
Hai teman teman online, kenapa season 2 ? karena ini memang lanjutannya kisah anaknya Alvaro dan Arisha, aku tidak mau repot repot untuk buat yang baru, jadi aku lanjut disini aja ya.
...****************...
"Vano !hei tunggu aku!!" Teriak Inara dengan terus mengayuh sepedanya.
"Ayo kejar aku,katanya ingin menang kali ini" kali ini laki laki yang bernama Vano membalas teriakan gadis itu yang bernama Inara.
"Gak bisa,kamu terlalu cepat dan yang pasti kamu gak mau mengalah" teriaknya lagi sambil terus mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga agar bisa menyusul laki laki yang dia panggil Vano itu.
Mereka terus saling mengayuh sepeda,hingga sepeda Vano menjadi melambat,sengaja dia melakukannya dan Inara segera bisa menyusulnya,hingga pertandingan balap sepeda itu dimenangkan Inara.
"Yeah...akhirnya aku bisa menang dari kamu juga,Van" sambil merentangkan tangannya dan berlompat lompat kecil.
Vano si laki laki itu tersenyum simpul,dadanya berdebar debar saat melihat senyum Inara yang kini sedang merebahkan dirinya diatas rumput hijau disebuah taman.
"Ck,segitu aja kamu udah seneng banget" Vano berdecak kecil,pura pura kesal karena kalah,padahal dia sengaja melakukan itu.
Diapun ikut merebahkan tubuhnya disamping Inara,keduanya sama sama melihat birunya langit dipagi hari itu.
"Apa kan aku bilang,kalau aku bakalan menang,wle" Inara masih merasa senang dan sedikit menyombongkan dirinya.
"Ya..ya..aku akui kamu sudah berhasil,lalu apa yang mau kamu pinta" Vano menatap Inara yang masih melihat kearah atas.
Keduanya sepakat untuk mengadakan balapan sepeda itu dan kalau salah satunya ada menang maka dia boleh meminta sesuatu hal dan yang kalah wajib mengabulkan itu.
"Hmmm" Inara sedikit berpikir "Aku pengen makan pizza yang panjang itu loh,Van" jawabnya selanjutnya,kini sambil menatap Vano.
Vano tersenyum simpul "Kamu ngajak balapan sepeda hanya karena ingin makan pizza aja ?" dia sedikit menggelengkan kepala, merasa gemas yang Inara minta.
Inara pun mengangguk ceria "iya,aku tuh kaya yang ngidam banget sama tuh makanan,dan aku cuma bisa menatap sambil ileran,makannya Sekarang aku berani minta ini sama kamu" dia menyengir dengan menampilkan deretan gigi putihnya
"Aneh kamu ini,masa cuma minta itu aja,aku kira mau minta mobil gitu" candanya Vano sambil tergelak.
__ADS_1
"Emang kamu mau ngasih kalau aku minta itu ?" Inara menatap polos Vano.
"Hahahah,aku aja minta sama Papi gak dikasih,apalagi aku minta buat beliin kamu" Vano tergelak lagi.
Inara manyun "Ya makannya aku minta dibeliin pizza aja sama kamu" pintanya lagi pada Vano
"Iya..iya nanti aku belikan buat kamu" Vano pun mengiyakan apa yang Inara mau.
"Yes,thanks Vano anak Papi yang baik hati" Inara menepuk keduanya tangannya seperti anak kecil yang dapat uang.
"Tapi Van,kalau kamu yang menang,apa yang kamu minta dari aku" Inara pun bertanya setelah beberapa menit yang lalu mereka saling diam.
"Aku !emang kamu bisa mengabulkannya ?" Vano bertanya balik.
"Ya,kalau yang terjangkau sama aku lah,asal jangan minta yang aneh aneh aja,aku aja minta dibeliin pizza sama kamu,karena kamu mampu" cerocos Inara sambil merubah posisinya menjadi tengkurap dan kedua tangannya mengakup dagunya,dengan mata menatap Vano tak lupa bibir yang tersenyum manis.
Vano pun mengalihkan atensinya pada gadis itu ikut menatapnya dengan lekat, lalu satu tangannya terangkat dan meraih satu tangan Inara.
"Van..!!" Pekiknya pelan.
