
Pergelangan tangan Kayna cukup kebas mendapati cekalan dari Natta yang lumayan kencang. Mencoba untuk berontak juga akan sia-sia saja. Lihatlah sekarang keduanya sudah berada di belakang sekolah. Meski bel sudah berbunyi beberapa detik yang lalu, nyatanya tidak membuat Natta melepaskan cekalan tangannya pada gadis itu.
"Natta! cukup!" berontak Kayna akhirnya menghentikan langkah Natta.
Keduanya berhenti di belakang sekolah. Entah dengan tujuan apa Natta tiba-tiba mengajaknya pergi ke sana.
"Ada apa?" tanya Kayna langsung pada intinya.
Tidak langsung menjawab. Natta malah melayangkan tatapan yang susah untuk Kayna artikan.
Bugh
Tidak ingin berlama dalam situasi seperti saat ini. Kayna sengaja memukul lengan Natta dengan cukup keras. Biarkan saja image baik akhir-akhir ini hilang karena tindakan yang baru saja dilakukannya. Toh nyatanya mau Kayna baik atau tidak Natta bersikap aneh.
"Lagi Kay," titah Natta membuat Kayna menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Nggak ada yang mau diomongin kan? aku pergi!" Kayna mulai berjalan pergi.
Namun baru berapa langkah. Ucapan Natta berikutnya membuat Kayna berhasil mengehentikan langkahnya.
"Aku nggak suka kamu pulang bareng Dio Kayna," ujar Natta pada akhirnya.
Mengatakan hal itu saja sedari tadi sangat sulit untuk diucapkan. Merasa tidak ada hak namun juga teramat mengganggu pikiran Natta sejak kejadian tadi malam.
"Katakan sekali lagi Natta," ulang Kayna pada Natta.
Ada banyak hal yang ingin Kayna tanyakan pada Natta. Ada perasaan aneh juga yang menjalar dalam dirinya atas pengakuan Natta barusan. Namun semua terasa tercekat pada bagian tenggorokannya. Seperti tidak ada energi untuk menanyakan atau mengungkapkan apa yang sangat ingin ia keluarkan.
"I-itu yang buat kamu diemin aku Natta? itu yang buat kamu nerima bekal dari Sasa?" tanya Kayna seperti menuntut penjelasan dari Natta.
"Sebenarnya kita ini apa sih Nat? teman? atau sahabat? oh..atau kita ini teman tapi-"
__ADS_1
Tidak berkesempatan melanjutkan ucapannya. Kayna dibuat terkejut dengan tindakan Natta berikutnya. Lebih dari apa yang Natta lakukan pada waktu itu.
Kini Natta berani kembali mencuri ciuman darinya. Bahkan tepat di bibir ranum milik Kayna. Dan ini untuk yang pertama kalinya Kayna merasakan sentuhan pada bibirnya dari bibir orang lain.
Bukan hanya mencium, sengaja Natta sedikit ******* bibir Kayna untuk beberapa detik, sebelum akhirnya melepaskan ciumannya pada Kayna yang masih terdiam dengan serangan Natta tiba-tiba.
"Sekarang, kamu miliku," ujar Natta membuat Kayna semakin tercekat.
Tidak mengiyakan juga tidak menolak apa yang Natta lakukan. Masih terlalu syok dengan semua yang baru saja terjadi. Juga dengan apa yang baru saja Natta katakan padanya.
"Ayo masuk! siap kan dapat hukuman dari pak Rodi?" tangan Natta sengaja menggenggam tangan Kayna dan membawanya untuk pergi dari belakang sekolah.
"Natta," lirih Kayna menatap Natta yang sedang menggenggam tangannya.
Keduanya melangkah bersama. Juga dengan perasaan yang lega namun masih banyak lagi yang harus dipertimbangkan. Terutama Natta yang memang memiliki rahasia besar yang dia sembunyikan dari Kayna. Tak ingin menyerah di tengah jalan, Natta lebih memilih untuk langsung menyatakan perasaannya dengan Kayna. Setidaknya dia berkesempatan untuk mengungkapkannya meski apa yang dilakukannya sangat konyol juga terkesan memaksa.
__ADS_1
"Sekarang kita pacaran Kayna."