
Berita tentang Airin yang menjadi otak atau dalang dibalik kejadian yang menimpa Kayna sudah tersebar luas di Sekolah. Padahal apa yang Oki dan Paul sebutkan tentang Airin sebagai penyuruh mereka sudah ditutup rapat oleh pihak sekolah juga Natta atau pun Arka yang berada di ruangan kepala sekolah ketika itu. Namun seseorang sengaja menyebar luaskan untuk membuat Airin jatuh.
Tangis Airin semakin menjadi kala hampir seluruh siswi mencemoohnya juga protes agar Airin keluar dari sekolah. Hal itu menyebabkan pelajaran di sekolah tertunda karena banyaknya siswi yang berdemo.
"Keluarkan Airin!"
"Keluarkan Airin, keluarkan Airin!'
Kayna menghela napas dengan sangat dalam. Ia dan Olin saling berpandangan melihat situasi yang sudah tidak memungkinkan sama sekali.
"Kay, kamu percaya ini semua?" tanya Olin membuat Kayna ragu untuk menjawabnya.
Namun akhirnya Kayna menggeleng pelan. Meski tadinya ada sedikit rasa curiga terhadap Airin, melihat Airin saat ini membuat Kayna yakin jika seseorang mungkin saja sengaja menjebak Airin dengan niatan mencelakai Kayna.
"Aku memang sempat curiga Lin, tapi sekarang aku rasa seseorang sengaja menjebaknya," balas Kayna diangguki setuju oleh Olin.
"Setuju, sepertinya memang begitu, tapi siapa Kay? Airin kan disukai banyak orang, pelakunya pasti orang yang tidak menyukainya bukan?" heran Olin tampak berpikir.
__ADS_1
"Ikut aku!" Kayna menarik tangan Olin untuk mengikutinya.
Di tengah segerombolan siswi yang sedang protes untuk membuat Airin keluar dari sekolah. Kayna berusaha untuk bisa masuk kedalam kerumunan tersebut. Entah dorongan dari mana Kayna berniat untuk membantu Airin dari situasi yang terjadi sekarang.
"Minggir-minggir," ujar Kayna mencoba untuk masuk lebih dalam dari kerumunan.
"Airin itu iblis berkedok malaikat."
"Dia itu selama ini cuma manfaatin wajah polosnya aja."
"Najis! kalau masih punya malu keluar kamu dari sekolah ini."
Deg
Seketika itu juga rasa iba Kayna semakin kuat melihat kondisi Airin yang menurutnya sangat memprihatinkan. Airin benar-benar diambang kehancurannya.
"Kalian semua bubar!" teriak Kayna membuat mereka semua terdiam seketika.
__ADS_1
"Berhenti bikin gaduh seperti ini," lanjut Kayna mencoba untuk membantu Airin.
Tangan Kayna terulur untuk membantu Airin berdiri. Kejadian ini sama persis ketika untuk pertama kalinya Kayna membantu Airin karena Sasa dan teman-temannya yang merundung Airin.
"Kayna! ngapain bantu orang yang udah berniat jahat sama kamu."
"Kay, jangan sok jadi pahlawan untuk penjahat, kita itu belain kamu biar dia sadar."
"Ck, cuma gadis bodoh yang mau bantu musuhnya," kata-kata itu keluar dari mulut Sasa yang baru saja datang dan berdiri tepat di depan Kayna dan Airin sekarang.
Seakan tidak takut dengan apa yang Sasa katakan atau pun apa yang akan Sasa lakukan nantinya. Kayna tersenyum sinis.
"Dari pada gadis munafik yang sengaja pakai cara licik untuk jatuhin lawannya, itu pengecut," ujar Kayna tidak kalah nyalang menatap Sasa.
"Ayo Airin, buktikan kalau kamu tidak salah, jangan pernah takut karena kebaikan nantinya yang akan menang," ujar Kayna membuat Sasa mengepalkan tangannya kuat.
"Huh dasar kumpulan gadis bod*h," gumam Sasa menatap Kayna dan Airin yang mulai menjauh.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Airin terus menatap Kayna yang sedang berjalan di sampingnya, hatinya tersentil mengingat apa yang pernah ia lakukan dengan Kayna selama ini. Tentang perasaannya untuk Natta.
"Kayna, maaf," lirih Airin masih menatap Kayna di sampingnya.