"Ra,kalau seandainya aku minta kamu jadi pacar aku,kamu mau ?" Vano memulai pembicaraan dengan serius,mata mereka saling menatap satu sama lain, raut wajah Inara yang Vano panggil 'Ra' itu melongo dengan apa yang Vano bicarakan tadi.
"Ra" Vano memanggil Inara dengan lembut dan membuat Inara terperanjat kaget lagi.
"Ma..maksud kamu apa Van ?" Tanyanya lagi memastikan apa yang Vano katakan tadi.
"Aku suka sama kamu Inara" Vano menatap lekat mata Inara.
"Ta..tapi sejak kapan Van ? dan...."
"Aku suka sama kamu sejak lama,Ra.Tapi aku baru mampu mengatakannya sekarang.Sebenarnya aku tak perlu jawaban dari kamu,dan kamu tak perlu jawab itu,mau tidaknya kamu untuk jadi pacar aku,tak perlu kamu jawab" Vano sedikit menghela nafasnya,walau dengan gemetaran dia tetap bisa mengstabilkan dirinya.
Keduanya sudah kenal sejak masuk SMA dan keduanya sudah saling dekat satu sama lain,sering bersama kemana saja berdua,bahkan kedekatan mereka sudah dianggap pasangan oleh teman teman mereka,namun keduanya hanya saling menganggap teman.
__ADS_1
Perasaan suka itu muncul tanpa diminta dan disangka,hingga perasaan cinta itu tumbuh semakin banyak.
"Kalau aku menang pertandingan tadi, aku mau minta sama kamu,tetap berada disamping aku,mau tetap menjadi teman ataupun yang lain,tetap disamping aku,sampai kita lulus nanti,terus kita kuliah bareng,kita sama sama kerja,dan setelah itu aku akan datang pada kedua orang tua kamu dan meminta kamu untuk aku ambil dan aku jaga sampai nafas terakhir aku" Vano melanjutkan pernyataannya itu,itu yang dia inginkan,dia sungguh sangat menginginkan Inara.
Inara lagi melongo dengan lidah yang terasa kelu,dia bingung apa yang harus dikatakannya,pernyataan Vano tadi itu sangat mengejutkan dirinya.
"Ra,bisakan seperti itu,maaf kalau aku egois,tapi itu yang aku mau,selamanya kamu berada disamping aku"
Ya memang itu terlihat sangat egois,apa yang Vano pinta pada gadis itu sangat sangat egois,bagaimana tidak lelaki itu meminta dirinya menetap disisinya,padahal belum tentu kalau mereka berjodoh.
"Iya,Van aku mau" dengan mantap Inara pun mengiyakan apa yang Vano pinta,tanpa rasa ragu atau apapun.seperti memang dia juga menginginkannya.
Vano tersenyum senang,keduanya saling tersenyum lalu keduanya kembali merebahkan diri mereka dengan sambil bertautan tangan.
Inara tak bertanya apapun setelah itu,tak bertanya sejak kapan dia disukai Vano,sejak kapan Vano menyukainya,dia sudah cukup jelas mengerti kenapa tadi Vano membuat pernyataan,karena memang diapun sama menyukai Vano dan karena pernyataan Vano tadi membuatnya begitu bahagia sangat bahagia.
***
Setelah hari kelulusan.
"Bu,kita mau kemana,Bu ?" Gadis yang Vano panggil 'Ra' itu terus bertanya pada sang ibu,ketika sang Ibu memintanya mengemas pakaian mereka.
"Kita harus pergi dari sini,Nak" Sang ibu berkata dengan masih sibuk mengemas baju mereka dengan sedikit terburu buru "Kamu sudah lulus,dan kini saatnya kita pergi dari kota ini,sebelum mereka menemukan kita"
Sang ibu berkata dengan perasaan yang semakin cemas dan ketakutan.
"Siapa yang bakalan mencari kita,Bu ?aku gak mau pergi,aku mau tetap disini,aku punya janji sama seseorang,Bu" gadis itu memohon pada Ibunya untuk tak pergi.
"Gak,ayo cepat,kita harus segera pergi" Sang ibu menarik tangan gadis itu yang terus memohon agar tak pergi.
Meski memohon bagaimanapun juga,sang ibu tetap menariknya dan membawanya pergi dari kota itu,pergi meninggalkan segala kenangan yang ada disana,dan terutama pergi meninggalkan janji pada teman lelakinya itu,terlebih lagi tak meninggalkan sebuah pesan sediikitpun.
***
__ADS_1