
"Pak Bastian ingin bertemu Arisha" Ujar sang dokter,membuat keduanya tersenyum bahagia.
"Mas.."
.
"Dok,keadaannya bagaimana sekarang ?" Tanya Alvaro
"Keadaan sudah stabil semuanya,beliau ingin bertemu dengan anaknya,Dia terus memanggil nama Arisha"
Penjelasan dokter kembali membuat Arisha dan Alvaro bahagia bukan main,mereka pun bergegas segera masuk untuk menemui sang Ayah.Tidak ada alat medis yang mengelilingi Pak Bastian,hanya ada selang oksigen untuk mengatur nafas beliau.
Benar apa kata dokter keadaan Pak Bastian sudah membaik,walau belum boleh banyak bergerak dan berbicara.
"Ayah.." Pekik Arisha,saat melihat mata Pak Bastian terbuka dan menatap mereka berdua.
"Ri..sha" Ucapnya terbata.
"Stttt,iya ini Risha Ayah,,ayah jangan banyak bicara dulu ya" Arisha terus menggenggam tangan sang Ayah,berharap tak akan pernah lepas lagi.
Dan semenjak itu keadaan Pak Bastian semakin baik dan stabil.Tiap hari Arisha datang untuk menemani Ayahnya.
*
*
*
"Mas,dia ada disini" dia mengelus lembut perutnya yang sudah terlihat membuncit,kandungannya sudah hampir empat bulan.
"Makasih Sayang,kamu gak mual mual lagi kan ?" Alvaro pun sama mengelus perut itu yang kini hadir buah cinta mereka.
Walau kata cinta tak pernah terucap,tapi mereka tak pernah saling menuntut,keinginan mereka dari awal adalah bisa saling menerima satu sama lain.
Menikah dalam keadaan terpaksa tak membuat mereka untuk tak saling menerima,kini semuanya sudah berjalan tanpa mereka sadari,saling perhatian,saling menghangatkan dan saling mencintai.
Meski banyak gangguan dan banyak ancaman yang mengintai keduanya terutama Arisha,tapi Alvaro selalu berusaha sebisa mungkin untuk menjaga Arisha.
"Gak Mas,tapi aku rindu Mom..Mom dimana Mas ?dia baik baik saja kan ?"
Alvaro terdiam,terakhir dia mengabari Mom dua bulan lalu,Mom Ambar bilang dia baik baik saja,dia juga merasa bahagia saat tau Arisha hamil.
__ADS_1
Tapi beliau selalu berkata jaga Arisah sebaik mungkin,bahaya akan selalu mengintai Arisha,dia juga bilang tak bisa pulang entah dalam waktu berapa lama,tapi seperti kode,Mom terus bilang.
"Jagain Arisha jangan sampai lengah"
Tapi semua terputus begitu saja,dan setelahnya tak ada kabar lagi,Alvaro masih berusaha mencari pelaku pelaku yang beberapa bulan yang lalu pernah menjadi ancaman bagi Arisha.
Namun sepertinya tidak ada jejak sama sekali,seakan semua begitu rapi,para pelaku bayaran seseorang itu menghilang tanpa jejak,bahkan sempat ada kabar ada yang meninggal sebelum Alvaro menangkapnya.
"Mom baik baik saja Kok,mau kerumah Ayah ?"
Alvaro mencoba mengalihkan pembicaraan mereka supaya tak menjadi beban untuk Arisha.Kandungannya memang sudah hampir empat bulan,namun selama itu pula Arisha tak merasakan mual yang teramat parah,hanya kadang kadang saja.
Maka dia sangat menikmati masa masa itu,Pak Bastian juga semakin membaik,beliau sudah bisa pulang kerumah,Arisha sempat menawari diri untuk beliau tinggal dirumahnya,tapi beliau menolak.
"Mau,ayo kerumah Ayah"
Dia memekik bahagia kalau Alvaro menyarankan kerumah Ayah,hampir tiap hari Arisha datang kesana mengontrol keadaan sang Ayah.
Alvaro tersenyum dia memeluk Arisha yang tubuhnya semakin terlihat berisi .Bahkan tak berhenti dia ciumi wajah Arisha penuh Sayang.Hari itu hari weekend,tidak ada kegiatan apapun pada Alvaro,seharian itu dia akan menemani istri tercintanya.
