
"Inara"
Vano segera berlari menghampiri seseorang yang mirip Inara itu.Alvin yang sedang tak fokus karena sedang melihat handphonenya seketika dia kaget karena Vano yang tiba tiba berlari.
"Astagfirullah,eh Van,mau kemana lu ?"
teriaknya memanggil manggil Vano.
Sudah jadi hal biasa kalau mereka sedang berdua, tidak ada percakapan yang formal.
Vano tak menjawab dia terus berlari untuk mengerjar wanita itu.
"Nara..." hingga akhirnya dia bisa meraih tangan wanita itu .
Wanita yang Vano panggil Nara itu membalikkan badannya,dan benar itu adalah Inara yang Vano cari selama ini.
Vano mematung saat melihat penampilannya Inara,yang jelas jauh berbeda dengan Inara yang dulu.
Rambut lurusnya tergerai begitu saja, pakaian yang Inara pakai sebuah dres berwarna peach diatas lutus dengan sepatu hak tinggi terpasang di kakinya,ditambah tas kecil terlampir di bahunya.
Bisa Vano pastikan kalau semua otfit yang Inara pakai adalah barang branded yang terkenal di berbagai negara, Vano tau itu.
Inara yang melihat Vano, membulatkan matanya, walau sudah tak bertemu beberapa tahun, namun dia masih bisa mengenali Vano.
"Nara..." panggil Vano pelan, tangannya masih tertutup pada Inara.
Namun tetiba Inara melepaskan itu begitu saja, membuat Vano menatap kecewa.
"Aku bukan Nara yang kamu sebut, kamu salah orang" Inara menjawabnya dengan ketus.
Vano tidak percaya begitu saja, dia jelas tau kalau wanita di depannya ini adalah Inara, cinta pertamanya dulu.
"Apa kabar, Nara ?" Vano masih sangat yakin ini adalah Inaranya.
"Maaf anda benar benar salah orang" Jawab Inara dengan makin ketus dan dia berbalik untuk meninggalkan Vano.
"Lavender" Vano mengatakan sesuatu hal yang menjadi kenangan di masa lampau.
Dan itu sukses membuat Inara berhenti sejenak, sebelum akhirnya dia kembali melangkah.
Vano tak diam saja, dia kembali mengejar Inara dan kembali meraih tangannya Inara.
"Aku tau kamu Inara, kamu tak bisa bohong dari aku Nara, sampai kapan kamu akan pergi jauh dari aku"
__ADS_1
Ada satu hal yang Vano sangat tau, kalau Inara berbohong, dia tau salah satu tubuh Inara yang mengatakannya.
"Maksud anda apa sih ? saya bukan Inara yang Anda maksud, nama saya Fira, Safira" Wanita itu menyebutkan nama yang sebenarnya, kalau dia bukan Inara yang Vano maksud.
Vano tetaplah Vano, kekeras kepalanya dan keyakinan hatinya tetap mengatakan kalau wanita di depannya ini adalah Inara.
"Apa kamu tak merindukan aku Lavender ?"
"Jangan bicara omong kosong Tuan" tegas Inara.
Tetiba Vano memeluk Inara dan jelas membuat Inara terbelalak kaget.
"Aku rindu kamu, Ra" pekik Vano pelan di pelukannya yang Vano sebut Inara.
Plak,, satu tamparan mendarat di pipi Vano.
"Anda jangan lancang ya, saya tegaskan lagi, nama saya bukan Inara, nama saya SAFIRA dan tolong jangan ganggu saya" dengan menghentakkan kakinya Wanita itu kembali berbalik dan meninggalkan Vano.
"Tunggu Nara" Vano kembali mencegah wanita itu pergi, namun Alvin segera menahan Vano
"Sudah Van, sepertinya benar dia bukan Inara, mungkin hanya wajahnya yang mirip, dia berbeda dengan Inara"
"Dari segi penampilannya aja sudah sangat berbeda, dan kamu dengar bagaimana cara dia berbicara, jauh berbeda dengan Inara kamu, Van"
"Aku yang lebih dari segalanya tentang dia Vin,meski penampilan sudah berbeda dan cara dia berbicara juga berbeda, tapi wangi dia tetap sama, sampai sekarang dia masih tetap memakai parfum yang sama, tak pernah berubah"
"Tak apa Nara, untuk sekarang kamu menghindariku, tapi aku pastikan untuk kembali mengejar kamu"
Keteladanan Vano untuk bisa mendapatkan Inara sangat besar, walaupun tadinya hanya untuk bertemu saja cukup, namun nyatanya dia masih belum puas, dia ingin tau betul bagaimana kehidupan Inara sekarang, apakah dia bahagia , atau tidak.
