Terjebak Cinta Mr Arrogant

Terjebak Cinta Mr Arrogant
Bonus Chapter 10


__ADS_3

Hari pun berlalu dengan tenang dan damai,kepergiaan Alvaro entah membuat suasana rumah begitu hangat,ketiga jagoan Arisha merasa bebas melakukan apapun yang mereka mau,tanpa ada batasan dan larangan dari sang Papi,selama itu baik Arisha dan Oma Ambar tak mempermasalahkan akan hal itu.


Namun tanpa mereka sadari,kegiatan mereka selalu terekam jelas dan terihat oleh Alvaro selama di Solo,nyatanya seluruh rekaman CCTV dirumahnya dia bawa sampai ke Solo,melalui laptopnya.


Selama tiga hari di Solo,Alvaro mengawasi kegiataan semua orang yang ada dirumah,namun gegara itu membuat hatinya terbuka akan sesuatu hal.


Ya,kini dia merasakan sangat merasakannya,mereka begitu bahagia saat dirinya tak ada,mereka tertawa dengan lepas,bercanda,dan melakukan apa yang mereka mau,bahkan Arisha ikut tertawa dengan mereka,sedangkan saat ada dirinya Tawa itu tak ada dan tak selebar saat dia tak ada.


Alvaro menyadarinya,kalau dirinya telah salah pada mereka,membuat mereka terkekang dan tak bebas,aturan yang dia berikan sangat salah,bahkan memaksakan kehendaknya pada mereka itu pun salah.


Alvaro mendesah berat "Kalian begitu bahagianya tanpa aku" gumamnya kecil,tatapannya menerawang jendela kamar hotel yang dia tempati,menatap indah kota Solo dimalam hari.


"Papi merindukan kalian,maafkan atas keegoisan Papi,Papi selalu berkendak apa yang Papi mau tanpa meminta dan bertanya apa yang kalian mau,Papi salah" dia memejamkan matanya dalam,meresapi setiap kesalahannya.


Memang dia hanya ingin mempunyai penerus atas perusahaannya,mengingat ketiga anak mereka semua laki laki maka dia ingin semua ketiga anaknya terjun pada dunia bisnis dan meneruskan dirinya kelak,jika dirinya sudah tua.


Perusahaan itu sudah ada sejak dulu,selalu menjadi turun menurun dikeluarga mereka,maka dia harus mempunyai keturunan jua untuk meneruskan itu semua,dia tak mau perusahaan yang dulu dibangun susah payah harus jatuh pada tangan orang lain.


Namun dia berpikir kembali,Revano,Alaska dan Kenzio punya cita cita dan keinginan sendiri sendiri,bahkan mereka masih sangat muda untuk harus memikirkan apa yang dia mau,mungkin dulunya dirinya begitu,Opa Ronald yang begitu membuat dirinya menjadi penerus dan belajar bisnis sejak dini.


Apakah ini balasan dendam,karena dirinya dulu begitu ?dia terus berpikir ulang,namun dia merasa itu sangat salah,masa remaja ketiga anaknya harus dia paksa dengan belajar dan belajar,mereka harus pintar seperti dirinya,tapi nyatanya tak semua anak punya kemampuan yang sama,iya kan ?.


"Aku merindukan kamu juga Sha" setetes air mata menetes dipelupuk matanya,saat terlebih mengingat Arisha,sudah beberapa hari dirinya diabaikan oleh Arisha dan merasakan sangat kehampaan itu.


...***...


"Mi,hari ini bukannya Papi pulang ya" Zio yang bertanya setelah baru saja pulang dari sekolahnya.


"Iya,Papi lagi diperjalanan pulang Zio,tadi Om Sam yang kasih tau Mami"

__ADS_1


"Oh,Mami sama Papi masih marahan ya?" celetuk Zio selanjutnya,Arisha menghentikan aktivitasnya saat akan menaruh nasi dipiring Zio.


"Kata siapa,enggak kok" jawab Arisha berbohong,dia hanya tak mau ketiga anaknya tau dan terus jadi membuat mereka kepikiran.


Zio terdiam,dia tau Maminya sedang berbohong,tapi dia tak mau mempanjang itu semua,dia hanya berharap Mami dan Papinya seperti dulu yang selalu romantis.


"Udah,makan dulu Zio,makan yang banyak ya biar sehat" ujar Arisha pada Zio,anak bungsunya,ya bungsu karena dia sudah bulat tak akan hamil lagi,kecuali kalau memang Allah sudah berkehendak lain.


Zio menganggukkan kepalanya,dan melahap makan siangnya,Vano dan Alaska belum pulang,katanya mereka ada tambahan belajar.


