Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Salah Paham


__ADS_3

Setelah mendapat ijin dari Dio, Kayna kini duduk di pojok kafe bersama dengan Airin. Entah kenapa perasaan Kayna jadi mulai tidak tenang sejak kedatangan Airin saat ini.


"Kamu pasti bingung kenapa aku bisa masuk kan?" tanya Airin dijawab senyum tipis oleh Kayna, tanpa mengangguk mengiyakan.


"Dio teman aku, tapi mama aku juga di antara ibu-ibu itu Kay," lanjut Airin menunjuk dengan dagunya ke arah ibu-ibu arisan yang masih berada di sana.


"Kay," panggil Airin membuat Kayna menatap ke arahnya.


"Dimana Natta?" tanya Airin seketika membuat Kayna terdiam.


Entah kenapa Airin mempertanyakan langsung tentang Natta kepada Kayna membuat hatinya sedikit berdenyut, namun Kayna tidak tahu penyebab hatinya merasakan getaran yang tidak enak untuk ia rasakan. Terlalu sulit untuk dapat Kayna mengerti.


Namun belum sempat Kayna menjawab. Seseorang sudah lebih dulu datang dan membuat Airin mau tidak mau mengakhiri obrolannya bersama dengan Kayna.


"Irin! sini sayang!" panggil seorang ibu yang Kayna yakini ialah mama dari Airin.


"Iya ma!" balas Airin.


"Kay, aku ke sana dulu ya?" pamit Airin diangguki Kayna dengan senyum tipisnya.


Setelah kepergian Airin. Barulah Kayna bisa bernapas dengan lega. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum kembali bekerja.


Di ruangan Dio. Tampak Natta yang sedari tadi terus mengomel sebagai bentuk protes dengan Dio. Ia sangat keberatan dengan adanya arisan ibu-ibu tersebut.

__ADS_1


Hampir saja Natta bisa tumbang di pertengahan pertempurannya dengan Ayahnya. Sudah sejauh ini Natta melangkah dan tidak ingin sampai gagal. Ia ingin membuktikan supaya ayah Rian tidak lagi memerintahnya seperti apa yang beliau inginkan.


Hidup dengan damai atau pun nyaman bukan tentang uang, setidaknya itulah yang saat ini Natta rasakan, jika nanti, bisa saja pikiran cowok remaja itu berubah.


"Itu terserah aku dong Nat, ingat aku sekarang atasanmu!" ujar Dio membuat Natta mengangguk.


"Kamu sengaja Di biar aku menyerah di tengah perjalanan," balas Natta membuat Dio terkekeh.


"Ayo lah Nat, justru dengan ini aku ingin tahu bagaimana kerasnya usaha kamu untuk tetap hidup seperti ini." Dio menepuk pundak Natta. "Jangan sampai kamu salah melangkah," ujarnya berniat untuk pergi.


Tinggal menu terakhir sebagai sajian malam ini. Natta akhirnya datang setelah dari tadi bersembunyi dibalik alasannya.


"Dari mana saja?" tanya Kayna setengah berbisik.


"Yang sakit perut kamu kan? kenapa harus pakai masker?" Kayna melirik ke arah Natta yang juga sedang meliriknya.


"Aku lagi jerawatan, banyak dan besar-besar," lagi-lagi Natta beralibi yang membuat Kayna geleng-geleng kepala.


Alasan Natta tidak masuk akal sama sekali. Namun meski demikian Kayna tidak ingin bertanya lebih lagi. Mungkin saja Natta menghindar dari ibu-ibu sosialita yang sedang arisan, menghindar dari pertanyaan atau semacamnya. Bisa saja ibu-ibu tersebut mengenal Natta, mengingat Natta ialah teman dari Dio.


"Nak, sini!" suara salah satu ibu itu membuat mereka menoleh.


"Sini!" ujar beliau sekali lagi.

__ADS_1


Melihat siapa yang memanggil membuat Natta tidak bergerak sama sekali. Ia masih berdiri di tempatnya.


"Nat-" teriakan Kayna terhenti saat melihat Natta yang akhirnya ikut datang menghampiri.


"Makasih ya semua untuk malam ini, tante dan teman-teman tante sangat menikmatinya," ujar bunda Delia seraya membuka dompet yang beliau bawa.


"Sama-sama tante," ujar Kayna dan yang lainnya bersamaan.


"Ini sedikit rejeki buat kalian, tolong diterima ya? Dio sudah tahu kok," ujar beliau seraya memberi lembaran uang berwarna merah kepada pegawai Dio yang malam ini sudah bekerja sangat luar biasa.


Termasuk Natta yang juga ikut menerima uang merah sebagai tips tersebut. Meski kerjaannya tidak terlalu terlihat, banyak sembunyinya.


"Tante." Airin tiba-tiba datang menghampiri bunda Delia bersama dengan mamanya.


"Eh Irin, sini sayang," balas bunda Delia ramah.


Sejenak Natta terpaku melihat kedatangan Airin yang tiba-tiba. Ia semakin menunduk agar tidak mudah dikenali. Penyamarannya malam ini menurutnya sudah cukup untuk bersembunyi dari bunda Delia atau pun orang-orang yang mengenalnya.


Ekor mata Airin melirik ke arah Kayna yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya kini duduk bersama dengan bunda Delia.


"Tante apa kabar?" tanya Airin dengan senyum semanis mungkin.


"Baik dong sayang, Arka mana?" tanya bunda Delia.

__ADS_1


Oh....ini mamanya Arka? Batin Kayna melirik tipis ke arah wanita yang terlihat cantik dan sangat elegan.


__ADS_2