......................
Dan Vano juga Alvin mengikuti kemana Inara pergi, setelah mereka berhasil menemukan Inara menaiki mobil apa.
"Dasar bucin tau gak kamu Van,padahal wanita tuh banyak, masih aja ngejar ngejar masa lalu" gerutu Alvin selama di dalam mobil.
"Bodo, gue yang ngejalaninya, kaya gak gitu aja lu Vin" sentak Vano, seraya terus memperhatikan mobil di depannya.
"Stop,Vin" titahnya pada Alvin, setelah melihat mobil Inara masuk ke salah satu apartemen.
Vano pun tak kalah cepat untuk segera mengikuti Inara,namun dia sempat kehilangan jejak Inara, saat dia bertemu salah satu musuh bisnisnya.
"Wow,,wow,, ada Tuan Revano Sanjaya disini,senang bertemu dengan anda Bapak Revano terhormat" dengan gaya yang songong dia berkata.
__ADS_1
Vano mencebik dan tak memperdulikan ocehan lelaki di depannya itu, dia kembali berusaha untuk mengejar Inara, namun usahanya gagal, saat lelaki itu menarik tangannya.
"Jangan terburu buru, apa yang sedang anda kejar" ujarnya
"Lepas, bukan urusan anda Bapak Evan Adytama" tegas Vano.
"Ngopi ngopi dulu lah kita, mumpung kita bertemu disini kan ?" Dengan senyum tengil dan masih gaya yang songong, Evan mengajak Vano untuk berbicara dahulu
"Saya tidak ada waktu untuk mengobrol dengan anda Bapak Evan"
Vano pun lolos dari halangan Evan, dia lantas kembali mencari keberadaan Inara, namun nihil dia tidak bisa menemukan itu.
Bahkan setelah bertanya pada resepsionis sekali pun.
"**** !!!!" umpatnya entah sudah keberapa kali.
Dia remas rambutnya dan dia berteriak merasa frustasi, tak peduli semua orang melihat dirinya.
"Sudah cukup Van, kamu bisa gila kalau seperti ini terus, hentikan itu"
Alvin kembali memberi saran pada Vano, untuk tidak melanjutkan pencariannya akan cinta pertamanya itu.
Namun karena begitu sangat yakin, dia pun tak akan menyerah, dia akan kembali berjuang, besok dia akan kembali ke sini, dia yakin akan menemukan apa yang dia cari dan dia tunggu.
......................
Seperti keyakinannya semalam, Vano pun kembali datang ke apartemen yang Inara kunjungi hari kemarin.
Dia datang dari sejak matahari belum muncul, dia menunggu di depan gedung itu, dan dia mendadak seperti menjadi detektif.
Alvin tidak ikut, karena tentu dia masih bergelung dengan selimutnya.
"Kali ini aku harus menemukan kamu lagi Nara" gumamnya.
Setelah menunggu beberapa jam dan setelah matahari muncul ke permukaan, akhirnya itu membuahkan hasil, Inara keluar dari gedung itu.
Vano sempat tersenyum, dan dia hendak akan turun dari mobilnya, namun tiba tiba berhenti, kala melihat adegan yang tidak bisa Vano bayangkan sama sekali dan membuat tubuhnya mematung seketika.
Inara , wanita yang sedang dia tunggu sedang di peluk seorang lelaki, bahkan lelaki itu menciumi wajah Inara.
Rapuh dan putus ada seketika tiba di hatinya Vano, rasanya itu sangat sesak sekali.
Tapi ada yang membuatnya lebih kaget lagi, saat melihat siapa lelaki yang memeluk Inara itu.
__ADS_1
S*al.... pekiknya kecil.