
Melihat ke sekitar, Kayna tampak bingung dengan berjalan pelan di samping Natta. Bukannya mengajaknya ke suatu tempat untuk bertemu dengan Ayahnya, Natta malah mengajak Kayna ke hotel.
"Ayo." Natta sengaja menarik tangan Kayna agar mereka masuk lebih dalam lagi.
Tidak mengiyakan juga tidak menolak, Kayna menurut saja apa yang dilakukan oleh Natta. Namun agaknya Kayna mulai was-was dan curiga terhadap Natta yang malah membawanya ke sebuah hotel.
Ekor mata Kayna melirik ke arah Natta yang sedang berbicara dengan seseorang. Sampai akhirnya Natta kembali menghampirnya bersama dengan orang tersebut.
Tanpa berkata sepatah katapun, Natta kembali mengambil tangannya untuk digenggam. Kayna tidak menolak, toh saat ini bukan waktu yang tepat. Justru Kayna ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Natta.
Sampailah mereka di suatu ruangan yang terdapat di hotel tersebut. Kayna tidaklah begitu paham, karena seumur hidupnya, baru kali ini memang Kayna menginjakkan kakinya di hotel megah nan mewah seperti sekarang ini.
"Saya permisi," pamit seseorang yang sedari tadi mengantar mereka ke ruangan tersebut.
Setelah Natta mengangguk. Pegawai tersebut langsung pamit untuk pergi. Kini hanya ada Kayna dan Natta saja di dalam sana.
Tidak melakukan apa-apa, Kayna sengaja menunggu Natta untuk bertindak. Namun detik berikutnya Kayna dibuat terkejut setengah mati saat tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka bersama seorang wanita.
Pak Givan datang bersama dengan mama Mita. Hal yang pernah Kayna pikirkan sebelumnya namun tidak ia percaya ketika melihat secara langsung seperti sekarang ini.
"Om sudah dari tadi?" tanya Natta enteng.
Pak Givan mengangguk. Namun dari pancaran wajah beliau mulai terlihat tidak nyaman, begitu juga dengan mama Mita yang diam bagai patung tak bergerak. Melihat adanya Natta yang datang bersama dengan Kayna seketika membuat beliau tidak bisa berkutik lagi. Mama Mita seperti tertangkap karena kesalahan yang sangat fatal.
"Kay, kamu-" ujar mama Mita terhenti.
__ADS_1
Kayna sudah lebih dulu mencegahnya dengan mengangkat satu tangan sebagai tanda cukup beliau akan berucap. Perlahan langkah Kayna mundur menjauh dari mereka.
"Natta, bawa aku pergi," ujar Kayna membuat Natta reflek mencekal tangan Kayna agar tidak pergi.
Ini kesempatan untuk Kayna mengetahui siapa ayahnya. Ini juga kesempatan mama Mita untuk menjelaskan semua kepada Kayna. Setidaknya Kayna tahu siapa ayahnya, bukan hanya masa lalu ketika ayahnya meninggalkannya.
Kepala Kayna menggeleng menatap Natta yang masih mencekal pergelangan tangannya. Rasanya Kayna tidak akan mampu lagi untuk mengetahui lebih jauh lagi. Jika orang yang berada di depannya ialah ayah kandungnya, kenapa mama Mita tidak terus terang sedari waktu itu?
"Jangan pergi sebelum kamu tahu kebenarannya Kay," tekan Natta menatap lekat manik mata Kayna.
"Om, tante, jelaskan apa yang ingin kalian jelaskan," lanjut Natta menatap pak Givan dan mama Mita secara bergantian.
"Kayna Givana," panggil pak Givan dengan satu langkah mendekat ke arah Kayna.
Sudut bibir Kayna tertarik ke atas membentuk senyum. Senyuman yang penuh akan makna. Ia menatap Natta dan melepaskan cekalan tangan Natta. Lalu menatap pak Givan yang berdiri tidak jauh darinya.
"Anda?" kepala Kayna menggeleng dengan tawa kecil yang terdengar menyayat hati.
Langkahnya kembali maju menghampiri dimana mamanya kini berdiri. Ia menatap mama Mita dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
"Seharusnya mama kasih tahu dari awal," ujarnya dengan langkah mundur secara perlahan.
Setelahnya Kayna berlari meninggalkan mereka yang masih berada di sana.
"Kay!" panggil Natta mengejar Kayna.
__ADS_1
"Kejar dia mas! kejar! katakan semuanya," titah mama Mita dengan tangisnya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Kesalahan beliau memang selalu mengulur waktu untuk menjelaskan atau memberitahu kepada Kayna. Beliau takut kejadian seperti sekarang ini akan terjadi. Dan benar saja semua terbukti saat ini. Kayna pergi dengan membawa rasa kecewa yang teramat karena kesalahan beliau.
"Maaf sayang, semua begitu rumit jika dijelaskan," lirih mama Mita masih dengan tangisnya.
"Berhenti Kay, setahu aku kamu bukan gadis pengecut yang lari dari kenyataan!" teriak Natta berhasil menghentikan Kayna.
"Ck, kayak kamu yang enggak aja Nat, kamu lupa pernah kabur dari rumah karena masalah yang bahkan jauh lebih mudah dari pada masalah aku sekarang?" sungut Kayna diangguki oleh Natta.
Langkah Natta menghampiri Kayna. Ia mengarahkan kepala Kayna untuk menatap ke arahnya.
"Maka dari itu, kamu nggak boleh seperti aku, jangan sampai menyesal dikemudian hari Kayna," ujar Natta menatap dalam manik mata Kayna.
"Selesaikan sekarang, atau tidak sama sekali. Jika kamu pergi, kamu akan menyesal nantinya. Beri waktu om Givan dan tante Mita untuk jelasin semuanya, setelahnya kamu berhak memilih jalan hidup kamu Kay, kamu tahu mana yang terbaik untuk kamu," ujar Natta mencoba meyakinkan Kayna.
Karena jika Kayna memilih pergi sekarang dengan keadaan yang sudah kepalang tanggung seperti sekarang karena adanya mama Mita juga di sana. Yang ada Kayna akan menyesal sendiri nantinya.
"Ingat Kay, aku akan selalu ada untuk kamu," lanjut Natta mencoba meyakinkan Kayna.
Tidak mengatakan sepatah kata pun. Kayna mengambil tangan Natta untuk dia genggam. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Natta, mungkin juga memang Tuhan sudah menakdirkan Kayna mengetahui semuanya saat ini. Dengan penuh percaya diri. Kayna mulai melangkah kembali dengan menggenggam tangan Natta sebagai penguatnya.
Hal itu tidak luput dari pandangan Natta yang kini mengukir senyum dengan perubahan sikap Kayna saat ini.
Ini bukan akhir hidup kamu Kay, tapi awal dari bahagiamu Batin Natta menatap Kayna dari arah samping.
__ADS_1