Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Jarak Yang Mulai Menipis


__ADS_3

Diam dengan pandangan lurus ke depan Kayna kini pulang bersama dengan Natta untuk mengantarnya. Tidak sempat berpamitan dengan yang lain karena terlalu buru-buru. Kayna hanya memberitahu Olin jika dirinya pulang. Bahkan pakaian atau pun barang yang lainnya tidak sempat Kayna kemasi untuk dibawa tadi. Kayna terlalu syok mendengar berita jika mamanya jatuh pingsan dan kini sudah berada di rumah sakit.


Pukul 9 siang. Keduanya sampai di rumah sakit. Kayna langsung turun diikuti Natta di belakangnya. Gadis itu berlari mencari ruang inap mamanya. Sampai akhirnya langkah Kayna memelan ketika sampai di depan ruang inap mama Mita.


Sekujur tubuhnya terasa lemas melihat adanya seorang laki-laki yang berada di sana. Laki-laki yang pernah Kayna lihat malam itu. Dan kini laki-laki tersebut kembali muncul di hadapannya. Kayna ingin marah namun tidak ada tenaga.


Melihat kedatangan Kayna membuat laki-laki tersebut menatap Kayna dengan diam. Beliau bahkan tidak tahu harus melakukan apa ketika bertemu dengan gadis di hadapannya.


"Om Givan?" bukan suara Kayna setelah melihat adanya laki-laki tersebut. Namun Natta tampak terkejut melihat adanya salah satu rekan bisnis ayahnya.


Om Givan dulu pernah bekerja sama dengan Ayahnya. Dan ketika itu Natta yang dipercaya oleh Ayahnya untuk memimpin rapat sebelum kerja sama dilakukan. Kini keduanya kembali bertemu dengan cara yang tidak terduga pastinya.


"Natta, kamu juga di sini nak?" laki-laki yang dipanggil om Givan oleh Natta menatap Natta dan Kayna secara bergantian.


"Saya teman Kayna om," ujar Natta diangguki oleh beliau.

__ADS_1


"Senang sekali bisa bertemu dengan kamu lagi Natta," belia mengulurkan tangannya. Begitu juga dengan Natta yang menerima uluran tangan beliau.


Keduanya sama-sama berjabat tangan disaksikan langsung oleh Kayna yang semakin merasa tidak suka dengan laki-laki tersebut. Kayna tidak suka adanya om Givan di sana.


"Terimakasih sudah membantu mama dan memberitahu saya. Anda boleh pergi sekarang," ujar Kayna menatap ke lain arah.


Baik Natta atau pun pak Givan menoleh ke arah Kayna. Beliau mengangguk pelan setelah Kayna secara halus mengusirnya.


"Jaga mama kamu," ujar beliau sebelum kepergiannya.


"Natta, om pamit dulu. Nanti om ke sini lagi," pamit beliau diangguki oleh Natta.


"Kamu juga boleh pulang Nat, kamu capek butuh istirahat," ujar Kayna tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.


Tidak menanggapi ucapan Kayna. Natta justru mendekat ke arah Kayna. Menuntun gadis itu untuk duduk di ruang tunggu.

__ADS_1


"Duduk Kay, kamu pasti sangat lelah," ujarnya tidak mendapat balasan dari Kayna.


"Aku nggak tahu Nat, apa yang harus aku lakuin. Aku Mama nggak pernah sakit sampai harus dibawa ke rumah sakit," ujar Kayna diangguki oleh Natta.


Bahkan Natta menatap dalam wajah Kayna. "Boleh aku peluk kamu?" tanya Natta seketika membuat Kayna menatap ke arahnya.


Kepala Kayna mengangguk kecil. Membuat Natta tersenyum tipis menarik tubuh gadis itu untuk masuk ke dekapannya.


"Kalau mau nangis, nangis aja Kay. Ada aku di sini," ujarnya langsung membuat tubuh Kayna bergetar di dekapannya.


Natta tahu Kayna sedang menangis. Meluapkan perasaan yang saat ini ingin dikeluarkannya. Tetapi setidaknya. Natta merasa beruntung dan bersyukur kali ini. Dengan keadaan Kayna saat ini, ia berada di sampingnya, tidak membuat rasa menyesal dalam hatinya.


Hubungan keduanya pun seakan membaik, jarak yang tadinya menjauh seakan terkikis, pondasi besar di tengah-tengah pun mulai meruntuh. Kayna berada di dekapan Natta saat ini. Dan ini nyata bukan angan-angan belaka.


Jika pada akhirnya tidak bisa kumiliki

__ADS_1


Setidaknya aku sudah menemani di kala tangismu


_Natta_


__ADS_2