
"Ck,,ck,,ck masih saja lihat tuh foto cewe ?move on bos move on" tanpa mengucapkan salam,bahkan tanpa mengetuk pintu dia masuk keruangannya Vano.
Itu Alvin sahabat karib Vano dari sejak dibangku sekolah.
Vano menutup pas foto yang menampilkan foto seorang wanita cantik dengan memakai pakaian sekolah.
"Ketuk pintu dulu ,bisakan" cetus Vano sedikit kesal,aksinya tadi ketahuan sahabatnya itu.
"Hahahaha,ngapain juga harus ketuk pintu segala,aku bukan bawahanmu" cerocos Alvin sambil duduk di kursi yang ada di ruang kantor Vano.
Vano mendecak kecil "Sudah dapat informasi ?" Tanyanya sambil ikut duduk.
"Susah,dia bener bener seperti hilang ditelan bumi,sepertinya memang dia belum terdaftar di dalam KK makanya susah,udahlah Van move on aja Napa"
Alvin dperintahkan Vano untuk mencari seseorang,seorang wanita yang kini masih melekat dalam kenangannya.
"Apa mungkin dia pergi keluar negeri ?" Pikirnya,menerawang apa yang mungkin itu terjadi.
"Gak,kalau dia keluar negeri pasti aku bisa melacaknya,Vano G Bastian"
Vano menipuk Alvin dengan camilan kecil yang ada di meja.
"Ck,cewe tuh banyak bro bukan dia aja,mau terus melajang sampe ubanan apa ? percuma menunggu satu hal yang gak pasti seperti itu,kemungkinan kecil dia juga udah merried" cerocos Alvin lagi, mengungkapkan kemungkinan besar dan kecilnya.
"Aku sangat sangat yakin Vin,setiap malam tak lupa selalu doa yang aku panjatkan,dan kamu tau kekuatan doa itu selalu nyata,aku yakin kita akan dipertemukan kembali,kalaupun dia sudah menikah,setidaknya aku tau kalau dia sudah bahagia,walau tidak dengan aku" Vano menghela nafasnya gusar saat mengatakan itu,dia benar benar tak ikhlas kalau kenyataannya wanita itu benar sudah menikah.
"Dia punya apa sih,sampai kamu begitu ngebet Sama dia?" Alvin benar benar merasa heran pada Vano,sebegitu bucinya dia pada wanita itu.
"Kamu tak akan pernah mengerti,Vin" kalaupun wanita itu sudah menikah,terbesit dalam pikiran Vano kalau dia akan merebutnya lagi.
"Ingat selalu janji kita Ra,kalaupun suatu saat nanti kita berpisah tiba tiba,tunggu aku dan akupun akan tunggu kamu"
"Emang kita bakalan berpisah kemana sih,kemanapun aku pergi selalu ada kamu"
"Ya kita gak akan tau masa depan kan,meski nanti kamu menikah dengan orang lain,akan aku pastikan ku rebut kamu kembali"
"Iishhh gak gitu juga Vano,kan jodoh yang menentukan itu Tuhan,kamu gak bisa mengatur ngatur gitu"
"Tapi aku yakin jodoh aku itu kamu,dan jodoh kamu itu aku.Pokoknya aku bakalan rebut kamu kembali dari suami kamu nanti,karena aku yakin kamu cuma bahagia sama aku"
"Ck,GR banget kamu"
Tok tok tok
__ADS_1
Lamunan Vano buyar kala seseorang mengetuk pintu ruangnnya
"Ya,masuk"
Maaf Pak,sudah waktunya untuk kita ke Bandara.
Asisten Vano mengingatkan akan keberangkatan mereka hari itu.
Vano menghela nafas kecil "Baiklah,tunggu saja dibawah,saya siap siap dulu,setelah itu menyusul ke bawah" ucapnya pada asisten pribadinya itu.
"Woi,mau jadi penunggu ruangan ini" Vano menipuk Alvin yang sedang melamun dengan pulpen yang ada di mejanya.
Dia sudah siap siap untuk pergi urusan bisnis di luar negeri,baginya itu sudah biasa,dia melakukan perjalanan ke luar negeri.
"Si al,sakit ta i" dia membalas dengan melempar pulpen itu kembali,tapi sayang pulpen itu tak sampai pada Vano.
"Ogah jadi penunggu ruangan ini,cukup kamu saja jangan saya" Alvin ikut berdiri,dia sedikit merapikan kemeja dinasnya.
