
Hari berganti hari ,bulan berganti bulan dan hari yang Alvaro dan Arisha lalui tak mulus,terutama Arisha.Harinya selalu tidak tenang,kemana pun dia pergi seperti banyak yang mengikutinya.
Sudah Empat Bulan ini,dia merasa sedang diteror.Banyak juga kejadian yang aneh aneh menimpanya.
Entah dirumah atau bahkan diluar sekali pun dirinya merasa tidak tenang,dan bahkan satu bulan yang lalu dirinya hampir mati kalau saja Alvaro tidak disana.
"Kamu tenang dulu,aku pasti akan menyelamatkan kamu"
Mobil yang dia tumpangi bersama sang supir mengalami rem blong yang sudah dipastikan itu oleh seseorang.
"Mas,aku takut..aku takut Mas"
Arisha terus menangis di dalam mobil ,rasanya dia akan mati hari itu juga.
Namun dengan bantuan Alvaro dan Sam,semua bisa terselesaikan,Alvaro sengaja mengarahkan supir yang membawa Arisha untuk ke jalan yang sepi.Meskipun Pak supir mengalami luka luka tapi keduanya bisa terselamatkan.
Dan semenjak itu pengawalan Arisha semakin ketat saja,Alvaro masih berusaha mencari pelaku nya.Dan untuk Mom Ambar dia sempat berbicar dengan Dad Ronald,namun apa yang Dad Ronald lakukan adalah menahan Mom Ambar diluar Negeri.
Intinya Mom disekap oleh Dad Ronald,dan yang selama ini melakukan teror pada Arisha adalah dirinya,bukan Airish..Airish sudah kembali keluar negeri juga karena suaminya yang pinta,setelah putusan pengadilan sang Mami yang dijatuhkan hukuman seumur hidupnya.
***
"Mas,bisa tidak jangan pergi bekerja"
Arisha masih bergelayut manja dipelukan Alvaro,masih mengdunselkan wajahnya di dada Alvaro,menghirup aroma parfum yang dia sukai beberapa hari ini.
"Gak bisa Sayang,hari ini aku ada rapat,gak bisa aku tinggalkan" Alvaro pun membalas pelukan istri tercintanya itu.
"Aku ikut boleh" Ujarnya memelas supaya ikut ke kantornya Alvaro.
"Dirumah aja ya," Semenjak kejadian itu juga Alvaro melarang keras Arisha bekerja.
Arisha cemberut "Aku ingin ikut Mas,ikut ya..ya" Matanya berkedip kedip dan semakin memelas.
Alvaro mengecup bibir Arisha singkat " Manja banget sih istrinya aku ini" Lalu menjawel hidung mancung Arisha.
"Gak tau pengennya deket sama kamu terus Mas,suka sama Parfum kamu" Ujarnya lagi dengan semakin manja.
Alvaro menggeleng namun tersenyum "Baiklah,tapi kamu harus nurut,jangan kemana mana tunggu saja aku diruangan ya"
"Siap Suamiku"
Lalu keduanya saling memanggut bibir mereka,sebelum mereka bergegas pergi.
Saat memasuki mobil disana sudah ada Sam seperti biasa,selain menjabat sebagai asisten ternyata dia juga jadi supir abadi Alvaro.
Baru saja dia duduk,perutnya terasa di aduknya,tenggorakkannya terasa mual saat mencium sesuatu di dalam mobil.Dia menutup mulutnya,lalu segera berlalu mencari tempat untuk membuang rasa yang sudah bergejolak untuk segera dikeluarkan.
"Hoek..hoek" Suara itu membuat Alvaro berlari mengikuti Arisha dan ikut berjongkok,lalu mengusap punggung Arisha.
"Sayang,kamu kenapa ?" Tanyanya begitu khawatir.
__ADS_1
Arisha menggeleng dia masih merasai mual sangat mual,apalagi saat Sam mendekat yang berniat akan memberikan sapu tangan pada Alvaro.
Bukan hanya Alvaro dan Sam saja yang khawatir,pelayan yang ada disana termasuk Bu Emma pun khawatir.
"Stop,Samsul kamu jangan mendekat,badan kamu bau" Ujarnya sambi menutup hidung dan kembali muntah muntah.
Alvaro terdiam lalu dia berdiri dan mendekat pada Sam "Kamu belum mandi Sam ?" Dia mengendus badan Sam,dan hal itu menyulut tawa para pelayan.
"Saya sudah mandi Pak,cium saja sudah wangi juga begini" Desis Sam,merasa tersinggung.
Alvaro terkekeh "Minum ini dulu Nona" Bu Ema datang lagi dengan membawa secangkir teh hangat,dan Arisha meminumnya.
"Samsul kamu jauh jauh sana,kamu sungguh bau" Dia mengibaskan tangannya supaya Sam menjauh,dan itu membuat Sam menghela nafas dan menatap aneh pada Arisha.
"Kamu sakit ?apa yang tak enak ?".Tanya Alvaro saat Arisha sudah membaik,dia kaget karena Arisha tibatiba memeluk Alvaro di depan Sam,dan para pelayan.
Membuat semuanya kikuk "Aku mual mencium aroma Sam,tapi sekarang udah gak,saat menghirup aroma kamu,aku jadi tenang"
Alvaro mengernyit "Sayang,jangan disini..masuk dulu ke mobil yuk"
Para pelayan yang merasa kikuk pun berhamburan pergi melihat adegan keduanya,begitu juga dengan Sam.
"Tapi bau,bilangan ke asisten kamu ganti baju sana ,jangan pakai parfum yang dia pakai"
Bibirnya mengerucut lucu,tapi membuat Alvaro bingung dan merasa aneh.
