
"Kak Airish !!"
Pengawal yang dekat disana dengan sigap mengangkat Airish dan membawanya kesofa,Arisha yang masih terpekik kaget,berusaha membangunkan Airish,namun dia masih menutup matanya.
"Mas,gimana ini" Arisha masih nampak khawatir.
"Ah,pasti dia hanya pura pura saja Risha,jangan mau kamu dibohongi dia" Ujar Mom yang masih santai santai saja.
"Kenapa ?kenapa Airish begini ?" Pekik seseorang yang dari luar,dia berlari dan segera menghampiri Airish yang masih terbaring disofa.
"Dia tadi pingsan,tapi sebelum pingsan dia memegang kepalanya" jelas Arisha pada seseorang itu yang diyakini Manager Airish selama dia masih jadi model dulu.
"Oh Shit !!astaga..cepat tolong bawa dia kemobil saya"Ujarnya ,dia yang bernama Mira.
"Kenapa ?memang ada apa ?" Tanya Arisha begitu khawatir.
"Saya,tidak bisa menceritakan detail sekarang ,hanya saja kalau dia merasa kesakitan dikepalanya,itu artinya sedang tak baik baik saja."
Mira mengekori pengawal yang menggendong Airish ,saat sudah di dalam mobil baru dia berputar akan mengemudi.
"Tunggu,aku ikut" Seru Arisha.
"Sha" Tegur Alvaro.
"Please Mas,aku khawatir sama Kak Airish,please Mas"
Arisha mengiba dan memohon,dia sungguh sangat khawatir sangat khawatir,dia tau Airish bukan pura pura seperti yang Mom katakan.
Alvaro pun mengiyakan akhirnya,dengan catatan dia pun ikut dan mereka pun mengekori mobil yang Mira bawa.
***
Nampak Airish sedang ditangani oleh dokter,Mira yang begitu tau dia sangat khawatir dengan keadaan Airish,bagaimana pun Airish pernah menjadi bagian dari dirinya.
"Dok,bagaimana keadaan dia" ujar Mira saat melihat dokter keluar dari ruang penanganan Airish.
"Apakah beliau pernah kecelakaan ?" Dokter tak lantas menjawab pertanyaan Mira,dia malah bertanya balik.
"Iya beberapa bulan yang lalu dok" Ujar Mira lemas.
"Seperti dugaan,pembuluh darahnya pecah,semua akibat kecelakaan itu,oleh karena itu dia harus segera dioperasi" jelas dokter itu.
Mira menutup mulutnya,tak kuasa mendengar kabar itu lagi,sedangkan Arisha yang masih belum paham dia membeliak kaget tak ayal dengan Alvaro.
__ADS_1
"Lakukan saja Dok,lakukan yang terbaik untuknya" lirih Mira dengan menahan laju air matanya yang sudah menganak sungai dipelupuk matanya.
Dokter itu mengiyakan dan segera bergegas menyiapkan segala keperluan untuk operasi kedua Airish.
Mira terduduk lemas dibangku tunggu bersama Arisha dan Alvaro.
"Kak,sebenarnya ada apa dengan kak Airish ?" Pertanyaan itu begitu bersarang diotak Arisha sedari tadi.
Mira menghapus air matanya perlahan yang tadi sudah tak tahan dia bendung.
"Beberapa bulan yang lalu dia mengalami kecelakaan,dia selamat saat operasi..tapi dia harus menahan luka lain,saat suami dan keluarganya tak mengharapkannya lagi,bahkan mereka mencampakan Airish begitu saja,itu terlebih karena dokter memvonis Airish tak akan bisa hamil,karena efek benturan keras saat kecelakaan itu"
Dengan sesegukan Mira menceritakan apa yang terjadi pada Airish,sungguh sangat miris sekali kehidupannya.
"Ya Allah..jadi kejadian hari ini bisa jadi karena efek kecelakaan waktu itu kak ?"
"Hem,dokter bilang begitu tadi,kemungkinan masih ada darah yang menggumpal disana ,dan hari ini pecah"
Mira tak kuasa lagi menahan kesedihannya,bertahun tahun bersama Airish,dan itu bukan waktu yang sebentar.