"Van,pulang pulang nanti bawa oleh oleh cewe bule buat aku" celetuknya pada Vano.
"Ngapain lu nyuruh nyuruh,cari sah sendiri" Vano tak menggubris apa yang Alvin mau,dia melangkah untuk keluar menuju ke parkiran.
"Dasar bucin" teriak Alvin,dia ikut melangkah keluar.
***
Vano melakukan perjalanan ke bandara,setelah hampir dua jam perjalanan,dia sampai disana ditemani asisten dan sekretarisnya.
Vano harus menunggu beberapa menit sebelum dia harus segera Check in.Alvin membawakan minuman untuk Vano.
"Nih Bos,minum dulu biar fokus" canda Alvin , seraya memberikan botol minum pada Vano. Dan Vano hanya mendelik malas.
"Ucapin terima kasih kek" gumam Alvin, tapi itu terdengar oleh Vano.
"Harus ucap terima kasih, kek gini 'terima kasih Alvin" Vano mengatakannya dengan cara mengejek. dan Alvin menyengir kuda.
Vano meneguk lagi minuman yang Alvin beri, belum masuk sampai ketenggorokan, dia lantas menyebutkan air itu ,nyaris kena kepada Alvin.
"byurrr......."
Alvin terperanjat kaget tentunya, tapi lebih kaget saat Vano tiba tiba berdiri dan membuang air kemasan yang masih ada isinya dengan keras.
"Eh Van,eh Pak anda mau kemana ?" Alvin memanggil Vano yang terus berlari lari "Aduh,ini bos pake acara buang buang botol minuman disini ,mana masih ada isinya lagi" omelnya kemudian ,tapi sambil berlari mengikuti kemana Vano berlari.
__ADS_1
"Bos,tunggu...hey,anda mau kemana ?" Alvin terus berteriak teriak memanggil Vano yang masih terus berlari, entah mau kemana, atau mau mengerjar apa.
Vano tak menggubris teriakannya Alvin, dia terus berlari menuju tujuannya.
"Anda tidak masuk Pak"
"Lepas,aku harus masuk"
"Gak bisa pak,tiket anda berbeda dengan tujuan disini"
"Oh,shittt....."
"Hah,,hah,,hah,,Kenapa lari anda kencang sekali Pak" Alvin mengatur nafasnya yang tercekat karena berlari tadi.
"Dia,aku lihat dia Vin" Racau Vano, dia meremas rambutnya merasa frustasi.
"Dia, siapa maksud anda Pak ?"
"Kita sedang berdua Alvin"
"Oh,iya.Maksud kamu,kamu lihat Inara ?"
"Yap,aku lihat dia,Vin. Itu benar benar dia,dia masuk kesana,tanyakan Vin tujuan kemana pesawat ini"
Ya Yang Vano kejar seseorang yang mirip Inara, ah mungkin bukan mirip, tapi kemungkinan itu memang Inara. Wanita yang masih sedang di tunggunya.
"Ini tujuan ke Paris,Van" Alvin menanyakan pada petugas bandara, kemana tujuan pesawat yang ditumpangi Inara.
"Paris,pesankan tiket kesana, Vin" demi mencapai tujuannya, tentu dia harus berjuang.
"Kamu jangan gila Vano, mungkin itu bukan Inara, kamu hanya sedang berhalusinasi saja, seperti waktu itu" Alvin mengingatkan hal beberapa tahun yang lalu, kejadian yang sama kalau Vano melihat seseorang yang dia dipikir Inara.
"Aku gak bohong Alvin, itu benar benar dia, cepat pesankan aku tiket kesana" Vano masih bersikeras untuk mengejar cinta pertamanya itu.
"Gak bisa Vano, kita mau ke Singapore, kita sudah punya janji, ini penting untuk kita" Alvin mengingatkan kembali akan kemana tujuan mereka.
"Mundurkan saja Alvin, aku harus kejar dia" kekehnya lagi.
"Vano, kendalikan diri kamu, jangan terlalu terburu buru, kita selesaikan dulu urusan kita di Singapore, setelah itu aku akan pesankan tiket ke Paris ,kita kesana"
Vano terdiam, benar dia tidak boleh terlalu bersikap terburu buru, karena itu efeknya bisa fatal.Setidaknya dia sudah tau tujuan kemana dia mencari Inara.
Diapun mendengarkan apa kata Alvin, dia pun berangkat dahulu ke tujuannya.
__ADS_1