
Karena acara tadi malam di tempatnya bekerja. Kayna pagi ini berniat untuk bangun siang. Ia ingin menikmati tidur nyamannya setelah lelah menjalani kegiatan sekolah berlanjut dengan kerja di sore sampai malam harinya.
Kebetulan hari ini hari minggu. Kayna tidak perlu bersusah untuk bangun lebih awal seperti biasanya untuk bersiap ke sekolah.
"Kay! bangun udah siang!" mama Mita sengaja menyingkirkan tirai pada jendela kamar gadis itu.
"Ma, minggu kan? Kay libur sekolah mau istirahat dulu," balas Kayna bermalas-malasan.
"Masih nggak puas nak? udah hampir jam 12 lho ini," beritahu mama Mita seketika membuat Kayna terbangun.
Mata Kayna langsung terbuka dengan sempurna. Ia menatap mama Mita dan jam kecil yang terdapat di meja belajarnya.
"12 siang ma?" tanya Kayna diangguki oleh mama Mita.
"Matahari terik gini masa malam sih sayang? buruan gih bangun mandi terus makan," ujar mama Mita mengecup kening Kayna.
"Ma bentar!" teriak Kayna membuat mama Mita menghentikan langkahnya.
Beliau berbalik badan lalu kembali menghampiri Kayna. "Kenapa sayang?"
Dengan senyum manisnya Kayna menyuruh mama Mita untuk duduk di sebelahnya. Gadis itu kini mengambil dompet kecil berwarna pink yang ia taruh di dalam laci meja belajarnya.
__ADS_1
"Tadi malam di kafe ada acara ibu-ibu arisan, makanya Kay sama Na-"
"Kamu sama Natta pulang terlambat?" ulang mama Mita sekalian bertanya.
Kayna mengangguk. Ia terlalu gengsi untuk sekadar mengatakan jika dirinya dan Natta pulang bersama tadi malam.
"Iya itu lah pokoknya," ujar Kayna membuat mama Mita menggeleng dengan senyum.
"Kamu itu, kalau mama liat-liat kalian ini cocok lho," puji mama Mita seketika membuat Kayna melotot.
"Apa sih ma? enggak ada ya cocok apanya? yang ada kita cekcok," balas Kayna semakin membuat mama Mita terkekeh.
"Kay, jangan aneh-aneh kamu." Mama Mita menatap Kayna selidik.
"Ma. Ini tuh tips dari kak bos, kalau yang ini dari ibu-ibu sosialita yang ngadain acara arisan." Kayna menyerahkan uang lembaran berwarna merah tersebut pada tangan mama Mita.
"Tapi ini banyak banget Kay," ujar mama Mita diangguki oleh Kayna.
"Emang banyak, sesuai sama Kay yang udah rajin kerjanya," ujarnya dengan songong.
"Mama terima ya? ini mama simpan buat kebutuhan sekolah kamu juga," setelah mengatakan itu mama Mita memeluk Kayna dengan sayang.
__ADS_1
Sejujurnya hati beliau tersentil melihat kehidupan Kayna saat ini. Harus bekerja untuk membantu kebutuhan hidup mereka. Diusianya yang masih sangat muda Kayna bisa sangat tegar dengan segala cobaan hidup yang dijalaninya. Kayna tidak pernah goyah, gadis itu keras meski ada sisi rapuhnya, namun Kayna sangat pintar menyembunyikan itu semua dari mamanya.
Selesai mandi. Kayna duduk di depan televisi seraya makan. Namun kegiatannya tidak bertahan lama setelah ponsel milik mamanya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya duduk terus bergetar.
"Siapa sih?" gumamnya menatap layar ponsel mama Mita.
Deg
Jantung Kayna berdetak cepat kala melihat nama Danu yang tertera. Itu nama pamannya dan mama Mita ternyata masih menyimpan nomor beliau.
Masih dengan hati juga detak jantung yang tidak menentu. Kayna langsung menolak panggilan tersebut. Ia mengambil ponsel mama Mita dengan niatan akan memblokir nomor pamannya.
"Ma!" panggil Kayna mencari keberadaan mama Mita.
"Mama!" seru Kayna lagi namun tidak kunjung mendapat jawaban.
Kayna berlari mencari keberadaan mamanya. Sampai ketika ia tepat di depan pintu depan. Kayna tercekat melihat mama Mita yang baru saja turun dari motor besar. Bukan karena motor besar tersebut yang membuat tubuh Kayna seakan kaku tidak bisa digerakan. Tetapi yang bersama dengan mamanya ialah Natta. Laki-laki yang beberapa minggu ini sudah tinggal di rumah kontrakannya.
"Kay, mama nyobain motor baru Natta," beritahu mama Mita dengan senyumnya.
"Nggak bisa dibiarin," gumam Kayna siap untuk menyerang Natta.
__ADS_1