"Arghhhh..." Kalau saja tak ada Alvaro,Arisha pasti sudah akan terjatuh dan entah apa yang akan terjadi setelahnya.
"Mas,aku kaget" Dia memegang dada dan perutnya.
"Kamu gak apa apa ?dia gak kenapa kenapa ?" Tangannya mengelus perut Arisha.
Arisha menggeleng,namun dia merasa takut.
"Duduk dulu disini sebentar" Titahnya menyuruh Arisha duduk disofa ruang teve.
"Bu Emma,semua pelayan kumpul disini !!!" Dia berteriak guna untuk mengumpulkan semua pelayan,lantai yang licin membuatnya marah besar,dia tidak akan memaafkan kalau terjadi apa apa dengan Arisha.
Bu Ema yang mendengar teriakan itu pun memanggil semua pelayan dirumah itu,terlihat sudah Alvaro dengan melipat tangannya di dada dengan raut wajah penuh amarahnya.
Alvaro menatap tajam semua pelayan yang sudah berkumpul disana,dia muak benar benar muak akan hal itu,sampai saat ini dia masih belum bisa menangkap pelakunya siapa.
Dia memang curiga Airish,tapi dia belum mempunyai bukti yang benar benat kuat untuk menangkapnya,dia tidak bisa gegabah kalau belum ada bukti akurat kan ?kalau salah orang bisa jadi itu fitnahan.
"Sam,cek Cctv dibagian bawah tangga dari shubuh" Titahnya pada Sam dan Sam mengangguk.
Alvaro belum berkata apa apa dia masih nampak diam dan masih menelisik para pelayan disana,dia tak bisa mempercayai semua termasuk pun Bu Ema,kali ini dia harus menangkapnya,supaya Arisha tak menjadi ancaman.
__ADS_1
Sam sudah kembali dengan membawa laporan Cctv filaptopnya yang sebelumnya sudah dia pindahkan.Namun sebelum Alvaro memutarnya ada teriakan dari luar.
Sam bergegas keluar terlihat satpam rumah Alvaro mengangkat tubuh lemah seorang pelayan yang sekujur tubunya nampak berdarah dan luka luka.
Menurut pak satpam katanya dia lari dari rumah itu,dan pak satpam mengejarnya,namun naas ada mobil menabraknya.
Alvaro menelisik wajah pelayan itu dan dia tau itu pelaku yang membuat lantai menjadi licin,Alvaro teraenyum getir kali ini dia gagal lagi,tak bisa mencari informasi soal pelaku yang menyuruhnya.
"Pastikan dia selamat,dia kunci kita dan pastikan penjagaan dirumah semakin ketat,jangan sampai lengah,aku yakin masih ada pelaku bayaran lainnya disini"Seraya melirik kesemua para pelayan.
Alvaro tak habis pikir,ambisi orang ini terlalu besar,dan sepertinya dia sangat membenci Arisha.
***
"Si al.." Pria tua itu membanting laptop di depannya,rencananya selalu gagal.
Ya pria tua itu tak lain adalah Dad Ronald,segala cara dia lakukan untuk bisa membuat Arisha pergi dari rumah itu dan meninggalkan Alvaro.
Untuk kesekian kalinya dia mengirimi Arisha pesan seuah ancaman.
"Kamu mau selamat ?apalagi kamu sedang mengandung,kalau mau pergilah dari kehidupan Alvaro !!"
Arisha meremas gaun dengan tangannya,itu pesan bukan untuk pertama kalinya,dia selalu bergetar saat menerima pesan itu,dia merasai amat takut.
"Sayang kamu kenapa ?"
Alvaro merangkul bahu Arisha dan merasai tubuh Arisha yang bergetar hebat.
"Mas,dia kembali mengirim pesan"
Alvaro tau akan hal itu,dia juga berusaha melacak nomor nomor itu,namun hasilnya nihil nomor itu tak terdaftar.
"Sabar ya Sayang,semua pasti akan berangsur membaik" Dia peluk istrinya dan memberi ketenangan padanya.
"Aku takut Mas,aku takut terjadi apa apa pada dia" tunjuknya pada perut yang berisi janin.
"Tidak,tidak akan terjadi apa apa,kamu tenang ya Sayang" Alvaro terus berusaha menenangkan Arisha.
***
...Bersambung...
__ADS_1