
Pegawai restoran membawa pesanan mereka berdua di tata sangat rapi dan indah . Mungkin orang yang melihatnya tidak akan tega memakan nya karena sangat indah .
Niken yang melihatnya pun sangat kagum dengan keindahan makanan itu .
"Wah .. indah sekali aku tak rela memakannya " sambil memandangi makanan yang di letakkan di depannya dengan tatapan berbinar penuh kekaguman.
Erik yang melihat kelakuan Niken hanya tersenyum saja dengan kepolosan Niken yang apa adanya .
"Silahkan Tuan dan Nona ini adalah makanan spesial di restoran kami , banyak para tamu yang memesan makanan ini ". pegawai restoran mempersilahkan mereka makan dengan sopan .
"Baik terimakasih ". jawab Erik
Kemudian pegawai restoran membungkuk kan badan dan mundur kemudian beranjak meninggalkan mereka berdua.
Niken masih dengan tatapan berbinar nya dan tak henti-henti mengagumi karya di depannya.
" Seperti rangkaian bunga yang aku buat tapi hebatnya ini makanan dan bisa di makan ". Niken tak henti-hentinya mengagumi makanan di depannya .
Kemudian Niken mengeluarkannya ponselnya memotret satu persatu makanan di meja . Erik yang melihatnya hanya tersenyum saja sambil melipat tangannya di dada menunggu Niken selesai memotret.
" Apa sudah selesai memotretnya aku lapar ". sambil mengambil garpu dan pisau di meja siap melahap makanan di depannya
" Wah .. sungguh kamu ingin memakannya Erik ?. Apa kamu tega ? ". Niken dengan tatapan sayu menatap makanan itu karena tak rela dia di makan Erik .
Erik kemudian mengambil garpu dan pisau dan mengiris makanan di depan nya " Hmm.. lezat ". sambil memakan nya menggoda wanita di depannya yang sedang mengagumi makanan tersebut.
"Ah... Erik kamu tega memakannya " merengek dan memanyunkan bibirnya kesal
"Coba ... coba ini.. ayo coba !". sambil menyuapkan makanan di hadapannya dengan paksa
Niken terpaksa membuka mulutnya dan memakannya , raut wajahnya berubah tadi yang terlihat kesal sekarang terlihat bahagia karena makanan itu ternyata lezat.
"Hmm... enak ". sambil mengunyah makanan tersebut kemudian setelah merasakan makanan itu Niken mengambil garpu dan pisau melahapnya dengan rakus .
" Hai ...jangan di makan semua aku gak Kebagian Niken ". sambil berebut dengan Niken
Mereka berdua sekarang bertambah akrab dan tanpa ada sekat dan segan mereka sudah seperti seorang kekasih saja yang tidak ada kata malu diantara mereka dan tanpa mempedulikan pandangan orang yang melihat mereka berebut makanan padahal itu adalah restoran mahal yang harusnya menjaga sikap mereka.
Gelak tawa mereka menggema di ruangan itu, benar - benar seperti seorang kekasih. Erik semakin cinta kepada Niken karena dia mampu membuat dia tertawa tanpa mempedulikan orang lain .
Pegawai restoran datang memberikan tagihan nya . Niken mengambilnya matanya melotot melihat tagihannya.
" Wah ..mahal sekali . Sekali makan bisa menghabiskan gaji satu karyawan ku satu bulan , gila.." Niken sambil menggelengkan kepalanya serta menggigit bibir bawahnya .
Erik segera mengeluarkan sebuah black card " Pakai ini saja ". sambil memberikan ke pegawai restoran
" Ah .. tidak perlu aku akan membayarnya " . dengan tertawa kecil yang kecut sambil membuka dompetnya mencari card nya
"sudah mas pake itu aja ". Erik memberikan card tersebut ke pegawai
__ADS_1
" Baik pak ! ". pegawai itu mengambil card Erik
" Aku kan sudah bilang aku yang bayar ". sambil memanyunkan bibirnya
" Sudah lah anggap aku memberi hadiah atas keberhasilan mu Niken ". sambil tersenyum
"Hihihi .. baiklah makasih ya !". sambil menutup dompetnya kembali
Selesai makan Erik mengantar Niken pulang di Sepanjangan jalan mereka masih tetap bercanda gurau. Lampu kota yang kelap -kelip menambah terang suasana meraka.
