
"Sayang,ke kampus hari ini ?"
Mereka baru saja menyelesaikan acara mandi bersama setelah melakukan pergumulan kembali di shubuh tadi.Arisha sedang menyiapkan keperluan Alvaro.
"Iya ada jadwal ketemu dosen pembimbing,kenapa ?"
Kini sedang memakaikan dasi dikerah kemeja Alvaro,seperti biasa aktivitas rutinan nya.
"Jam berapa ?sampai jam berapa ?"
"Kenapa sih ?nanya nanya jam segala,protektif banget"
Bibirnya mengerucut lucu,dan hal itu tak lepas dari pandangan Alvaro,maka yang dia lakukan adalah mengecup bibir merah itu.
"Mas iih,kebiasaan deh"
"Abis gemesin banget,kita ulang lagi yuk"
Alisnya naik turun ,sengaja menggoda Arisha sedangkan Arisha sedikit mencebik dan dia pukul kecil bahu Alvaro.
"Jangan aneh aneh Mas,nanti yang ada aku gak bisa jalan"
Alvaro menggulum senyum "Aku tanya loh ?bukan maksud apa apa,nanti kita makan siang disini,ada yang ingin bertemu dengan kamu,dan ada yang ingin beliau katakan"
"Siapa Mas ?"
"Nanti juga tau sendiri,Sayang,kesini dulu"
Alvaro menarik pergelangan tangan Arisha,yang kini ada di atas pangkuannya,karena posisi Alvaro sedang duduk diatas Sofa.
"Hemm,apa ?"
"Kalau seandaƬnya kamu sudah bisa bertemu dengan kedua Orang tua kamu ?kamu bakalan bagaimana ?apakah menghindar darinya ?"
Pertanyaan beruntun Alvaro layangkan pada Arisha,dia tau betul bagaimana perasaan seseorang yang ditinggal pergi Orang tua kandung,yang bahkan dia menganggap telah membuangnya.
"Aku gak tau,aku juga ingin bertemu dengannya dan mencari tau apa alasan mereka,tapi aku tak yakin bagaimana reaksiku nanti Mas"
Wajahnya sendu mengisyaratkan betapa dia bersedih kala itu,dan Alvaro paham.Alvaro mengecup kening Arisha dan memeluknya sebentar memberi usapan pada punggung Arisha.
"Yuk,kita sarapan dulu,pokoknya nanti aku jemput dan makan siang disini"
Arisha tidak banyak bertanya lagi,ah mungkin saja sodaranya Alvaro yang akan datang,dia iyakan saja.Mereka sarapan bersama dengan Mom Ambar yang masih disana.
Semenjak sakit Mom Ambar tinggal disana,pasalnya dia sedang bertengkar dengan Dad Ronald,dia mencurigai suaminya itu sejak kejadian dipesta itu,namun dia mencoba untuk tetap berkhusnuudzon padanya.
"Kamu tenang aja nanti Mom yang masakin,Mom gak akan kemana mana kok,jangan kecapean lagi Sayang"
Mom Ambar membelai rambut Arisha dengan sayang,kalau benar kejadian dipesta ulah suaminya,maka tak ada kata maaf untuknya,kini yang dia lakukan mencari tau semua hal itu.
"Iya Mom,aku berangkat dulu" Setelah berpamitan,mereka pun bergegas pergi bersama sama kembali.
***
__ADS_1
Makanan sudah tersaji lengkap diatas meja makan,seperti akan hajatan saja pikir Arisha ,tapi bukan itu yang jadi perhatiannya.
Perhatiannya tertuju pada kedua Orang tua angkatnya yang sudah ada dirumah besar itu ,sedang berbincang dengan Mom Ambar.
"Bapa,Ibu kalian ada disini juga ?jadi kalian yang akan datang hari ini ?"
Pak Rudi dan Bu Anggi memeluk anaknya itu,sebelum menjelaskan maksud kedatangan mereka.
"Kamu Mas,Orang tua aku toh yang mau datang kesini ,tak kira siapa"
Alvaro hanya tersenyum,begitu pun dengan Kedua orang tua itu dan juga Mom Ambar.Ada raut kesedihan diwajah Pak Rudi dan Bu Anggi.
"Ganti pakaian dulu gih,nanti kita makan siang bareng" Saran Mom Ambar,dan Arisha mengangguk.
Setelah selesai berganti pakaian dan nampak segar,dia turun kebawah lagi bersama Alvaro,dan ternyata disana sudah ada Pak Bastian,beliau tamu yang Alvaro katakan.
Pak Bastian tersenyum cerah kala melihat anaknya itu,putri kecilnya dulu benar benar tumbuh dengan baik,pikirnya.
"Loh kok ada Pak Bastian juga Mas ?kamu mengundangnya juga ?"
"Hem,dia tamu yang kita tunggu"
Arisha mengernyit,ada apa ini ?
Arisha menyapa Pak Bastian,tapi beliau malah lebih dulu memeluk Arisha tiba tiba dan membuat Arisha menjadi canggung kala itu.Pelukan itu berlangsung sedikit agak lama,dan Arisha sungguh merasa aneh.
Hingga mereka pun melangsungkan acara makan siang itu dengan sedikit percakapan diantara mereka,selingan tawa hadir disana dan itu ulah Mom Ambar.
"Duduk lah Nak,ada yang harus kamu tau,ini juga buh hasil kamu nak untuk bisa bertemu dengan mereka" Lirih Bu Anggi dia tak bisa menahan air matanya.
