
...***...
Malam sudah tiba dan saatnya makan malam bersama,Vano dan Alaska sudah tau akan kepulangan Alvaro berbeda dengan Vano yang bertanya ini dan itu Alaska memilih banyak diam saja.
Seperti saat malam ini,saat mereka berada diruangan yang sama dan meja makan yang sama dengan Alvaro,Alaska masih diam saja.
"Kamu gak rindu Papi,Ska ?" tegurnya pada Alaska,semua mata tertuju pada Alvaro dan Alaska.
"Rindu Pi" Entah masih merasa segan atau masih merasa takut,Alaska memang menjaga jarak.
Berbeda dengan Vano dan Zio yang menyambut sang Papi dengan riang.
Arisha menepuk punggung tangan Alvaro dan memberi isyarat padanya untuk tak melanjutkannya,biarkan Alaska menikmati makan malamnya dengan tenang dan Alvaro mengiyakan apa kata Arisha,dia tersenyum hangat pada sang istri.
Akhirnya mereka semua menikmati makan malam dengan seperti biasanya,tenang dan damai.
"Vano,Ska,sesudah ini keruang kerja Papi ya,ada yang ingin Papi bicarakan dengan kalian" tegas Alvaro setelah mereka sama sama menyelesaikan makan mereka.
Keduanya mengangguk tanda mengiyakan apa yang Alvaro perintahkan.
"Zio,enggak di ajak Pi ?" celetuk Zio
Alvaro tersenyum "Zio nanti aja sendiri,nanti kita bicara berdua ya,untuk sekarang Papi mau bicara sama kakak kamu dulu,Zio pergi ke kamar aja siap siap buat tidur atau melakukan apa yang Zio mau,atau kalau ada PR kerjain aja PR Zio ya,nanti kita bercerita banyak,Ok !!
"Ok,Zio mau belajar aja deh,biasanya kan Papi suka nyuruh Zio banyak belajar" celetuknya lagi.
Tatapan Alvaro jadi menyendu,selama ini dia memang merasa selalu seperti itu pada ketiga anaknya.Sebelum dia menjawab pernyataan Zio,ternyata Zio lebih dulu pamit padanya dan pada semua orang.
Dilanjut Vano dan Ska,kini tinggal Arisha dan Alvaro dimeja makan.
"Kamu ikut ya Sha,biar kamu dengar nanti" Alvaro berbicara pada Arisha yang sedang membereskan sisa makan keluarganya.
"Iya Mas,aku harus ikut,aku takut ada sesuatu diantara kalian nanti" ujar Arisha,dia melangkah untuk menyimpan piring kotor di dapur.
Alvaro mencegatnya,dia memeluk Arisha dari belakang "Aku ingin jadi Papi yang bijak untuk kali ini,bukan jadi Papi yang pemaksa kehendaknya sendiri"
Arisha terdiam mendengar itu,perkataan Alvaro membuat Arisha membeku,dia merasa kata kata Alvaro sebagai angin segar.
"Maksud kamu Mas ?" Arisha melepaskan pelukan Alvaro dan berbalik menghadapnya.
Sebelum itu Alvaro memanggil ART untuk beralih membereskan sisa makan tadi,dan dia menarik Arisha duduk disofa ruang keluarga.
__ADS_1
"Sha,selama ini aku sadar aku sangat salah,aku terlalu memaksakan apa yang aku mau,terutama pada anak anakku,kepergianku kemarin terasa sangat menyesakkan dada,namun membuat aku tersadar banyak hal"
Alvaro sedikit menghela nafas "Selama aku pergi,aku melihat kalian begitu bahagia,bisa mengekpresikan diri kalian sendiri,berbeda saat ada aku,kalian berubah jadi orang lain"
"Maafkan aku Sha,aku jadi Orang tua yang salah,yang selalu menuntut banyak hal dari mereka,harus selalu mengikuti apa yang aku mau,tanpa bertanya apa yang mereka sukai dan mereka inginkan,padahal aku ingat dulu aku sangat ingin menjadi dokter,tapi aku dipaksa dan dituntut Daddy berbeda,dan kini aku merasa,aku sama dengan Daddy"
"Sha,aku ingin berbicara dengan mereka,dari hati kr hati,aku ingin banyak mengobrol juga dengan mereka,mendekatkan diriku pada mereka,bisa mendengarkan keluh kesah mereka,menanggapi apa yang mereka mau selagi itu baik,seperti kamu"
"Selama ini,aku tak pernah begitu,waktuku aku habiskan dengan bekerja,sehingga mereka menjadi segan padaku,dan dengan payahnya aku selalu keras dan menyuruh mereka untuk belajar belajar,menjadikan mereka sebagai bonekaku"
Tak terasa setetes air mata jatuh dipelupuk mata Alvaro,dia merasai sesedih itu selama ini.
"Mas.." Arisha menggenggam tangan Alvaro.
"Maafkan aku Sha,tak pernah mendengarkan apa yang kamu katakan,selalu tetap dengan kekerasanku pada mereka.Maafkan aku Sha"
Dia menangkup kedua tangan Arisha,dan dia kembali menangis.Kini dia bertekad akan menjadi Papi yang bijak,memberi waktu pada ketiga anaknya untuk memilih dan membiarkan mereka meraih apa yang mereka inginkan.
Arisha memeluk sang suami,dia pun sama menangis terharu,kekeras kepalaan Alvaro akhirnya melunak dengan sendirinya,selama ini dia tak mendukung apa yang Alvaro mau,namun kali ini dia sangat senang dan sangat mendukung.
...***...
Keduanya duduk diantara Arisha yang berada ditengah tengah mereka,Arisha tersenyum hangat dan menggenggam tangan keduanya.
