
Maafkan aku telat 😁
...***...
Alaska memapah Maminya kelantai atas,dan Arisha minta untuk ke kamar Alaska saja,dia berniat untuk mengobati luka akibat pukulan Alvaro tadi.
Vano yang sedari tadi mendengar pertengkaran Papi,Mami dan adiknya merasa sesak,dia merasa tak nyaman akan situasi ini,dan terlebih dia merasa ingin marah pada sang Papi,karena sudah melukai Mami tercinta nya,Ya tentu dia melihat kejadian itu dilantai atas sana.
"Mi,Mami baik baik aja kan?" raut wajahnya nampak sangat khawatir,dia membantu memapah Arisha,namun tatajan tajam dia tunjukan untuk sang adik,dia merasa ini semua karena Alaska.
Andaikan Alaska mau menurut dan jadi anak baik,kejadian ini tak akan terjadi,hati Maminya terluka.
"Mami,gak apa apa Vano," Arisha mengelus lembut tangan Vano dan dia masih mampu mengulas senyum cantiknya diusianya kini.
Mereka sudah sampai dikamar Alaska,mereka berdua mendudukan Mami di salah satu sofa disana.
"Kamu ganti baju dulu ,Nak" titahnya pada Alaska,dan Alaska mengangguk,dia berdiri namun..
Kerah atas bajunya ditarik paksa Vano,dan dia dihempaskan kedinding oleh Vano,Vano mencengkram itu sangat erat.
Jelas Arisha kaget ,dia membulatkan matanya dan beranjak berdiri,walau dengan sempoyongan karena pusing akibat benturan tadi.
"Semua gara gara lo si alan,,apa susahnya lo nurut sama Papi ,Hah!!" Vano sangat emosi,dia emang pikir itu semua salah Alaska.
Vano hampir melayangkan pukulannya ke Alaska,namun Arisha segera mencegahnya.
"Vano,jangan sayang!!" Raut wajah Arisha semakin menyendu.
"Jangan,Mami gak mau kamu seperti Papi kamu,menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini,Nak" Arisha merasakan sesak semakin dalam,masalahnya ini membuatnya down.
Arisha menggelengkan kepalanya lagi pada Vano,dan tetiba tubuhnya tak bisa dia tahan lagi,dia hampir oleng ke belakang dan dengan sigap Vano juga Alaska memumounya.
"Mami..!!" teriak keduanya,dan keduanya membawa Arisha kembali duduk disofa.
"Mami gak apa apa" jawab Arisha selanjutnya.
"Maafin Vano,Mi" lirih Vano,dia berjongkok dihadapan Arisha,dan Arisha tersenyum hangat pada Vano.
"Maaf" kata itu terucap dari mulut Alaska,dia mengatakannya sambil menundukan kepalanya,sepertinya dia merasa menyesal.
__ADS_1
Arisha kembali tersenyum,dia mengelus lembut kepala Alaska.
"Ganti baju dulu ya,nanti Mami obati luka kamu" titahnya selanjutnya dan dituruti Alaska.
Vano bergerak mengambil kotak P3K,dia kembali dan duduk disebelah Arisha.
"Vanobantu obati luka Mami ya" ujarnya sambil mengolesi luka dipelipisnya Arisha.
Arisha hanya tersenyum dan mengangguk.
"Zio,gak lihat kan ?" Arisha mempertanyakan anak bungsunya,dia khawatir Zio melihatnya juga.
"Gak Mi,Zio tertidur saat aku ajak main tadi,dia gak mendengar maupun melihat kejadian tadi" Vano menjelaskan apa yang sebenarnya,karena memang tadi dia ajak Zio bermain game dan telingannya Zio dia pakaikan earphone musik hingga dia ketiduran dikamar Vano.
"Syukur kalau begitu" Arisha kembali tersenyum.
Alaska sudah selesai mengganti pakaiannya,dia kembali ikut duduk disamping Arisha.
"Makasih ya Kak,sini Ska Mami obati luka kamu" setelah dirinya selesai diobati Vano,giliran dirinya yang ingin mengobati Alaska.
"Ska" panggilnya pelan,sambil mengolesi salep diwajah Alaska.
"Iya,Mi" jawab Alaska pelan.
Alaska menunduk "Iya Mi,maafin Alaska" ucapnya sendu.
"Kenapa ?ada apa,hem ?"
