
Nadia dengan sedikit ragu menghampiri Niken dan dengan pelan -pelan dia mendorong ayunan itu.
Ayunan itu bergerak maju dan mundur dan terlihat di wajah Niken rona bahagia dengan senyum merekah di bibirnya.
" Aku tidak ingin melihat Erik bersedih , aku benar-benar tidak sanggup ". kata Niken lirih sambil bermain ayunan yang didorong oleh Nadia.
" Tapi apa tidak sebaiknya dia tahu Niken biarlah dia memanfaatkan waktu yang singkat ini bersamamu agar dia tidak terlalu terpukul nantinya, tapi aku berharap kamu bisa sembuh dan bersama Erik selamanya". Nadia menjawab sambil menghentikan ayunan berharap Niken mau mendengar perkataannya.
Ting...Ting..Ting..
Suara ponsel Nadia berbunyi , Nadia segera mengambil nya dari saku bajunya .
" Niken sebentar ya aku tinggal angkat telepon dulu ". Nadia Sambil memegang ponselnya dan berpamitan kepada Niken
" Baiklah". Niken sambil tersenyum
***
Sementara BI Ina masih di ikuti oleh Erik dan juga pengawal Andika . Tiba - tiba Bi Ina berhenti di satu tempat perbelanjaan. Kemudian Bi Ina turun dari mobil bersama sopir masuk kedalam tempat perbelanjaan.
Apa Mereka janjian disini ? pikir Erik
" Kamu turun ikuti mereka kalau ada kabar baik segera beritahu aku ". menyuruh salah satu pengawal nya turun
Sedangkan Andika masih dalam perjalanan menuju tempat Bi Ina. Namun dia masih di cegat oleh macet .
Tin...tin..tin...
Andika membunyikan klakson berkali-kali dengan raut wajah kesalnya .
" Brengsek ...". Andika sambil memukul setir mobilnya melampiaskan kekesalan nya.
Erik masih menunggu di posisi awal raut wajahnya yang gelisah dan sesekali memandang keluar jendela mobil dan ponselnya menunggu kabar dari pengawalnya tak lama kemudian Bi Ina keluar dengan membawa beberapa barang di bantu oleh sopirnya. kemudian masuk lagi kedalam mobil nya.
Pengawal Erik pun masuk kedalam mobil .
" Apa ada sesuatu mencurigakan? ". Tanya Erik dengan raut wajah tidak sabar
" Tidak tuan mereka hanya belanja saja ". jawab pengawal nya .
__ADS_1
" Baiklah fokus kedepan ikuti terus ". perintah Erik sambil memfokuskan pandangan nya kedepan menatap mobil yang di naiki Bi Ina .
" Baik tuan ". pengawal Erik
Mereka berkendara melewati jalan - jalan yang berliku menuju rumah Niken yang baru di samping jalan di hiasi dengan pepohonan yang rimbun namun sangat indah dan terlihat alami .
Dan disuguhkan kanan kiri jalan perkebunan yang luas namun menambah ke indahan pemandangan.
" Bi memang Ibu Niken menyuruh bibi belanja sebanyak ini ? ". tanya sopir Niken
" Tidak pak hanya sedikit , namun Bi Ina ingin beli oleh -oleh buat anak panti asuhan dan non Maisya karena mereka sangat baik sama non Niken dan juga saya". jawab Bi Ina
" Oh begitu ". pak sopir sambil mengangguk kan kepalanya dan menatap kaca tengah mobil yang menghadap ke Bi Ina
" Nanti mampir dulu ke panti asuhan ya , saya ingin ngasih oleh - oleh ini ke mereka dulu ".
" Baik , Bi".pak sopir
Setelah hampir satu jam mereka berkendara mereka sudah sampai di panti asuhan Maisya. Dan mereka di sambut oleh anak panti asuhan yang terlihat bahagia .
Bi Ina turun dan menyerahkan oleh-oleh ke pengurus panti . Maisya pun menyusul menyambut Bi Ina . mereka terlihat akrab dan Maisya mencium tangan Bi Ina seperti orang tua nya sendiri .
Setelah Bi Ina menyapa mereka semua yang ada di panti Bi Ina segera berpamitan dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Niken.Tidak berapa lama Bi Ina sudah sampai di depan rumah Niken yang asri dan sangat bersih .
