjutan jalan hidup Niken yang berliku dan bagaimana dengan cinta Erik apakah cinta Erik akan memudar setelah dia tahu bahwa Niken mengidap penyakit mematikan ???
Ikutin terus keseruannya ya dan siapkan sapu tangan untuk episode-episode selanjutnya 😁😁😁
__ADS_1