Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Sasa Diambang Kehancuran


__ADS_3

Desas-desus tentang hubungan Kayna dan Natta semakin terdengar di telingan para siswi. Banyak yang semakin menanjung Natta karena diam-diam begitu terlihat gantle, bahkan banyak dari mereka yang jika diposisi Kayna saat ini akan langsung mengajak menikah Natta. Namun tidak sedikit juga yang memberi komentar pedas untuk Kayna.


"Kay, dari tadi kamu diliatin terus tuh sama mereka," bisik Olin melirik ke arah beberapa siswi yang sengaja melihat kedatangan mereka. Lebih tepatnya kedatangan Kayna.


"Ck, biarin aja Lin, aku nggak ngerugiin mereka juga," balas Kayna diangguki oleh Olin setuju.


"Apa karena kamu pakai seragam Natta ya?" bisik Olin lagi.


"Bisa jadi, ayo cepetan pesen mie ayam, keburu laper," ajak Kayna tanpa peduli dengan beberapa siswi yang masih memandangi kepergiannya.


Setelah tadi Sasa, pelaku penyiram Kayna, Natta datang sebagai penolong Kayna. Bahkan dengan sengaja Natta rela melepas seragam sekolahnya untuk dikenakan Kayna.


Berbeda dengan Sasa yang harus berada di ruang BK karena tindakannya untuk Kayna. Gadis itu kini tidak bisa menikmati jam istirahatnya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Tiba-tiba pintu ruang BK diketuk dari arah luar. Terlihat kedua siswa yang masuk dan membuat mereka yang berada di sana seketika bingung. Paul dan Oki yang memang sedang mendapat hukuman skors karena tindakannya tiba-tiba datang ke sekolah. Keduanya memakai baju santai di rumah.


"Kalian kenapa ke sini?" tanya pak BK melihat kedatangan dua muridnya yang sedang mendapat hukuman karena tindakan kejahatan mereka.


"Boleh kita duduk dulu pak?" ujar salah satu dari mereka.


Guru BK tersebut mengangguk. Mempersilahkan keduanya untuk duduk di ruangannya. Sementara Natta dan Arka yang memang juga berada di sana tersenyum tipis. Kedatangan dua remaja tersebut ke sekolah jelas ada campur tangan dari mereka.


"Ada apa sampai kalian datang ke sekolah?" tanya guru BK seketika membuat Sasa siswi satu-satunya yang berada di sana menatap keduanya dengan tajam.


"Pak, jadi apa hukuman saya?" tanya Sasa pada akhirnya.


Gadis itu ingin segera pergi dari ruangan BK, ia merasa tidak nyaman berada di ruangan BK karena datangnya Paul dan Oki.


"Sebentar, kamu duduk dulu Sasa. Arka kamu sebagai ketua OSIS tolong beri hukuman untuk dia," titah guru BK diangguki oleh Natta.

__ADS_1


"Baik pak, tapi sebaiknya kita dengarkan dulu apa yang ingin mereka katakan," jelasn Arka melirik ke arah Sasa dengan senyum yang sangat tipis.


Setuju dengan apa yang dikatakan oleh Arka. Guru BK tersebut kembali mempersilahkan Paul dan Oki untuk menjelaskan maksud tujuan mereka datang ke sekolah. Jika tidak penting, tidak akan mungkin mereka datang sampai bisa melewati petugas keamanan di depan gerbang sekolah.


"Kalian katakan, apa yang ingin kalian katakan," titah guru BK diangguki oleh keduanya ragu-ragu.


"Sebenarnya pak kita ke sini-"


"Pak, mending bapak aja yang beri hukuman buat saya, saya tidak enak siswi sendiri di ruangan ini," sela Sasa membuat guru BK tersebut mengangguk.


"Tidak enak atau takut kejahatan kamu akan terbongkar Sa?" sinis Arka melirik ke arah Sasa dengan tajam.


Arka sangat marah besar ketika tahu, Airin sengaja dikambing hitamkan oleh Sasa. Meksi kini Arka tahu jika Airin pernah mempunyai perasaan untuk Natta, namun Arka sudah memaafkan Airin. Arka cukup paham jika Natta memang sahabat yang baik, terbukti dari Natta yang terus mengabaikan Airin meski berkali-kali gadis itu mencoba untuk terus mengambil hatinya di belakang.


Mendengar kata-kata Arka yang seperti sebuah peringat membuat Sasa semakin merasa khawatir. Sasa tidak bodoh jika kata-kata Arka itu terdapat maksud lain.


"Apa yang harus aku takutkan?" tantang Sasa mencoba memberanikan diri.

__ADS_1


"Ki, Ul, katakan sama guru BK, jika perlu semua murid yang ada di sekolah ini," titah Arka diangguki oleh keduanya dengan patuh.


Setelah mengatakan hal itu, Akra melirik ke arah Natta dengan senyum simpulnya. "Thank brother." Arka menepuk pundak Natta dengan senyum tipis.


__ADS_2