
Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 malam,rasa kantuk mulai datang menerpa Alvaro,karena semalaman kemarin dia tidak tidur saat dibawa warga.
"Kamu mengantuk Varo ?yah payah,masa jam segini udah mengantuk ?" Sarkas Pak Rudi.
"Ya ampun Pak,kalau saja anda tau kemarin saya tidak tidur sama sekali" Rutuknya dalam hati,namun selanjutnya menampilkan wajah datar.
"Ya udah sana tidur.." Usir Pak Rudi,tapi dirinya malah ikut berdiri dan yang pertama kali masuk,dan Alvaro mengekorinya dari belakang.
"Kamu tidur disana,dikamar nya Risha" Ujar Pa Rudi setelah kini mereka diruang keluarga,disana ada Ibu,Arisha dan Shara.
"Sha,kamu anterin dan siapin peralatan tidur suami kamu gih !!" Titahnya pada Arisha.
"Ogah,dia tidur dikamar tamu aja" Tolaknya,rasanya dia geli dan merinding kalau harus tidur satu ranjang dengan laki laki.
"Kamu lupa,dia kan sudah jadi suami kamu Sha,ayo cepat antarkan dia,dia kelihatan sangat kelelahan"
Pak Rudi mengomel,sambil menahan rasa kesalnya pada Arisha.
"Tapi Risha gak mau,Risha belum mau terima pernikahan itu" Arisha pun memberengut kesal.
"Risha...!!" Nadanya sedikit menyentak.
"Sudah Pak,biar saya tidur di Sofa aja gak apa apa" Alvaro menengahi,dan terlihat Arisha mencebik.
"Tidak bisa,Risha..Bapak gak pernah mengajarkan kamu seperti itu,dia sudah jadi suami kamu,satu hal yang harus kamu tau,hormati dia sebagai suami,Bapak tak suka kamu begitu"
Arisha memberengut masam
"Risha,kamu gak boleh begitu,benar apa kata Bapak dia sudah jadi suami kamu,dan wajib tidur bersama,kamu gak boleh begitu Nak,bawa gih dia ke kamar kamu"
Kali ini Bu Anggi yang memberi wejangan untuk Arisha,.meskipun masih cemberut tak urung dia berdiri dan berjalan ke arah kamarnya,dan Alvaro mengikutinya.
"Saya permisi dulu Pak,Bu" pamitnya pada Bapak dan Ibu.
"Iya istirahatlah yang nyenyak" Sahut keduanya.
"Bu,suami ka Risha ganteng banget ya,Shara mau punya suami kaya gitu deh" Seloroh Shara.
"Belajar yang benar,nilai jeblog aja udah mau mikir punya suami kaya gitu" Sungut sang ibu pada Shara anak bungsunya.
"Iih ibu mah" Shara cemberut.
***
"Tidur disitu" Arisha menunjuk ranjangnya yang ukurannya tak sebesar kepunyaan Alvaro.
Alvaro masih menelisik ruang kamar Arisha,yang dia lihat hanya seukuran kamar mandi dirumah nya,hanya ada tempat tidur,lemari dan dua meja kecil disana.
Cat berwarna pink dan beberapa gambar kartun cewe menempel didinding,belum adanya beberapa foto foto dirinya dan keluarga juga bersama teman temannya terpangpang di dinding,kamar khas wanita sekali,pikirnya.
__ADS_1
"Kenapa ?kamar aku kecil ?gak nyaman ?kalau gak nyaman pulang saja sana" Ujar Arisha jutek.
Alvaro terdiam dan kali ini pandangannya menuju Arisha yang sedang duduk di kursi sebelah meja panjang.
Lalu alvaro merebahkan tubuhnya di atas ranjang Arisha,dia memejamkan matanya,rasa kantuk benar benar sudah menguasai dirinya.
Arisha menatap gerak gerik Alvaro dengan nada jengkel dan kesal,namun di dalam hatinya merasa gugup,di dalam kamar berdua dengan status sudah menjadi suami dan istri.
Arisha bingung dia pun mengantuk,tapi dia juga gugup dan takut,untuk tidur satu ranjang bersama Alvaro .
Pikirannya pun berkelana kemana mana,apa yang akan terjadi selanjutnya,dan pikiran aneh pun dia rasakan apakah Alvaro akan membuat sebuah perjanjian lagi ?seperti sebelumnya ?kalau iya,oh tidak bagaimana nasibnya.
Arisha terus bulak balik tak tentu arah,dan terdengar suara Alvaro dengan suara baritonnya yang khas.
"Kamu kenapa ?lagi mengukur kamar kamu sendiri ?" Desisnya sambil berdiri lalu membuka kaosnya,sudah hal biasa baginya tidur tanpa baju.
Arisha terpekik kaget mendengar suara Alvaro ditambah lagi Alvaro yang membuka bajunya tiba tiba di depan matanya. Dan sudah terlihat telanjang dada.
