
Malam semakin larut,semua orang sudah masuk ke kamar mereka masing masing.
Arisha baru keluar dari ruang perpustakaan,nyatanya dia memang menghindar dari Alvaro,maka sesudah makan malam itu,dia memutuskan untuk membaca buku diperpustakaan mini miliknya.
Ya miliknya,karena sebagian besar kebanyakan buku fiksi miliknya,namun ada pun beberapa buku sekolah anaknya dan bisnis suaminya Alvaro.
"Hoammm" dia merenggangkan tangannya dan atensinya tertuju pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul 23.00 malam.
Nyata sebenarnya dia ada di dalam sana pun,untuk merenungi kejadian tadi sore,dan dia harus punya cara untuk memperbaiki hubungan yang rumit ini antara dia dan terutama antara Alvaro juga Alaska.
"Sudah larut ternyata" lirihnya,dia berdiri dan membereskan buku yang hanya dia bulak balik saja sejak tadi.
Dia keluar diperpustakaan mininya,melihat sekitar rumahnya,lampu sudah dipadamkan beberapa,dia melangkahkan kakinya kelantai atas untuk ke kamarnya,namun dia urungkan.
Dia benar benar waktu untuk sendiri saat itu,hingga akhirnya dia hanya menengok ke kamar satu persatu anaknya,pertama ke kamar Vano.
Mencium keningnya dan merapihkan selimutnya,lalu beralih ke kamar Zio,dia lakukan hal yang sama pada Vano.
Terakhir ke kamar Alaska,saat masuk lampu masih menyala dan nampak Alaska sedang dibalkonnya.
"Ska,kok kamu belum tidur,Nak?" Arisha merangkul bahu anak tengahnya.
Alaska sedikit tersentak,dia memang kaget akan kedatangan Arisha yang tiba tiba itu.
"Mami,bikin kaget Ska aja" keluhnya sambil memegang dadanya.
"Udah malam Ska,angin malam gak baik buat tubuh kamu" Arisha kembali memberi Alaska saran ,karena memang udara benar benar sangat dingin kala itu.
Alaska mengangguk,keduanya masuk ke dalam dan Alaska menutup pintu balkon dengan rapat.
"Mi,maafkan Alaska" perkataannya tadi sore benar benar membuatnya merasa bersalah,terutama pada Arisha.
__ADS_1
Alaska memeluk Arisha,dan Arisha membalasnya dengan penuh kasih,sesalah apapun sang anak baginya tak berhak untuk marah,kalau bisa memberi hukuman yang layak akan dilakukan,tapi tentu tidak harus dengan kekerasan.
"Tidur yuk,udah malam Sayang" Arisha merenggangkan pelukannya.
"Tapi Mi,Ska tidak akan bisa jadi apa yang Papi mau,Mami tau Ska tidak sepintar Kak Vano.Papi tak pernah bangga apa yang Alaska hasilnya,ujung ujungnya tetap dibandingin sama Kak Vano"
"Ska,cape Mi.Ska udah berusaha belajar,Ska udah berusaha jadi anak baik,tapi tetap Papi tak pernah melihat hasil yang Ska hasilkan"
Alaska menangis,segala uneg uneg yang dia rasakan,dia utarakan kala itu,perkataan Papinya dahulu sangat membekas dihati.