Alvaro pun menghampiri ketiganya dan duduk disofa tunggal yang ada diruang kerjanya,suasana terasa mencengkam terutama bagi Vano dan Alaska.
"Kenapa kalian tegang begitu ?apa sebegitu menyeramkanya Papi dimata kalian,hem ?"
Vano dan Alaska menelan salivanya kasar dan keduanya saling berpandang,Arisha tersenyum geli kembali menepuk tangan keduanya.
"Apa Papi seperti harimau yang sedang siap siap untuk menerkam kalian ?" ujarnya lagi dan membuat Vano juga Alaska menjadi kikuk.
"Mas,gak gitu juga" Arisha menegur Alvaro dan Alvaro malah tertawa.
Lalu dia memberi isyarat pada Arisha,supaya dia yang duduk disana,supaya pembicaraan mereka makin terasa hangat dan Arisha mengiyakan,dia bergeser ke samping Alaska,karena kebetulan sofa itu agak panjang,jadi cukup untuk mereka berempat tempati.
Alvaro merangkul bahu keduanya dan sedikit menepuk nepuknya.
"Maafkan Papi,selama ini tidak menjadi Papi yang bijak untuk kalian,malah menjadi sangat keras.Papi memang ingin segala yang terbaik untuk kalian,tapi cara Papi salah dan justru malah mengekang kalian karena pilihan Papi itu"
"Papi menyesal akan hal itu,Papi sudah sadar,Papi kehilangan kalian dengan seperti itu,setiap apa yang dipaksakan tidak akan pernah baik akhirnya,dan kini terasa membuat kalian jauh dari Papi,membuat kalian selalu merasa takut pada Papi,Maafkan Papi"
__ADS_1
Alvaro tak bisa menahan lajur air matanya untuk tak jatuh,dia mengusap air mata itu perlahan.Vano dan Alaska menatap sang Papi dengan perasaan yang haru.
"Pi,jangan begitu,Papi kan laki laki masa menangis" celetuk Alaska dan membuat Alvaro jadi tertawa kecil,dia lalu memeluk Alaska.
"Maafin Papi selalu keras pada kamu Ska,tanpa pernah bertanya apapun pada kamu"
"Alaska tak apa Pi,Ska tau Papi ingin yang terbaik untuk aku dan untuk kita juga,Ska mengerti,Pi"
Alvaro melepaskan pelukannya,dia kembali merangkul kedua bahu anaknya.
"Papi ingin tanya dan ingin tau,apa yang kalian inginkan,coba ceritakan disini,ceritakan semua yang kalian mau,misal 'Pi,aku mau Papi jangan ngatur ngatur lagi kita,biarkan kita melakukan apa yang kita mau'.Coba ceritakan"
Vano dan Alaska saling diam,keduanya lalu menatap Arisha sang Mami meminta saran.
"Ceritakan Vano,Ska apa yang kalian inginkan seperti kalian bercerita sama Mami,Papi sudah tidak akan melarang apa yang kalian mau,beliau bahkan tidak akan memaksa apapun lagi,selama itu baik untuk Papi dan Mami itu tidak akan jadi masalah,satu yang paling penting kalian bahagia" tutur Arisha lembut.
"Bener Pi ?" itu Alaska lagi yang bertanya.
"Bener apa yang Mami kalian katakan,kepergian Papi kemarin menyadarkan Papi kalau Papi kehilangan kalian.Papi ingin seperti Papi yang lain yang banyak menghabiskan waktu bersama kalian,mendengarkan hari hari kalian,keluh kesah kalian"
"Papi sudah bertekad tidak akan memaksa kalian lagi untuk jadi apa yang Papi mau,untuk jadi penerus Papi tidak akan Papi paksakan,soal itu biar berjalan apa adanya saja,Papi juga ingin menghabiskan masa tua Papi kelak hanya bersama kalian,bermain bersama,bercanda bersama,benar benar menghabiskan waktu itu hanya bersama kalian.Mami Risha,Vano,Alaska dan Kenzio"
"Terus bagaimana dengan perusahaan Papi kalau bukan kita nanti yang meneruskannya ?" pertanyaan itu muncul dari Vano.
Alvaro tersenyum "Kalaupun tak ada penerus dari kalian,Papi tak masalah.Biar mengurus perusahaan nanti yang layak mengurusnya,Papi sudah tidak mau memaksa kalian lagi.Papi ingin kalian meraih cita cita kalian,meraih apa keinginan kalian"
"Apalagi kalian masih remaja,harusnya waktu kalian bukan hanya belajar,belajar perlu,namun kalian jua perlu untuk bermain,melakukan apa yang kalian suka,tapi ingat selama itu baik"
"Papi bener bener serius ?" Alaska masih tak percaya akan hal itu.
"Serius lah Sayang,jadi mulai sekarang lakukan apa yang kalian mau,lupakan tuntutan apa yang Papi mau,lupakan apa yang selalu Papi perintahkan.Lakukan sebagai mana kalian masih dalam masa remaja kalian,Papi sudah tidak akan melarang larang lagi kalian.Jangan takut lagi Sama Papi,jangan segan lagi sama Papi,jangan canggung lagi sama Papi"
"Papi juga ingin seperti Papi yang lain,yang dekat dengan kalian.Berlaku untuk kalian bertiga.Vano lupakan apa yang Papi mau,wujudkan apa yang kamu bukankah kamu ingin jadi Arsitek dan kamu Ska,bukankah kamu ingin jadi penyanyi" Alvaro tertawa renyah kalau mendengar itu,Arisha sudah bercerita akan keinginan anak anaknya.
...***...
Maafkan jarang update ya,aku pun merasa gak konsisten banget ini,huhuhu.
Aku up lagi nanti sorean ya,,
see you🥰🥰
__ADS_1