
"Ayo ikut Saya.." Ajak Pak Rudi pada Alvaro,mau tak mau Alvaro mengikuti mertuanya itu,eh mertua ya ?haha dia merasa geli sendiri kalau dia sudah menikah dan sekarang punya mertua.
Kadang apa yang kita rencakan atau yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan ,buktinya Alvaro bersikukuh tidak ingin menikah dan memilih hidup sendiri,dan Arisha dia berkeinginan menikah dengan orang yang dia cintai dan mencintai dia,tapi takdir berkata lain pada mereka berdua.
Alvaro diharuskan menikahi Arisha,wanita yang dia anggap aneh dan konyol namun sudah membuat dirinya sering uring uringan gak jelas,dan Arisha pun terpaksa mengikuti jalan takdir yang ada menikah dengan pria yang dia anggap Arrogant,dari awal bertemu selalu membuat Arisha kesal.
"Baik Pak.." Alvaro tak bertanya akan dibawa kemana ,dia hanya mengekori kemana Pak Rudi berjalan.
Warga disana saling berkumpul,terutama para ibu ibu ,teteh teteh,dan remaja perempuan disana,semua menatap takjub pada Alvaro,terpana melihat ketampanan Alvaro.
"Pak Rudi,eta saha ?meni kinclong kitu,sok atuh kenalkeun ka abdi" Ujar salah satu ibu ibu disana
(Pak Rudi iti siapa ?cakep sekali,kenalin dong sama aku)
"Ieu teh calon mantu,kabogohna si Neng Risha" Jawab Pa Rudi.
(Ini calon menantu,kekasihnya Neng Risha)
"Eleh..eleh gening,si Neng Risha teh hebat,tiasa kengengkeun bule,kasep deuih"
(Neng Risha tuh hebat,bisa mendapatkan bule,ganteng lagi)
Dan banyak lagi pujian yang mereka lontarkan pada Alvaro,Alvaro yang tak mengerti hanya bisa tersenyum saja .
"Maklum Nak Varo,baru pertama kali kedatangan bule ke kampung ini" Pak Rudi menepuk bahu Alvaro,supaya bisa memakluminya.
"Tak apa Pak,walau saya tak mengerti" Alvaro menyengir kaku.
Sampailah mereka di kolam ikan,yang sering mereka bilang tempat pemancingan,hampir tiap hari Pak Rudi menghabiskan waktunya di sana,setelah pensiun.
Alvaro mengernyit melihat tempat itu,ini pertama kalinya dia datang ketempat seperti itu. Terlihat raut wajahnya yang risih,tapi di depan sang mertua dia mencoba bersikap biasa saja.
Disana pun Alvaro mendapat pujian dan pertanyaan dari bapak bapak yang Alvaro yakini teman Pak Rudi,lagi lagi Alvaro tak mengerti apa yang mereka bicarakan,karena menggunakan bahasa Sunda ,bahasa khas jawa barat.
"Kamu pernah memancing ?ah,atau tau tentang memancing ?"
Mereka sudah duduk diantara dua kursi kecil,Pak Rudi sudah menyiapkan alat memancing dan teman temannya.
"Tidak Pak,ini pertama kali saya tau" Jawab Alvaro dengan datar.
"Saya lupa,kalau kamu beda dengan kita" Sahut Pak Rudi dan membuat Alvaro menjadi tak enak.
"Saya ajarkan ya" Pak Rudi perlahan mengajarkan Alvaro.
Para ibu ibu,teteh teteh dan remaja remaja tadi pada mengikuti Pak Rudi dan Alvaro,sehingga mereka menjadi tontonan.
"Wih,ada bule masuk kampung euy "
__ADS_1
"Mau atuh sama Bule nya"
Kembali mereka bersorak sorak,meracau tak jelas.
*
*
*
"Arisha itu notabenenya anak yang cerdas,pintar ,dari SD sampai SMA selalu mendapatkan ranking,bukan ranking kelas lagi tapi ranking umum satu sekolah,"
Alvaro terdiam ,
"Dia anak yang manis,lucu,dan cantik..meski saat SMP dia salah bergaul menjadikan dia menjadi tomboy karena terlalu seringnya main bersama anak laki laki,sering panjat panjat pohon,panjat pagar,dan selalu berbuat ulah lainnya" Pak Rudi terkekeh mengingat hal itu.Begitu pula dengan Alvaro.
"Tapi dia tetaplah anak perempuan,saat SMA dia kembali berubah lagi.Saya sangat menyayanginya, dia bayi lucu nan imut itu kini sudah dewasa,dia sudah bisa mengatur hidupnya sendiri,dulu dia yang selalu saya gendong,saya timang,kini sudah menikah" Raut wajah Pak Rudi berubah menjadi sendu.
"Nak Varo,sekali lagi Saya sebagai Bapaknya Arisha,menitipkan dia padamu,jaga dia dan sayangi dia semana Saya menyayanginya" Pak Rudi menepuk bahu Alvaro,menaruh harapan banyak padanya.
Alvaro terenyuh mendengar itu,sepertinya pendirian yang tidak ingin menikah harus dia hapuskan,karena nyatanya dia kini sudah menikah sudah mengucap janji dihadapan Tuhan,dan itu bukan main main.