"Tapi Sayang,dia kan gak bawa baju ganti"
Alvaro menggaruk tengkuknya dia bingung akan kelakuan Arisha,akhirnya dia memutuskan untuk memakai supir saja,dan Arisha menyuruh sang supir memakai parfum dirinya,Alvaro menghela nafas.Istrinya ini sungguh aneh.
"Maaf ya Pak,jangan tersinggung" Ujar Alvaro merasa tak enak.
"Eh,gak apa apa Tuan,kayanya Nona Arisha Hamil Tuan" Sahut sang supir,saat ini Arisha masih bergelayut manja dipelukan Alvaro terus mengendus wangi parfum suaminya itu.
"Hamil ?kenapa bisa sikapnya yang begini dikatai hamil Pak ?" Tanya Alvaro yang masih tak mengerti.
"Kemungkinan terbesar seperti itu Pak,dulu istri saya juga begitu sama dengan Nona,kalau mencium wangi parfum selain parfum saya dia tidak suka,bahkan mual sama muntah muntah,coba saja di cek dulu Pak"
Alvaro terdiam mencerna apa yang Sang supir ucapkan,,karena memang selama ini dirinya tak pernah tau akan hal itu.
"Sayang,bulan ini kamu belum datang bulan ?" Dia ingat jadwal datang bulan istrinya dan dia teringat ,bulan ini dia menggauli Arisha begitu sering.
"Kamu kok tanya tanya aku yang begituan sih,malu tau"
"Serius Sayang,coba ingat ingat lagi" Arisha pun terdiam dan nampak berpikir.
"Iya harus dua minggu yang lalu aku datang bulan Mas," Jawabnya dan membuat Alvaro menggulum senyum.
"Apa mungkin seperti itu Pak ?" Tanyanya lagi pada sang supir
"Bisa jadi Pak,cek aja Pak biar lebih pastinya"
__ADS_1
Alvaro mengangguk,kalau benar seperti itu jelas dia akan sangat sangat bahagia.Setelah dirinya menyelesaikan rapat nanti,dia akan membawa Arisha kerumah sakit untuk segera mengeceknya.
Dan setelah sampai dikantor Alvaro,ternyata Arisha begitu kesusahan karena banyak mencium parfum yang aromanya membuat dirinya mual,maka selama disana dia muntah muntah terus,dan tubuhnya lemas sekali,Alvaro yang sedang rapatpun jadi tak tenang.
"Selamat Ibunya sedang mengandung,usia kandungannya sudah 8 minggu" Ujar Dokter Rara,selaku dokter kandungan.
Alvaro dan Arisha saling pandang,saat Alvaro selesai rapat dia segera membawa Arisha datang kesini ke dokter kandungan.
"Jadi istri saya hamil dok ?"
"Iya Pak,istri anda sedang hamil,tolong jaga ya,ini resep obatnya,anti mual juga beberapa vitamin,jangan stres dan jangan suruh melakukan aktivitas berat pada Ibunya ya"
Keduanya saling mengulas senyum ,lalu berpelukan tak peduli pada sang dokter yang menatapnya geli.
"Mas,aku hamil" pekiknya sambil mengelus perut datarnya,rasa haru tak bisa dia sembunyikan,dia menangis begitu juga dengan Alvaro.
"Hum,ada Alvaro junior disini" Dia ikut mengelus perut isyrinya,dia juga meneteskan air mata harunya.
"Tapi Dok,hari ini dia mual mual terus tiap mencium aroma parfum yang aneh,itu tidak akan apa apa ?"
"Itu termasuk hormon Pak,semua kehamilan berbeda beda dalam hal mengidam ataupun mual,sebisa mungkin hindarkan saja itu dan ganti dengan aroma yang dia sukai"
Dan banyak lagi penjelasan dari dokter Rara bagi keduanya terutama pada Arisha,setelah puas mereka.segera bergegas keruangan Pak Bastian yang masih setia dalam tidurnya.
"Assalamualaikum Ayah,aku datang" Dia menyalimi tangan lemah sang Ayah,lalu membelainya.
Begitupun dengan Alvaro yang sama melalukannya.
"Ayah,ayah mau dengar gak kabar bahagia dari Risha,Ayah pasti senang deh dengar kabar ini"
Dia genggam tangan lemah itu "Ayah mau tau,ayah akan jadi Oppa,sebentar lagi akan ada yang memanggil Ayah Oppa,dia ada disini Ayah,dia hadir disini"
Arisha berdiri dan menaruh tangan lemah itu diatas perutnya,air matanya kembali turun tak kuasa menahan tangis.
"Jadi Ayah harus bangun,temani Risha untuk menjaganya,nanti kalau dia lahir Ayah gendong dia,ajak dia bermain,Ayah cepat bangun ya"
Alvaro semakin mengeratkan rangkulan dibahunya Arisha,dia juga berharap Pak Bastian segera bangun dan membantu menjaga Arisha dari orang orang jahat.
Tiba tiba jari jari yang Arisha genggam itu bergerak,tanpa merasa sadari air mata turun dipelupuk mata Pak Bastian.
"Mas,tangan Ayah bergerak" pekik Arisha dan sedetik.kemudian Alvaro segera memanggil dokter untuk memeriksakan keadaan Pak Bastian.
Entah antara senang dan haru setelah berbulan bulan lama tidak ada pergerakan sama sekali dari Pak Bastian,namun hari ini dia merasakannya.
Keduanya berdoa semoga ada keajaiban datang kali ini dan setelah menunggu beberapa menit,dokter keluar.
"Pak Bastian ingin bertemu Arisha" Ujar sang dokter,membuat keduanya tersenyum bahagia.
***
...Bersambung...
__ADS_1