Oma Ambar sudah kembali kerumahnya,dia tak bisa lama lama disana karena ada keperluan lain disana.


Tak lama kemudian suara yang selama tiga hari menghilang dirumah itu terdengar menyapa keduanya yang sedang dimeja makan.


"Assalamualaikum,Papi pulang" serunya sambil tersenyum hangat melihat anak ketiganya dan sang Istri tercinta.


Zio berseru senang menyambut Alvaro dia menyalami tangan Alvaro dengan sopan,bahkan memeluk meski cuma tiga hari namun dia jua merasa rindu pada Papinya dan meski dia tau bagaimana sikap Papinya selama ini.


Arisha menyambut tangan Alvaro untuk menyalaminya,ada sedikit rasa canggung dari keduanya,Alvaro memeluk Arisha erat dan tak lupa membubuhkan satu kecupan dikepalanya,Arisha hanya bisa diam tapi dia membalas pelukan Alvaro.


"Pulang cepat,Mami kira nanti sore,sudah makan ?Mami siapin dulu kalau belum" ujar Arisha selanjutnya,walau berkata lembut tapi Alvaro tau Arisha masih sedikit marah padanya.


Alvaro menyimpan tas kerjanya disamping tempat duduknya,lalu dia tersenyum dan duduk ditempat biasa dia makan.


"Iya belum Mi,Papi lapar" jawabnya kemudian,dan Arisha melayani Alvaro seperti biasanya.


"Zio,udah selesai Pi,Mi.Zio boleh main kan ?" Zio meminta ijin pada keduanya,setelah dia menyelesaikan makan siangnya.


"Boleh,kamu main aja sana,lakukan apa yang kamu suka,selama itu baik dan gak aneh aneh ya,dan kalau main keluar jangan jauh jauh,kalau jauh Papi harus menyuruh penjaga buat jagain kamu" Alvaro menjawab panjang lebar,yang biasanya dia sering banyak berpikir untuk menyuruh anak anaknya pergi bermain,namun kali ini berbeda.

__ADS_1


"Papi ijinin Zio main keluar ?" Zio bertanya dengan kurang percaya,padahal tadinya dia meminta ijin untuk main dirumah saja.


"Iya Papi ijinin,kalau jauh Papi harus tugaskan penjaga buat kamu,lakukanlah apa yang kamu suka Nak" Alvaro mengelus rambut Zio lembut.


Zio masih terdiam dan masih tak percaya,begitu juga dengan Arisha dia melongo cengo mendengar penuturan Alvaro tadi.


"Papi serius ?" tanya Zio kembali.


"Iya Papi serius,gih main sana" tutur Alvaro lagi,Zio menatap pada Arisha dan Arisha menganggukkan kepalanya,mengisyaratkan segera pergi saja,sebelum Papinya berubah pikiran,Zio mengerti dia lantas berpamitan sopan dahulu pada kedua orang tuanya,lalu pergi bermain.


"Kamu sudah makan Mi ?makan bareng yuk,aku rindu makan satu piring berdua apalagi disuapi kamu Sayang" celetuk Alvaro kemudian,setelah melihat kepergian Zio.


Arisha merasa ada yang aneh pada diri suaminya itu,repleks dia langsung menaruh telapak tangannya di dahi Alvaro dan membuat Alvaro mengernyit bingung.


"Gak panas tapi" celetuk Arisha dan membuat Alvaro tertawa kala itu.


"Hei,aku gak sakit Sayang,kamu mengira aku sakit,hem" Alvaro menurunkan tangan Arisha dan menggenggamnya erat,betapa dia merindunya pada Arisha.


"Tapi kamu aneh Mas"


"Aneh gimana sih,udah nanti aja bahas itu,aku lapar Mi suapi ya" pintanya lagi dengan manja.


Arisha mencebik kecil lalu dia tertawa,dia pun merindu Alvaro yang manja seperti ini.


"Kamu kayak anak kecil aja Mas,Zio aja udah gak aku suapi" gerutu Arisha kemudian.


"Biarin itukan Zio,tapi aku beda,aku ingin disuapi sama kamu istriku Sayang,ya,ya,ya" Alvaro semakin memelas saja.


"Iishhh mukanya jangan gitu Mas" Arisha tertawa dan menepuk bahu Alvaro kecil,lalu keduanya tertawa.

__ADS_1


Mereka seakan melupakan apa yang sudah terjadi beberapa waktu yang lalu,yang tadinya sempat menegang kini sudah mencair.


...***...


__ADS_2