" Alhamdulillah sudah sampai ". Bi Ina sambil keluar dari mobil dan membawa barangnya masuk ke dalam rumah di susul oleh sopirnya .
Nadia sehabis menerima telepon dia menghampiri Niken .
" Niken maaf hari ini aku harus kembali ke kota karena teman ku hari ini sedang izin karena orangtuanya meninggal sedangkan pasien hari ini lumayan banyak jadi aku harus bergegas membantu rekan -rekan yang lain . Maaf ya Niken aku tidak bisa menemanimu lama tapi aku berjanji akan menemanimu lagi !". kata Nadia sambil mengelus punggung Niken dan memeluknya
" Baiklah ". jawab Niken sambil tersenyum manis
" Sepertinya BI Ina sudah pulang ". Kata Nadia setelah mendengar suara mobil di halaman rumah .
"Iya " jawab Niken sambil tersenyum lagi .
" Ok , aku balik dulu ya , bye ". Nadia sambil melambaikan tangan untuk Niken setelah berpamitan , berpelukan dan mencium pipi kiri dan kanan.
Niken membalas lambaian tersebut .
__ADS_1
Separoh perjalanan dia berpapasan dengan Bi Ina .
" Hai bi , sudah pulang ". Nadia menyapa Bi Ina
" Iya non ,". membalas sapaan Nadia sambil tersenyum.
" Wah banyak sekali oleh -olehnya bi ?". Tanya Nadia sambil memandang tas kresek besar yang dibawa Bi Ina dan juga pak sopir.
" Iya non , non Niken lagi kepingin makan - makan ". bi Ina sambil tertawa .
" Oalah ok Bi , aku pulang dulu ya ! ". Nadia sambil menepuk bahu BI Ina .
" Lo kok buru-buru non , tidak ingin mencicipi masakan Bi Ina nih ?".
" Iya Bi , maaf ya soal e harus kerja ". jawab Nadia sambil melipat tangannya di depan dada memohon maaf .
" Oalah ok non, Jangan lupa kesini lagi ". suruh bi Ina
" Tentu bi . " sambil mengacungkan jempolnya menandakan dia setuju.
Erik masih memantau ketika dia melihat Nadia dia langsung keluar dari mobilnya . Nadia pun berjalan menuju mobilnya namun ketika dia mau membuka pintu mobil Erik sudah menunggu di depan mobilnya .
" Erik .." Nadia terkejut dan hampir menjatuhkan kunci mobilnya
" Dimana Niken ?". Tanya Erik tanpa basa - basi.
Niken melihat ke arah Niken yang sedang bermain ayunan membelakangi tempat halaman tersebut. Dan tanpa banyak tanya Erik langsung menuju ketempat Niken dengan perasaan yang tidak karuan , jantung berdetak kencang, tangan lemas hingga seluruh tubuh lemas .
Dia mencoba bertahan dengan sekuat tenaga menghampiri Niken dengan langkahnya pelan penuh dengan kepedihan . Hatinya terasa sakit hingga matanya berkaca-kaca.
Ada rasa bahagia didalam hatinya karena orang yang di rindukan dan dia cari selama ini sudah ketemu . Namun ada rasa sakit yang melanda karena mengingat penyakit Niken yang sulit di sembuhkan dan Erik takut bahwa dia tidak bisa bersama Niken lagi.
Erik masih melangkah kan kakinya dengan pelan menahan semua beban dan kepedihan . Niken terlihat sangat cantik dari belakang memakai baju putih dan rok panjang rumbai berwarna biru sangat cantik bagai seorang putri dan tubuhnya yang terlihat makin ramping karena berat badannya selalu menurun karena keadaannya membuat dia terlihat lebih cantik lagi. Dan terlihat wajahnya yang ceria yang bersatu dengan keindahan alam di sini.
Erik terpaku di belakang Niken dia tak kuasa untuk memanggil nya dan memutuskan untuk memandang dari belakang, air matanya mulai tak mampu dia bendung lagi hingga menetes di pipinya semilir angin menerbangkan butiran-butiran air matanya yang jatuh di pipinya .
####
bersambung
__ADS_1