
Waktu berlalu dengan cepat.
"Selamat pagi Pi,selamat pagi Mi" seorang lelaki berparas tampan dan tubuh tinggi itu menyapa kedua orang tuanya yang berada di meja makan.
"Selamat pagi Van" Sapa balik sang Papi.
"Selamat pagi Sayang,ayo duduk" Sang Mami mempersilahkannya duduk.
"Selamat pagi Kak" itu suara dari kedua adiknya 'Alaska dan Kezio'
"Pagi,Al.Pagi Zio" sapanya balik sambil mengelus rambut keduanya.
Diujung sana Mami tersenyum ,melihat ketiga anaknya berada di satu meja membuatnya dia bahagia.
Mereka mulai memakan sarapan itu bersama sama,karena memang tak jarang semua penghuni utama rumah itu hadir disana,kesempatan ini begitu langka.
Semua tak ada yang berbicara,hanya ada suara dentingan sendok garpu dan piring,itu peraturan yang Papi buat,tak boleh ada yang berbicara saat makan.
***
Revano Alshaka Sanjaya
Vano adalah penerus Sanjaya Corp yang sudah dibangun beberapa tahun silam oleh tetuanya, termasuk oleh Opa dan Papinya Alvaro. Menjadi penerus perusahaan bukan hal yang mudah baginya, tentu banyak resiko yang harus dia ambil. Namun itu adalah pilihan hidupnya.
Usia Revano sudah menginjak 28tahun, usia yang sudah sedikit matang untuk bisa memulai hidup rumah tangga,namun sepertinya ia enggan untuk memulai itu,katanya masih ada yang dia cari dan dia tunggu.
Vano memang anak pertama dari Alvaro dan Arisha, jelas dia yang harus jadi penerus.
Dan juga Papi percayakan semuanya pada Vano,karena dia anak pertama dan terutama dia anak yang penurut dibanding dengan Alaska anak keduanya.
Namun semenjak kejadian beberapa tahun silam,dia jadi tak mau menuntut apapun pada ketiga anaknya,dia juga tak memaksa Vano untuk jadi penerus,namun Vano mendeklarasikan dirinya untuk meneruskan apa yang Papi perjuangkan.
"Hari ini jadi ke Singapore,Vano ?"
__ADS_1
Papi,Mami dan Vano sedang berada dibalkon belakang,ketiganya sedang menikmati segarnya angin pagi.
Alaska dan Kezio' sudah beraktifitas kegiatannya masing masing,jadi disana hanya ada Vano dan kedua orang tuanya
"Hem,setelah bertemu janji dengan Pak Gunawan siang nanti,aku akan segera berangkat,Pi" Dengan menyesap teh hangat buatan Mami,Vano menjawab pertanyaan Papi.
"Jadi Pak Gunawan sudah setuju bekerjasama dengan kita ?bukannya dia sempat menolak ?" Papi pun sama menyesap Kopi buatan Mami.
"Iya Pi,sepertinya perusahaan kita lebih menjanjikan dibanding perusahaan lawan kita,kita punya sesuatu yang lebih,Pi"
Papi menepuk bahu Vano "Ya,kita harus tetap waspada Van,lakukan apa yang kita bisa,dan jangan lupa kalau kita punya lawan,mereka bisa berbuat apapun juga,karena mereka sangat licik" Papi mengingatkan Vano kalau dunia bisnis itu akan selalu ada pesaing.
"Papi tenang aja,Vano selalu antisipasi akan hal itu" Vano yakin dia bisa menjaga perusahaan Papinya itu dengan baik,bahkan setelah beberapa tahun dia memegang itu sudah banyak investor yang mau bekerjasama dengan nya
"Bagus, Papi selalu bangga dengan kamu Van" Papi menepuk nepuk bahu Vano.
"Alaska dan Kezio juga sama Pi, dia bisa membanggakan Papi dengan usaha usahanya" Vano mengingatkan akan kedua adiknya yang sama sama berjuang untuk membanggakan Papi dan Mami.
"Iya Papi bangga sama kalian semua, ketiga anak Papi adalah yang terbaik" Papi Alvaro sadar, dia tak boleh membanding banding lagi ketiga anaknya.