Hingga beberapa jam kemudian operasi berjalan lancar,Airish sudah dipindahkan ke ruang Icu,meski operasi berhasil tapi keadaan Airish masih kritis.
Tak lama Pak Bastian datang setelah ditelepon Arisha dan mengatakan apa yang terjadi pada Airish,sebagaimana pun Airish pernah dia anggap anak karena pernah menikahi ibunya walau tanpa cinta.
"Ini ada sesuatu dari Airish,beberapa hari lalu dia menulisnya,dan hari tadi dia memaksa ingin menemui kamu Risha,padahal saya tau betul keadaan dia masih belum pulih benar"
Mira memberikan sebuah surat kecil untuk Arisha,Alvaro dan Pak Bastian.
Mereka membaca setelah pulang kerumah,dokter bilang kemungkinan akan lama menunggu Airish untuk sadar,semoga ada keajaiban, ujarnya.
Ketiganya membuka surat itu dan membaca perlahan lahan,isinya sama permohonan maaf atas namanya dan sang ibu,dosa dosa yang pernah ibunya dan dia lakukan pada ketiganya.
Arisha tak kuasa untuk tak menangis " Risha ,maafin kakak kok,Risha maafin"
Dan Alvaro begitu pun Pak Bastian pun sama mereka memaafkan semua kesalahan Airish dulu.
***
Waktu pun berlalu dengan cepat,keajaiban itu belum muncul pada Airish,dia masih terbaring lemah dan dokter menyatakan dia koma.
Pak Bastian sedikit rutin mengunjungi Airish kesana,namun belum ada perkembangan juga.
Usia kehamilan Arisha sudah menginjak 9 bulan,kemungkinan kata dokter tinggal semingguan lagi bayi mereka akan lahir.
__ADS_1
"Mas,kamu jangan jauh jauh dari aku" Rengek Arisha pada suaminya itu
"Iya Sayang,kan Mas udah ambil cuti untuk nemenin kamu"
Karena dia pun sama khawatirnya,maka dia kini memilih untuk menemani sang istri yang sebentar lagu akan berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk anak mereka.
Seluruh pekerjaan dia serahkan pada Sam,dan sekarang Sam yang harus menanggung beban itu,mau tau mau dia harus mau.
"Aku takut Mas"
Ketakutan itu sering Arisha rasakan menjelang kelahiran buah cinta mereka itu.Tapi sebisa mungkin Alvaro dan Mom memberi keyakinan dan kekuatan pada Arisha.
"Tenang ada aku disini,aku akan menemani kamu disini,ada Mom juga ada Ayah Bastian yang akan selalu mendampingi kamu Sayang"
"Tapi aku takut Mas.." Dia masih merengek ketakutan,meski diberi keyakinan pun nyatanya rasa takut itu masih besar.
"Sstttt..kamu jangan stress,kasihan Bayi kitanya akan ikut stress,tenang aja..kamu kuat,kamu wanita hebat dan kamu akan jadi Mami yang hebat juga,ok"
"Tapi..."
"Udah,ingat jangan stress dan jangan banyak pikiran,ada kita disini"
"Kamu gak ngerasain sih gimana rasanya jadi aku,coba kamu aja yang hamil"
"Ya kalau bisa begitu,aku pasti terima..tapi kan aku laki laki,masa hamil ?aneh nanti jadinya tau,aku kan cuma bisa bikinnya aja" ujarnya dengan menyengir.
"Idih..enak dikamu gak enak di aku"
"Kamu juga enak Sayang,sama sama enak kok,yuk"
"Ayuk apa ?"
"Kata dokter kan,biar terbuka jalan lahirnya,jadi aku tengok bayi kita" alisnya dia naik turunkan.
"Idih,gak ya..modus kamu " Sentak Arisha
"Bukan modus..tapi beneran kata dokter kan gitu biar terbuka,dan nanti persalinannya cepat" godanya lagi.
Sekeras apapun Arisha menolak,nyatanya tak bisa..Alvaro tetap menang,dan dia memenangkan hal itu.
***
...Bersambung...
__ADS_1