
Ceklek
Setelah suara pintu ruangan mama Mita terbuka. Semua yang berada di sana terdiam menatap kedatangan beberapa orang di sana. Tidak terkecuali Kayna yang bingung dengan kedatangan Natta bersama dengan atasan mama Mita. Kayna pikir itu suatu kebetulan saja.
"Selamat pagi mbak Mita, maaf baru sempat ke sini," ujar bunda Delia menghampiri mama Mita.
Kayna sempat menoleh ke arah mamanya yang sudah terbangun. Namun tidak lama setelahnya Kayna kembali fokus dengan kedatangan Natta yang ikut serta berdiri tidak jauh dari atasan mamanya.
"Silahkan duduk pak," sapa Kayna ramah mempersilahkan pak Rian untuk duduk.
"Terimakasih," balas beliau menyunggingkan sedikit senyum.
Diam di tempatnya Natta secara perlahan menghampiri Kayna yang berdiri tidak jauh dari Dio. Sementara kedua orang tuanya sedang mengobrol ringan dengan mama Mita. Menanyakan keadaan beliau.
"Ck, kenapa kemarin langsung pergi Nat?" Dio berdecak sebal namun tetap memperlihatkan senyumnya.
"Kemarin aku tidak punya cukup keberanian," balas Natta tanpa beralih menatap ke arah Kayna.
Terus diperhatikan oleh Natta membuat Kayna sedikit salah tingkah sendiri. Tidak bisa dipungkiri hati Kayna menjerit senang dengan kedatangan Natta. Secara tidak langsung Kayna tahu jika Natta masih peduli akan dirinya.
__ADS_1
Memang tujuan Natta datang jelas karena Kayna. Meski ada niatan untuk mengetahui keadaan mama Mita.
Sementara dari luar ruangan. Olin ikut mondar-mandir tidak jelas. Bahkan gadis itu sudah mengirimkan banyak pesan kepada Natta untuk pamit ke sekolah. Kembali masuk ke ruangan mama Mita bukanlah waktu yang tepat. Olin paham situasi di ruangan sudah pasti sangat menegangkan.
"S**l, aku hampir terlambat! aku berangkat dulu Kay," pamit Dio diangguki oleh Kayna. "Terimakasih kak," balas Kayna lirih.
Setelah pamit dengan mama Mita juga kedua orang tua Natta. Dio keluar dari ruangan mama Mita. Ada perasaan mengganjal juga tidak rela sebenarnya meninggalkan Kayna bersama dengan Natta. Terlebih Dio tahu jika Natta sengaja tidak berangkat sekolah mungkin untuk menemani Kayna.
"Kamu memang selalu gegabah dan konyol Natta, tapi aku salut," lirih Dio berjalan semakin menjauh.
"Bisa kita bicara diluar?" tanya Natta tidak langsung dijawab oleh Kayna.
"Ma, Kay ke luar sebentar, om-tante," pamit Kayna diangguki oleh mereka.
"Natta, ingat tadi malam," ujar pak Rian diangguki oleh Natta.
Sementara Kayna terdiam membeku setelah mendengar ucapan atasan mamanya yang seperti begitu dekat dengan Natta. Gadis itu menatap punggung Natta yang berjalan keluar di depannya.
Perasaan Kayna mulai tidak menentu, ada kemelut perasaan yang tidak bisa Kayna mengerti. Rasa itu tiba-tiba hadir. Dan ini membuat Kayna merasa takut jika sesuatu hal yang tidak diinginkan akan terjadi.
__ADS_1
Duduk di taman rumah sakit seperti kemarin. Keduanya masih sama-sama terdiam.
"Nggak di sekolah, nggak di rumah sakit suka banget di taman," ujar Natta tidak mendapat respon dari Kayna.
Gadis itu masih memikirkan apa yang akan Natta katakan.
"Mereka siapa?" Kayna menoleh lalu menatap manik mata Natta dengan begitu dalam.
Melihat wajah Kayna saat ini membuat Natta tidak tega rasanya untuk mengungkapkan siapa dirinya. Natta sangat yakin jika Kayna akan kecewa dan mungkin saja semakin jauh darinya. Namun jika Natta terus menyembunyikan kebohongan itu akan semakin membuat Kayna kecewa nantinya.
"Kami orang tua Natta nak," suara pak Rian yang tiba-tiba datang seketika membuat keduanya menoleh.
Kening Kayna seketika berkerut melihat kedatangan atasan mamanya yang mengatakan jika beliau orang tua laki-laki di depannya.
Kayna menatap Natta dengan gelengan di kepalanya. "Kamu bohongi aku," lirih Kayna hampir tak terdengar.
Dadanya terasa sangat sesak, hatinya seperti tersentil sangat dalam sampai membuatnya merasa sakit. Kayna kecewa namun tidak banyak yang bisa dia lakukan. Natta tidak lebih dari seorang teman yang hanya dekat saja. Tetapi kenapa hatinya begitu sakit mengetahui kebenarannya.
"Jangan pergi, ada yang ingin om jelaskan sama kamu," ujar pak Rian semakin mendekat.
__ADS_1