"Berapa lama nanti kamu di Singapore,Van ?" Itu suara Mami,wanita yang masih sangat cantik yang Papi cintai. Mami Arisha mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak terjadi sesuatu hal.
"Kemungkinan satu Minggu,Mi" Vano masih selalu menganggumi sosok Mami,Mami selalu menjadi orang pesabar dirumah itu,bila kelak dia menikah,dia ingin wanita yang seperti Mami.
Dan Mami masih terlihat cantik diusianya yang hampir senja itu.
"Hah,ya sudah nanti pulang dari sana,kamu harus mau ya ikut makan malam sama Tante Safa,Mami mau ngenalin anaknya sama kamu" Mami selalu khawatir,anak pertamanya itu tak pernah terlihat membawa wanita atau bahkan sekadar bercerita tentang wanita.
Dibandingkan dengan Alaska dan Kezio' yang sudah beberapa kali ganti ganti pasangan,Vano sangat berbeda.
"Mi,aku gak suka ya Mami kata gitu" dengan berdecak kecil,Vano menolak apa yang Mami pinta,dia tak mau kalau Mami dan Papi menjodohkan dirinya.
"Van,Mami bener bener khawatir sama kamu,kalau kamu gak mau ayo kenalkan perempuan sama Mami"
__ADS_1
Mami Arisha memang sekhawatir itu, sebenarnya dia memang tak suka akan adanya perjodohan perjodohan seperti itu.
"Mi,Mami gak usah khawatir sama Vano,untuk sekarang Vano hanya fokus pada perusahaan,dan soal wanita itu no terakhir, kalau sudah waktunya menikah, Vano pasti bakalan menikah kok, tapi Vano gak mau dijodoh jodohkan kaya Papi dan Mami" Vano tetap bersikeras menolak apa yang Mami mau
"Eh,gak ya.Mami dan Papi gak dijodohkan tau" Vano tak tau kalau kisah cinta Mami dan Papinya itu unik.
"Iya Van,Papi dan Mami hanya dinikahkan karena terpegok warga,hahahaha" Papi tertawa keras saat mengingat hal yang membuat dirinya bisa menikah dengan Mami.
"Papi,udah ya gak usah diceritain lagi masa masa itu,kalau mengingat itu Mami suka kesel" Bibirnya manyun namun terlihat masih sangat imut.
Papi dan Vano tertawa melihat Mami merajuk seperti itu,terlebih Papi yang lebih tertawa terbahak.
"Vano pergi ke kantor dulu Pi,Mi" Merasa pembicaraan ini akan terus berlanjut ke hal hal yang tak Vano inginkan,terutama mengenai seorang Wanita,Vano memilih untuk segera pergi ke kantor.
"Hei,Vano pokoknya nanti kamu harus mau makan malam itu,ya !" Mami masih bersikukuh pada keinginannya.
"Udah Mi gak usah dipaksa,nanti juga kalau ketemu jodohnya bakalan nikah juga,sabar Napa Mi" Papi mencegah Mami agar tak terus memaksa Vano.
"Mami hanya khawatir Pi,selama ini kan Mami gak pernah dengar ataupun lihat,Vano bawa atau cerita tentang wanita,gimana kalau dia itu ...."
"Hush..kamu ini Mi, jangan mikir yang aneh aneh deh" Papi menepuk lembut mulut Mami,agar tak meneruskannya.
"Tapi Pi, Mami hanya khawatir aja"
"Mi,bukannya Mami paling gak mau menjodoh jodohkan anak anak kita,kita kan tak suka urusan pernikahan disangkut pautkan dengan urusan bisnis,biarkan mereka mencari pasangan sendiri sendiri,biarkan mereka meraih kebahagiaannya sendiri" Papi menghela nafas sebentar
"Kita sebagai orang tua hanya bisa menasehati saja,Mi.Jangan paksakan kehendak kita" Papi merangkul Mami
"Iya Pi,Mami hanya khawatir itu saja"
Walau mengiyakan tetap saja tak membuat hati Mami senang.
***
__ADS_1