"Mereka mengeroyoki salah satu teman Ska,Ska gak terima Mi" jawabnya jujur dan apa adanya.
Arisha menghela nafasnya "Tapi gak begitu Sayang,gak harus kamu balas dengan pukulan juga,ada cara lain kan.Mami gak pernah mengajarkan kalian seperti itu" dia kembali menghela nafas gundah.
"Pukulan dibalas pukulan bukan solusi,itu malah akan jadi menambah masalah buat kamu Ska,Mami gak suka loh kamu kaya gini" Arisha memberi wejangan pada Alaska.
"Apa yang kalian lihat tadi juga,jangan jadikan pelajaran ya,setiap seseorang melakukan kesalahan,tak seharusnya kita balas dengan kekerasan,ada cara lain untuk menyelesaikan sebuah masalah,tanpa harus dengan memukul"
"Ska,apa berat untuk bisa menuruti apa yang Papi kamu mau,apa berat untuk bisa jadi anak baik ?"
Alaska tertegun,dia ingin jadi anak baik,tapi dia tak suka selalu dibandingkan dengan Vano,dan dia merasa dia bukan robot.
__ADS_1
"Aku pun robot yang bisa kalian pergunakan seenak kalian,Mi" jawab Alaska.
"Lo !!" Vano menatap tajam Alaska,dia tak suka akan jawaban Alaska.
Arisha mengelus tangan Vano supaya tenang.
"Ska,Kami tidak seperti itu,semua demi kamu juga Sayang"
"Demi aku ?Mami bilang Demi aku,Mi aku juga punya impian aku sendiri,percuma menuruti apa yang Papi mau,nyatanya dia tak pernah lihat aku Mi,aku selalu kalah sama Kak Vano,Papi selalu bilang Kak Vano lebih baik dari aku" Alaska berdiri,dia menghela nafas kasar.
"Jadi dari pada menuruti apa yang Papi mau ,yang tek pernah terlihat sama sekali,lebih baik aku begini saja,menjadi anak pembangkang seperti ini.Maaf Mi,aku tetap tak bisa menjadi anak baik yang Mami ingini"
Alaska pergi dari kamarnya sendiri dan dia masuk ke kamar Zio,dia tau Zio ada dikamarnya Vano.
Vano berdiri hendak mengerjar adiknya itu,namun tertahan oleh Arisha.
"Biar Vano,nanti Mami bicara lagi sama dia" raut wajah Arisha semakin menyendu,dia sedih kenapa menjadi seperti ini.
Obsesi Alvaro menjadikan anak anak mereka merasa tertekan,seberapa kuat dia menolak keinginan Alvaro ,maka perdebatan yang akan terjadi.
Arisha sempat merasa lelah,dia harus bagaimana.
...***...
Dibawah Alvaro merenungi kesalahannya tadi,dia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya,dia ingin mengejar Arisha,namun egonya ternyata lebih tinggi.
Makan malam akan tiba,seperti biasa Arisha menyiapkan segala rupanya dibantu ART disana.
Semenjak kejadian tadi Arisha tidak menemui Alvaro sama sekali,mereka tak sempat bercengkrama lagi.Arisha hanya merasa kecewa pada Alvaro.
Ketiga anaknya sudah muncul disana,ditempat mereka masing masing,disusul Alvaro yang baru datang,dirnya sempat melirik Arisha,dan melirik pelipis yang dibaluti perban kecil,dia sedikit meringis dan merasa semakin bersalah.
Lantas dia duduk ditempatnya,melirik ketiga anaknya satu persatu.Arisha menghampiri dan menyiapkan makanan untuk ke empatnya.
Terakhir pada Alvaro,Alvaro sempat kembalu melirik Arisha yang nampak diam saja saat melayani dirinya,tidak seperti pada ketiga anaknya.Arisha memberikan senyuman cantiknya pada mereka,sedangkan pada dirinya tidak.
"Udah cukup Mi" sebenernya Alvaro ingin bisa bercakap dengan Arisha,dia pikir Arisha akan berkata,namun ternyata tidak.
Setelah Alvaro mengatakan itu,Arisha duduk ditempatnya,dia benar benar tak mengatakan apapun pada Alvaro.Alvaro mendesah gundah.
__ADS_1
...***...
...Maafkan telat ya😁,,nanti aku up lagi mungkin besok🥰...