"Tuan anda mau apa ?" Pekiknya sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Alvaro tak menjawab,dia kembali membaringkan tubuhnya "Tidurlah,aku tak akan makan kamu,aku sedang tak berselera" Selorohnya.
Arisha mencebik "Terus kenapa anda membuka baju anda,ayo cepat pakai lagi !!" Sungut Arisha kesal.
"Aku gerah,lagian udah hal biasa aku seperti ini" Jawabnya kembali datar.
"Aku bukan Tuan mu,aku suami mu dan kamu istriku" Jawab Alvaro sekenanya.
Jleb
Bahu Arisha merosot "Terpaksa" Sergahnya.
"Mau terpaksa atau apapun kamu tetap istriku,dan kita sudah menikah" Desisnya lagi.
Arisha terdiam.
"Tidurlah,aku sedang lelah tak berminat berdebat dengan kamu,nanti dijakarta kita bicarakan lagi"
Alvaro kembali memejamkan matanya ,sedangkan Arisha dengan malas,dia pun merebahkan dirinya juga disamping Alvaro dengan memangkas jarak diantaranya,dia tidak mau melihat ke arah Alvaro yang sudah telanjang dada,rasa gugup kembali menghampirinya
Walau masih gugup ,tapi dia juga sudah mengantuk,.mau bagaimana lagi,perlahan matanya terpejam dan tak lama keduanya sudah mengarungi mimpi bersama.
Namun di dini hari tidur Alvaro harus terusik oleh Arisha,karena tidurnya Arisha sama sekali tak beraturan,kaki nya sudah kemana mana,kadang menindih Alvaro.
"Shit !!ini cewe benar benar ya" Rutuknya seketika,dia pun terbangun dan menekan pelipisnya yang terasa pening.
Sejenak dia terdiam,dan menelisik wajah terlelapnya Arisha,seuntas senyum terbit dibibirnya.
"Wanita aneh nan konyol ini sudah menjadi istriku" Ujarnya sambil mengusak rambut Arisha dengan senyum yang merekah.
__ADS_1
Entah apa yang sedang dirasakannya,hanya dia ya tau,karena author juga gak tau,atau tepatnya belum mau kasih tau.
Esok harinya Alvaro harus segera kembali ke Jakarta,dia juga sudah memberi tahu kedua Orang tuanya untuk datang kesana.
***
Pagi harinya Arisha bangun lebih dulu,dan disusul Alvaro,wajah Alvaro terlihat pucat dan muka bantal,karena tidurnya benar benar tak pulas sama sekali,mereka sudah melewati sarapan pagi mereka dan segera siap siap pulang ke Jakarta.
"Saya akan segera menyelesaikan masalah saya dulu di Jakarta Pak,Bu..dan setelahnya saya akan menjemput kalian disini" Tutur Alvaro.
Kini mereka sudah di depan mobil Alvaro yang sudah menjadi mahar kemarin.
"Baiklah,kami tunggu Nak Varo,Sha inget pesan pesan Ayah..jangan kamu abaikan" Tatapannya tertuju tajam pada Arisha.
"Bisa gak,Risha gak usah ikut saja" Rengeknya belum mau melepaskan rangkulannya pada lengan sang Ibu.
"Risha.." Seru Pak Rudi lagì.
Arisha mencebik kesal,dia pun pamitan pada kedua orang tuanya ,pada kakak dan kakak iparnya dan pada Shara adik kecilnya.
"Kami pamit" Tutur keduanya setelah mereka mengucapkan salam.
Di dalam mobil tidak ada percakapan,mereka saling diam dengan pikiran masing masing,hingga mereka sudah memasuki kota Jakarta.
"Kita mau kemana Tuan ?kenapa ke arah sini ?"
"Kerumah aku" Jawabnya singkat dengan masih fokus pada jalanan di depannya.
"Eh,tunggu Tuan..kènapa harus ke rumah anda ?"
"Kamu lupa kita sudah menikah,dan kamu harus tinggal dirumah aku"
"Bu..bukan lupa,hanya saja semua barang barang aku masih di kossan,dan sekarang kan aku harus kuliah"
"Aku akan suruh orang lain untuk mengemasnya dan membawa barang barang kamu"
Arisha terdiam
"Tuhkan belùm apa apa aja,udah banyak mengatur,apalagi seterusnya" Arisha menggerutu kesal sangat kesal.
Alvaro hanya melirik sedikit "Baiklah.." Ujarnya kemudian,lalu memutar balikan mobilnya.
"Bawa saja barang yang akan kamu bawa,dan aku akan suruh orang membawanya nanti,dan kedepannya kamu harus mengikuti apa kataku,karena aku tak suka dibantah"
Arisha memutarkan bola matanya merasa jengah,benar kan dia sudah terjebak pada Alvaro.
***
...Bersambung...
__ADS_1