Satu hal yang harus dan memang harus dia lakukan,membuka diri dan hati untuk Arisha,dan menjaga juga membahagiakan nya,karena kini Arisha adalah istrinya.
"Insya Allah Pak," Jawaban yang simple,namun penuh makna.
***
Waktu sudah menjelang sore,Pak Rudi dan Alvaro menyelesaikan acara memancingnya,ada beberapa ikan yang Pak Rudi dapat.
Sebenarnya Niat Pak Rudi membawa Alvaro ketempat memancing,adalah untuk bercakap cakap dengan Alvaro.
Dirumah keduanya disambut Ibu Anggi dan Salvia,sedangkan Arisha sedang mojok dikamarnya,dia masih belum bisa menerima kenyataan.
"Ya ampun Pak ,baru jadi mantu beberapa jam saja,bapak sudah bawa main aja,nanti gak nyaman loh dia" Cecar Bu Anggi.
"Gak apa apa kok Bu.." Sahut Alvaro tenang.
"Ya udah mandi dulu gih,untuk malam ini kalian menginap dulu disini,ibu belum ijinkan kalian cepat pulang,biar besok aja"
Ibu Anggi berkata dengan mengebu gebu alasanya karena dia masih rindu Arisha.
Alvaro pun tak bisa berkutik,dia hanya mengiyakan saja.
"Kamar mandinya disonoh,malam ini pakai baju bapak aja" Ujar Bu anggi selanjutnya ,sambil melangkah ke dalam kamar ,niat ingin membawa baju untuk Alvaro,namun disela oleh Alvaro.
"Gak perlu Bu,saya bawa baju dibagasi"
__ADS_1
Sahutnya datar ,dan dia bergegas mengambil satu stel pakaian yang sering dan selalu dia bawa,ternyata berguna disaat saat seperti ini.
Bu Anggi hanya mengangguk,dia kembali ke dapur bersama Salvia meneruskan acara masaknya untuk makan malam bersama.
Sedangkan Alvaro setelah mengambil bajunya,dia pun mandi,lagi lagi dia harus menyesuaikan keadaan,kamar mandi yang biasa tidak ada bathup ataupun shower disana,hanya ada bak mandi dan beberapa ember.
Dia menghela nafas,nasib jadi anak Sultan,berada ditempat seperti ini saja membuatnya risih,tapi mau bagaimana lagi masa dia tidak mandi ?.
***
Alvaro sudah duduk di meja makan,semua keluarga hadir begitu juga dengan suaminya Salvia yang turut hadir.
Alvaro menatap geli pada makanan di depannya,makanan yang aneh yang baru dia lihat semasa hidupnya itu,dia menelan salivanya kasar ,tiba tiba rasa lapar tak lagi dia rasa,belum lagi mencium bau aneh.
"Ayo makan Nak Varo,hanya ini makanan yang bisa ibu sajikan" Tutur Bu Anggi.
Alvaro tersenyum "Mana mau dia makan makanan yang begini bukan seleranya Bu" Celetuk Risha.
Alvaro menatap Arisha dengan raut wajah tak terbacanya "Tidak Bu,saya mau makan ini" Ujar Alvaro sambil meraih piring,namun saat mau mengambil nasi ditahan Bu Anggi.
"Sha,kamu layani dong suami kamu," Bu Anggi menyuruh Arisha yang menyiapkan nasi untuk Alvaro.
"Dia punya tangan Bu,dia bisa sendiri" Rutuknya kesal.
"Risha.." Suara dan tatapan Pak Rudi mengintimidasi Arisha.
Dengan malas dia meraih piring Alvaro dan mengisinya dengan nasi,senyuman simpul terbit dibibir Alvaro "Mau sama apa ?" Tanyanya,karena tau selera makan Alvaro seperti apa.
"Itu aja" Tunjuknya pada Ayam goreng bumbu serundeng,mending ada ayam goreng setidaknya dia tau itu ayam.
Arisha mengambilkannya "Ini aja ?" Tanya Arisha lagi dengan malas.
Alvaro mengangguk "Jangan itu aja ,nih tambah sayurannya" Bu anggi menambahi capcay ke dalam piring Alvaro,Alvaro pun tak melawan dia merasa tak enak kalau menolak.
Mereka makan dalam diam dan tenang,Alvaro awalnya ragu melihat makanan di depannya,namun saat melahapnya dia merasai rasa enak.Dia pun makan dengan semangat,ternyata penampilan belum berarti tidak akan tidak enak.
Makam malam sudah selesai,walaupun pertama kalinya makan makanan yang sederhana,tapi rasanya dia akui sangat enak.
Pak Rudi kembali membawa Alvaro berbincang bincang diteras rumah,bersama bapak bapak yamg lain,kebiasaan mereka tiap malam.
Kalau tidak main gaple ,mereka akan main catur,satu hal lagi yang Alvaro temukan dalam hidupnya,hal aneh yang baru dia temui.
Alvaro menekuk lehernya ,rasa tak nyaman dan bingung menyelimutinya,Pak Rudi bersikukuh mengajarkan Alvaro bermain catur.
Ya ampun,,kini dia harus mulai membiasakan dirinya,,mengenal dunia Arisha dan keluarga.
***
__ADS_1
...Bersambung...