
SMA Ganesha adalah Sekolah tempat Revano mendapatkan ilmu,disekolah inilah dirinya belajar.Revano selalu jadi puja puji siswi perempuan,karena punya wajah yang tampan,tentu menjadi dambaan mereka.
Selain tampan dia juga sangat pintar,selalu jadi juara umum antar sekolah,belum lagi kalau ada olimpiade dia selalu di ikut sertakan bersama Inara.
Para siswi perempuan tentu selalu mencari perhatian padanya belum lagi mereka tau Revano anak dari Alvaro Sanjaya,seorang pengusaha kaya.
Namun dia punya disifat yang cuek nan dingin,selalu berusaha menjaga jarak pada siswi siswi yang mendekatinya,dia selalu merasa risih di dekati mereka,termasuk di dekati Raline cewek perparas cantik dan selalu berpenampilan sexy itu selalu mencuri perhatian Vano.
"Hai,Vano..ke kantin bareng yuk" kan dia juga seperti tak punya rasa malu,atau urat malunya udah gak ada,selalu mendahului mendekati Vano.
Yang di ajak hanya diam saja,tanpa menjawab apa pun,sudah biasa baginya.
"Vano tampan,ayo dong aku lapar ini" dia masih saja terus mengajak Vano,padahal selalu ditolak.
"Vano.." panggilnya lagi ,kini dengan berani dia merangkul lengan Vano.
Vano langsung berdecak,matanya menatap nyalang pada Raline dan tangan Raline dia hempaskan begitu saja.
"Bisa gak,gak usah pegang pegang gitu,lagian aku lagi gak mau ke kantin,bisa kamu pergi dari sini" ujarnya dengan nada yang sangat tak bersahabat sama sekali.
Raline memanyunkan bibirnya,lalu berdiri dan menghentak hentak kan kakinya kesal,lalu pergi juga dari sana membuat Vano bernafas lega.
Hampir setiap hari Raline seperti itu,secantik apa pun Raline,tak ada yang bisa mengusik hatinya pada Inara.Ya Inara gadis cantik yang lemah lembut itu dan jua sama pintarnya dengan dia,mampu membuat hatinya jungkir balik,namun dia masih simpan rapat perasaan itu.
Waktu semakin berlalu,bel pulang sekolah sudah berbunyi itu artinya jam pelajaran telah usai,semua siswa siswi saling bersahutan untuk segera pulang,bagi sebagian mereka itulah bel kebangsaan,karena artinya mereka segera terbebas dari yang namanya belajar.
Vano pun sama dia akan pulang,tapi sebelum itu dia ingin mengajak Inara untuk mengobrol,dia pun melangkah menuju kelasnya Inara.
"Ra.." panggilnya tepat Inara baru saja keluar kelas.
Inara tersenyum "Hai,Van" sapanya balik pada Vano,Vano membalas senyuman Inara dan hanya pada perempuan ini dia selalu menampakan senyum manisnya.
"Ra,ikut aku yuk,kita makan siang dicafe,aku ingin cerita sesuatu sama kamu" ajak Vano selanjutnya,terlihat Inara yang terdiam sedang berpikir.
"Aku telepon dulu Ibu ya" dia berniat untuk meminta ijin sama Ibunya,takut beliau merasa khawatir akan dirinya.
"Biar aku saja yang ijin sama Ibu kamu,sini aku yang bicara" Vano merebut ponsel Inara dan segera menekan tombol telepon pada Ibu Inara.
Vano benar benar meminta ijin pada beliau dan janji akan membawa Inara dengan cepat,ijinpun di terima.
"Yuk" ajak Vano,mereka berjalan beriringan dikoridor sekolah,dan sukses membuat siswi siswi disana seketika galau.
__ADS_1
Di parkiran nampak Raline yang sudah stay di depan mobil jemputan Vano,membuat Vano berdecak sebal.
"Van,aku nebeng kamu ya,aku gak dijemput soalnya" mukanya memelas menyebalkan bagi Vano.
"Gak ada,Inara bareng aku" jawab Vano tegas.
Raline sedikit mendelik sinis pada Inara "Kamu gak kasihan sama aku,Papi aku gak bisa jemput" dia pura pura memanyunkan bibirnya dan merasa sedih.
"Kan taksi online banyak" lagi lagi Vano jawab dengan ketus.
"Gak mau panas tau,ya ya ya aku nebeng kamu ya,kan satu arah juga" pintanya lagi.
"Kamu kan punya teman,apa gunanya teman kalau gitu" skakmat,Vano selalu bisa membalas dan bisa membuat Raline terdiam.
Namun Inara memotong "Van,ajak aja,lagian bener kan satu arah" Inara merasa kasihan,padahal Inara tau dia sering diganggu di Raline karena dekat dengan Vano.
Vano menatap Inara,dan Inara menganggukkan kepalanya,matanya meminta itu.
