
Bi Ina yang mendengar tangisan Niken tak kuasa dia memilih untuk keluar agar tidak terlihat kesedihan nya dan tidak membuat Niken bertambah sedih jika dia ikut menangis .
"Kenapa semua ini terjadi padaku, aku sudah 3 tahun menantikan nya , kenapa tiba-tiba meninggalkan ku apa salah ku ? ". Tangisan Niken semakin menjadi-jadi
Erik yang melihat nya tak kuasa menahan kepedihan dia memeluk Niken dengan erat hatinya terasa sakit dan buliran air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya .
Entah dia harus berbuat apa terhadap wanita di hadapannya, dia hanya mampu memeluk erat memadamkan kepedihan nya.
sementara itu Andika yang sedikit kuatir dia mencoba menjenguk Niken . Namun setelah tiba di depan ruangan dan ketika membuka pintu dia melihat Erik yang memeluk Niken.
Andika yang melihat adegan itu putar balik dan kecurigaan dan kecemburuan nya semakin besar terhadap mereka berdua, dia pergi dengan hati yang terluka. Dia ingin menghantamkan tinju lagi di muka Erik,namun di urungkan nya karena dia menganggap tidak akan berguna membalas kelicikan mereka dengan kekerasan dia akan membalasnya dengan cara menyakiti hati Niken sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Dasar brengs*k mereka berdua memang tidak tahu malu , dan membuat anak yang aku ingin kan meninggalkan ku selamanya lihat saja nanti aku akan membalas nya ". gerutu Andika sambil berjalan dan tangan yang mengepal mata yang merah penuh kemarahan.
Bi Ina yang tadi diluar ingin kembali keruangan dan tanpa sengaja dia melihat Andika keluar dari ruangan Niken. Bi Ina ingin memanggil nya namun langkah nya yang panjang dan tergesa-gesa serta tatapan nya yang menakutkan membuat Bi Ina takut dan mengurungkan niatnya.
Sementara di ruangan Niken masih tetap menangis di pelukan Andika , kemudian Andika memajukan badan Niken dan memegang wajahnya dengan lembut
" Sabar Niken mungkin ini bukan waktunya kamu memiliki nya, tetap semangat ya ". sambil tersenyum lembut menyemangati Niken
"Sudah kamu istirahat ya , pikirkan kesehatan mu , jalan mu masih panjang , masih banyak bayi-bayi yang lain menantikan mu ". sambil mengusap puncak kepalanya sambil tersenyum
Bi Ina masuk kedalam ruangan, sementara Erik keluar ruangan.
__ADS_1
" Baiklah aku ada di ruangan sebelah kalau ada apa-apa tolong kasih tahu saya bi ". Erik berpesan kepada Bi Ina . Erik sengaja memesan satu kamar di sebelahnya karena dia sangat kuatir dengan Niken walaupun dia tidak sakit .
" Baik tuan , " sambil mengangguk
Sementara Niken sedang larut dalam kepedihan dia hanya terdiam dan sedikit-sedikit mengeluarkan air mata, Bi Ina yang melihat keadaan Niken seperti itu merasa tidak tega , dia berusaha menghibur Niken dengan cara bercerita tentang kehidupan nya dan keluarga terkadang bi Ina juga menghibur dengan candaannya.
Niken terlihat terhibur dengan cerita Bi Ina sehingga dia tidak meneteskan air mata lagi hingga malam larut Niken tertidur. Bi Ina yang dari tadi capek menghibur Niken lega melihat nya bisa tidur , Bi Ina pun menuju sofa untuk beristirahat juga.
Sementara Erik yang kuatir dia tidak bisa tidur di ruangan yang seharusnya di huni orang sakit dia mondar-mandir , kemudian dia mencoba melihat ruangan Niken karena sudah dari tadi menunggu kabar tidak ada kabar .
Dia membuka pintu dan melihat niken ,Bi Ina sudah terlelap. Hatinya lega melihat Niken sudah bis tidur dia melihat lekat wajah Niken ingin dia mencium dan memeluk nya erat dan ingin mengatakan bahwa dia rindu , namun apa daya dia bukan miliknya .
__ADS_1