Tidak terasa mereka sudah sampai depan rumah Niken.
" Aduh gak bisa dibuka ".Niken mengeluh sabuk pengaman nya gak bisa di buka sambil mencoba membuka.
Erik dengan sigap membantu membukakan.
klek...
Sabuk pengaman terbuka, posisi mereka sudah saling berdekatan, Niken sedikit memundurkan tubuhnya yang sudah hampir menyentuh Erik . dan Erik yang membungkuk dan mendongakkan kepalanya sudah hampir menyentuh hidung Niken . Kurang sedikit lagi mereka bersentuhan.
Deg...
jantung Niken berdetak
Erik seandainya aku sudah bercerai mungkin sudah aku peluk tubuh kekar mu ini
jantung Erik pun juga berdebar-debar
Niken seandainya kamu bukan istri orang sudah aku cium bibir merah mu ini .
Batin Erik dengan nafasnya yang ter engah-engah menahan asa dan hasratnya.
" Oh maaf .. " Erik segera menarik tubuhnya ke posisi semula
Niken hanya tersenyum dan sedikit salah tingkah
" Hihihi... aku turun dulu ya ! , Terimakasih . " Niken sambil membuka mobilnya
Niken turun dengan jantungnya yang masih berdebar-debar. Kemudian melambaikan tangannya " sampai jumpa ".
Erik masih menata nafasnya kembali , kemudian membalas lambaian tangan Niken .
Erik melajukan mobilnya sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat kebersamaannya dengan Niken . Hatinya berbunga-bunga.
Niken memandang mobil Erik hingga mengecil dan hilang di sela-sela jalan . Niken masuk kedalam rumah sambil tersenyum-senyum sendiri .
" Sudah pulang non ". Bi Ina menyapa Niken
Namun Niken tidak menyadarinya masih tetap tersenyum sendiri.
__ADS_1
" Non sudah makan? non .. non ". Bi Ina berkali-kali memanggil Niken karena dari tadi tidak menghiraukan sapaannya
" Eh... " Niken terkejut dan menata sikapnya Kembali agar tidak terhanyut dalam lamunan.
"Wah.. bahagia sekali nona ku ini , ada apa ya ? ". bi Ina meledek
" Gak ada Bi..". tersipu malu dan kemudian berlari menuju kamarnya .
Didalam kamar Niken masih terbayang wajah dan senyuman Erik . Niken tersenyum sendiri gemas kemudian menutup matanya dengan bantal namun bayangan Erik masih hinggap di ingatannya , Niken menggerakkan kaki dan tangan nya .
" Kenapa aku terbayang wajah kamu terus Erik , akhhh... ". Sambil menutup matanya dengan batal agar dia dapat mengusir wajah yang bermain di benaknya namun tak kunjung hilang. Niken mengguling-gulingkan badannya sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
Erik pun sama seperti yang dialami Niken dia juga tidak bisa tidur pikirannya hanya Terbayang wajah manis Niken .
Seperti dua anak muda di mabuk asmara tidak bisa tidur hanya bisa membuka mata dan menutupnya dan pikirannya dan ingatan nya hanya ada dia seorangππ
***
Niken megambil sepotong roti yang tersaji di meja makan dan tergesa-gesa memakannya.
" Bi berangkat dulu ya ..". sambil memakan sepotong rotinya dan beranjak pergi .
" Tunggu non ".
Niken menghentikan langkah kakinya yang sedikit cepat. Tidak beberapa lama Bi Ina sudah di depannya .
" Non .. darah ". sambil mengusap hidungnya ..
" Yang benar Bi ". sambil mengusap-usap hidungnya .
" Benar Bi ". sambil melihat darah ditangannya
Bi Ina segera megambil tisu dan mengusap hidung Niken . " Sebaiknya nona ke dokter !".
" Baiklah bi besok saya coba ke dokter ". sambil mengambil tisu ditangan bi Ina kemudian bergegas berangkat ke kantor nya.
"Non.. non ..". panggil Bi Ina .
Namun Niken tidak perduli terus bergegas.
" aku kok kuatir ya ". bi Ina berbicara sendiri dengan wajah yang was-was
.###
bersambung.
selamat membaca para readers tercinta ππ
jika ada salah penulisan atau tidak begitu di mengerti dengan cara bercerita atau menulis mohon maaf ya para readers mohon di maklumi ini novel saya yang pertama ππ
__ADS_1