"Masuk" final Vano akhirnya,dan membuat Raline riang gembira seperti bocah kecil.
Namun tingkah Raline membuat Vano semakin sebal,kala dia mendorong Inara dan menyuruhnya duduk di depan,dan dia dibelakang dengan Vano.
Vano hanya semakin bisa mencebik kesal,dan selama diperjalanan Raline tak berhenti mengoceh ini itu,bahkan dia terus bertanya kemana Vano dan Inara akan pergi,dan lebih parahnya dia ingin ikut di antara mereka,semakin menyebalkan saja kan !
...***...
"Pak,pulang aja dulu,nanti Vano naik taksi online aja pulangnya,Vano udah ijin kok sama Mami dan Papi tadi" titahnya pada sang supir dan di iyakan olehnya.
Mereka sudah menemukan tempat duduk yang nyaman bagi keduanya dengan suasana taman bungab di depannya,Vano sengaja mencari tempat di belakang Cafe yang sudah di desain sebaik mungkin oleh pemiliknya,jadi udara segar bisa mereka rasakan saat itu.
"Bagus ya tempatnya,bikin adem lagi" tutur Inara setelah duduk dikursinya.
"Hem,sengaja cari tempat ini" jawab Vano "Kamu mau pesan apa,Ra ?" Vano memberikan menu makanan yang tersedia disana.
Inara menggeleng "Minum aja deh" Inara merasa ragu kalau harus memesan makanan,dia ingat di dompetnya cuma ada beberapa lembar uang lagi,dan uang itu bahkan bukan uang merah atau biru.
Vano tersenyum dia tak apa yang Inara ragukan,akhirnya dia yang memesan makanan sendiri,dan dia tau apa yang Inara sukai dan tidak.
"Ra,aku lagi bahagia" celetuk Vano selanjutnya.
"Oh iya,apa yang buat kamu bahagia ?" Seru Inara.
__ADS_1
"Papi udah berubah,Papi juga udah baikan sama Mami,bahkan sama Kita,Papi luar biasa hari itu"
pikiran Vano berkelana kala mengingat hari itu,dan dia tersenyum.
"Papi udah gak menuntut kita lagi untuk jadi apa yang Papi mau,terutama pada Alaska yang dulu selalu keras dan selalu membanding bandingkan dengan aku"
Inara masih setia mendengarkan
"Papi memberi kita jalan untuk memilih pilihan kita,dan jadi apa yang kita mau,aku pikir Papi tidak akan begitu,tapi Papi bener bener berubah"
sinar terang dari bola mata Vano begitu terlihat dan Inara merasa sudah tak ada lagi ganjalan dihati Vano.
"Papi pun tidak akan banyak mengekang kita,selama ity baik untuk beliau maka tak apa,intinya Papi tidak memaksakan kehendaknya"
"Aku turut bahagia Van,dia Ayah kamu dan dia tetap Ayah kamu,hati Ayah selamanya tidak akan keras,dengan begitu dia sangat menyayangimu begitu juga dengan dua saudaramu"
"Hem,kamu benar Ra.Aku gak tau apa yang membuat keputusannya berubah,yang pasti aku bakalan tetap buktikan,aku masih akan berikan yang terbaik untuk Papi dan Mami dan tidak akan mengecewakan mereka"
"Tentu,itu memang yang harus kamu lakukan Van,tetap semangat ya,raih apa yang kamu mau"
Keduanya saling tersenyum.
"Makasih Ra,kamu mau mendengarkan aku,aku hanya ingin membagi kebahagiaan aku sama kamu,karena hanya sama kamu aku bisa bercerita seluas ini,makasih banyak"
"Aku yang terlebih bilang makasih Van,karena dengan begini berarti kamu begitu percaya sama aku,dan aku merasa senang"
Makanan datang,Inara sempat terbelalak karena melihat makanan yang datang,yang dia tau harganya lumayan.
"Aku yang traktir,karena kamu sudah mau mendengarkan aku" Vano menjawab pertanyaan Inara yang secara tak langsung,mereka menikmati hidangan makan siang itu dengan tenang.
"Jadi Van,kalau Papi kamu sudah memberi ijin itu,kamu akan mempelajari apa yang kamu mau dong,dan nanti saat kuliah tiba kamu akan memperdalamnya?"
pertanyaan Inara sempat membuat Vano terdiam,dia memang punya keinginan sendiri,tapi....
"Biar aku pikirkan nanti,Ra" dia hanya bisa menjawab itu.
Terlepas dari sebuah pilihan,apapun itu Vano yakin itu yang terbaik.
...***...
Part Vano semua ya,selanjutnya pun aku akan menceritakan sedikit kisah Vano dan Alaska,dan kalau ada kesempatan aku akan membuat cerita tentang Vano kala besar nanti,Insya Allah kalau ada waktu dan kesehatan.
__ADS_1
Ok,untuk sekarang tetap stay baca ini ya😉😉