"*Padahal mereka lahir dirahim yang sama,sama milik aku dan Arisha,tapi kenapa dia berbeda dengan Vano,sampai detik ini dia tidak menghasilkan apa yang Vano bisa"
"Setiap anak berbeda beda Varo,tak semua harus sama,mungkin memang itu hasil yang Alaska dapatkan"
"Tapi kamu tau sendiri,kalau mereka adalah harapan aku,Vano udah aku kendalikan untuk menjadi penerusku,dan Alaska bagian penerus Ayah,tapi kalau hasilnya begini,Ayah menginginkan Vano juga"
"Vano memang yang terbaik,dia memang paling bisa aku andalkan,otaknya benar benar warisan dari aku,sekarang harus apa melihat hasil Alaska yang sama sekali tak menonjol dibanding Vano"
"*Aku tak mau menyerahkan Vano pada Ayah,Vano adalah harapanku"
"Entahlah,sejauh ini hasilnya tak memuaskan aku,Vano lebih selalu tinggi darinya*"
"Ska,Mami pun ingin kamu hanya mencari jalan kamu sendiri,Mami tau kalian punya impian kalian masing masing,tapi Mami bisa apa,memaksa Papimu Mami tidak bisa lakukan itu"
"Untuk saat ini tunjukan kalau kamu bisa Ska,cukup jadi anak baik dan nurut,Mami yakin Papi tidak marah seperti tadi.Kamu mau dengerin Mami kan,Mami akan terus berusaha membujuk Papi,supaya tidak menuntut kalian lagi,tapi Mami minta kamu harus jadi anak baik"
Arisha sekali lagi akan membujuk Alvaro,untuk tak terlalu memporsir otak ketiga anaknya,dan memaksa mereka menjadi apa yang dia mau.
Arisha tak pernah setuju akan hal itu,dia selalu menolak keras dan menentang keinginan Alvaro.Dia sedih kala harus melihat Vano yang masih duduk di SMA diharuskan terus belajar tentang bisnis.
"Alaska gak janji Mi" lirih Alaska.
__ADS_1
"Sudah,sudah ayo kita tidur"
"Mami tidur disini ya,Alaska ingin tidur sama Mami" pinta Alaska memelas,dia hanya butuh kehangatan.
Aŕisha pun menjadikan ini kesempatan untuk menghindar dari Alvaro.
"Iya Sayang,Mami tidur disini,yuk kita tidur"
Keduanya tertidur dengan selimut membungkus keduanya dan saling berpelukan.
...***...
Dilain tempat diruang kerjanya Alvaro,dia pun sudah menyelesaikan berkas berkasnya,setelah makan malam tadipun dia sibuk berkutat dengan berkas berkas.
Dan kini saatnya untuk tidur,ah tidak ini saatnya dia harus bicara dengan Arisha mengenai kejadian tadi,dia masih merasa bersalah,dan dia harus minta maaf.
Maka malam itu dia pikir dia akan bisa menyelesaikannya dan dapat maaf dari Arisha.
Dia memasuki kamarnya,kamarnya bersama Arisha lampu nampak padam,tapi dia lihat keranjang nampak bersih.Dia pun menyalakan lampu,dan tak mendapati Arisha disana.
Dia mengernyit,dibukakannya pintu kamar mandi,Arisha tetap tak ada,dia kembali keluar dan pertama melihat ke kamar Zio dengan tergesa gesa,tak nampak juga Arisha disana.
Kedua masuk kamar Vano,sama halnya dikamar Zio dia tidak melihat Arisha,terakhir kamar Alaska,dan benar saja dia menemukan Arisha yang sudah terlelap mendekap Alaska.Alvaro bernafas panjang.
"Maafkan aku,kamu pasti marah" dia berjalan perlahan dan duduk ditepi tempat tidur,dia elus surai Arisha lembut.
"Semarah itukah kamu,sampai tak mau bersitatap denganku" lirihnya lagi.
Dia pun tak bisa berbuat apa apa lagi,yang dia lakukan mencium pelipis Arisha,dan beranjak berdiri,atensinya beralih ke Alaska.
Dia tatap anak keduanya,wajahnya penuh lebam akibat perkelahiaan dirinya dan akibat Alvaro memukulnya tadi,rasa bersalah tersemat di dadanya.
__ADS_1
Dia mendekat "Maafin Papi Ska" dia mencium kening Alaska,lalu pergi dari sana,dengan terpaksa malam itu dia tidur sendiri tanpa Arisha.
...***...