"Bu,kok ibu menangis sih ?ibu jangan nangis" Arisha menghapus air mata dikedua pipi Ibunya itu.
"Risha,Pak Bastian Ayah kamu" Pak Rudi mencoba perlahan lahan memberitahunya.
Arisha melihat ke arah Pak Rudi,dia sedikit terhenyak kala itu ,lalu dia melirik ke arah Pak Bastian,beliau tersenyum cerah pada Arisha.
Pikirannya berputar pada apa yang tadi apa Alvaro tanyakan,apakah dia akan menghindar kala sudah tau siapa Ayah kandungnya ?dia menoleh ke Alvaro dan dia mengangguk,mengiyakan apa kata Pak Rudi.
"Kenapa bisa ?kenapa tiba tiba ?"
Itu pertnyaan yang muncul pertama kali dimulutnya,dan membuat Pak Bastian untuk bisa berlapang dada.
"Sayang,lihatlah ini..beliau Ayah kandung kamu Nak,kamu sudah menemukan dia" Ujar Bu Anggi dengan memberikan berkas berkas pada Arisha.
Arisha memejamkan matanya,benarkah beliau Ayah kandungnya ?benarkah semua ini.
"Bapa dan Ibu Risha hanya kalian,kalian yang sudah membesarkan Risha ,bukan dia"
Dan inilah reaksi yang Arisha berikan,entah kenapa dia mengatakan itu,karena mungkin perasaan kecewanya.
"Risha,meski begitu beliau Ayah kamu,kamu darah dagingnya dengarkan dulu alasan beliau Nak,kamu tetap anak Bapa Sayang,selamanya begitu"
Arisha menggeleng "Tapi Risha udah gak mau tau lagi tentang mereka,Risha gak mau melihat mereka" Namun hatinya berkata lain,dia senang bisa menemukan salah satunya.
__ADS_1
"Kami tinggalkan kalian berdua ya," Usul Mom Ambar,dan di iyakan oleh Keduanya juga Alvaro.
Arisha menggeleng dan sempat menolak,tapi mereka tau Arisha butuh waktu berdua.
"Mas,jangan pergi ..tetap disini" Dan hanya Alvaro yang masih ikut disana,terpaksa.
"Mas.."
"Dengarkan beliau dulu Sha,beliau punya alasan" Alvaro mengelus rambut Arisha dan menghapus air matanya.
Alvaro juga memperlihatkan lagi berkas itu,yang berisi fotonya saat bayi,foto mereka bertiga,foto kalung yang menjadi titipan terakhir,juga berkas hasil test Dna.
"Ini.." Air matanya turun dengan deras dipelukan Alvaro,dia tidak bisa membendungnya lagi.
Pak Bastian mendekat "Maafkan Ayah Nak,,Maaf" Tak hentinya kata maaf Pak Bastian lontarkan hingga Arisha merangsek kedalam pelukannya dan kembali menangis disana.
Alvaro pun tak kuasa untuk tak menangis,dia terharu melihat ini,dia juga tak menyangka Pak Bastian adalah Ayah kandung Arisha.
"Maafkan Ayah Risha,,Ayah baru menemukan kamu" Lirihnya lagi.
Arisha melepaskan pelukannya "Ibu,dimana Ibu ?" Tanyanya karena sedari tadi dia hanya melihat beliau saja.
Tatapan Pak Bastian kembali sendu "Ibumu sudah tiada Nak,sebelum kamu hilang,beliau sudah meninggalkan kita"
Arisha kembali menangis,Pak Bastian menceritakan segalanya padanya,tidak ada yang terlewat.Perlakuan Anita pun tidak dia tutupi.
Arisha bisa menerima alasan itu,dia memaafkan Pak Bastian dan menerimanya.Ayah dan Anak itu masih saling melepas rindu,Arisha banyak bercerita tentang kehidupannya tanpa dirinya.
Pak Bastian pun sama,menceritakan hidupnya tanpa Indri dan Arisha,percayalah Tuhan itu baik.
"Jadi diluar kita pura pura hanya saling mengenal saja Yah ?"
"Iya Sayang,hanya untuk sementara sampai Ayah bisa menyelesaikan urusan Ayah dengan bibimu,Alvaro yang akan menjaga kamu Nak,Ayah percaya dia"
"Ayah jaga diri baik baik,Risha masih pengen sama Ayah"
"Kapan kapan Ayah akan kesini lagi Sayang"
"Iya Ayah,Yah..aku ingin bertemu Ibu"
"Baiklah kita jenguk Ibu dirumahnya ya"
Arisha mengangguk,mereka kembali ke ruangan kerja,mereka berbincang banyak dan Pak Bastian akan memberikan sebuah rumah untuk Pak Rudi dan Bu Anggi padahal rumah itu baru direnovasi oleh Alvaro,dan mereka menolaknya.
Maka Pak Bastian memberikan tawaran lain,bukan bukan sebagai untuk membeli Arisha kembali,Arisha tetap anak mereka,Pak Bastian tak akan mengambil dari mereka juga.
Beliau memberikan ongkos untuk mereka umroh dan memberikan biaya untuk sekolah Shara ,juga membangun sebuah usaha toko roti untuk Bu Anggi,dan kesenjangan masa depan untuk Salvia.
Sebagai ucapan terima kasihnya pada mereka,lagi lagi mereka menolak,tapi kali ini tidak ada penolakan sama sekali.
***
...Bersambung...
__ADS_1