
"Natta!" bunda Delia teriak dan segera bergegas melihat anak semata wayangnya pulang.
Meski beliau selalu keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Natta akhir-akhir ini. Pergi dari rumah tanpa memberi kabar sama sekali. Namun beliau tidak ingin mengengkang Natta. Beliau paham bagaimana pikiran Natta di usianya sekarang. Juga tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh suami juga anaknya. Keduanya sama-sama egosi dan tidak mau mengalah.
"Sayang, bunda kangen sekali," ujar beliau memeluk anak bujangnya.
Natta tersenyum tipis. Ia mencium kening bunda Delia dengan penuh kasih dan kerinduan.
"Oma, apa sudah sembuh bunda?" tanya Natta membuat Bunda Delia tersenyum seraya menggeleng.
"Kamu sendiri sudah tahu jawabannya. Kenapa masih nanya bunda?" tangan bunda Delia menarik Natta untuk segera menuju ke meja makan.
"Kamu harus makan dulu sayang," titah beliau dijawab Natta dengan senyum tipis.
"Aku harus mastiin oma baik-baik saja," balasnya membuat bunda Delia reflek mencubit gemas lengan anaknya.
__ADS_1
"Jangan becanda, oma sedang di atas. Nanti bunda antar ke sana," ujar beliau mencium pembut puncuk kepala Natta.
Disaat Natta sedang memakan makanannya. Tidak hentinya bunda Delia terus mengamati wajah anaknya. Beliau teramat rindu, namun beliau tahu Natta tidak suka terus diperlakukan seperti ketika masih tinggal di rumah. Natta memilih jalan hidupnya sendiri, meski bunda Delia sendiri yakin. Natta akan kembali ke rumahnya. Pulang untuk orang tuanya.
"Maaf nda, udah bikin kecewa bunda," ujar Natta menaruh segelas air putih di depannya.
Sudut bibir beliau seketika tertarik ke atas membentuk senyum, dengan kepala menggeleng pelan tidak setuju. "Enggak sayang, Natta sama sekali nggak bikin bunda kecewa. Bunda bangga sama anak bunda," terdengar helaan napas dari beliau yang cukup panjang.
Melihat hal tersebut membuat Natta beranjak dan menghampiri bundanya. Ia merangkul bunda Delia dengan penuh sayang.
"Kamu udah ngelakuin hal benar sayang, bunda sendiri tidak setuju dengan apa yang ayah lakuin. Kamu berhak menentukan pilihan hidup kamu, tapi satu pesan bunda. Pulanglah dimanapun kamu sayang," ujar beliau melirik ke arah Natta.
"Natta ke atas dulu," ujarnya diangguki oleh bunda Delia.
"Istirahat di kamarmu Nat," teriak bunda Delia membuat Natta menoleh. Anggukan kepala dari Natta dengan senyum tampan yang anak itu berikan seketika membuat hati bunda Delia lega.
__ADS_1
Setidaknya Natta tidak langsung pergi. Bahkan bunda Delia sangat berharap malam ini Natta akan tetap berada di kamarnya. Sudah cukup lama kamar itu tidak ditempati. Beliau selalu merindukan ocehan atau keluhan Natta ketika baru saja pulang sekolah atau membantu Ayahnya di kantor.
"Nikmati dulu masa muda kamu sayang," lirih beliau menatap punggung Natta yang semakin tidak terlihat lagi.
Di rumah sakit. Kayna duduk bersama dengan Olin. Gadis itu menatap lurus ke depan. Ada yang beda dengan dirinya. Dan ada yang dia rindukan dengan keberadaannya. Kayna merasa kurang dengan kepergian Natta. Ia belum sempat berterimakasih atas bantuan Natta.
"Kay, tenang ya? Natta pasti ke sini lagi kok," ujar Olin mencoba untuk menenangkan Kayna.
Kepala Kayna mengangguk, diiringi senyum kecil di bibirnya. "Aku belum sempet bilang makasih sama dia," ujarnya diangguki Olin.
"Natta itu bandel Kay, dia suka ngelakuin apapun itu sesuka hatinya. Percaya deh meski mungkin hubungan Natta dan tante Mita lagi kurang baik. Tuh anak pasti balik lagi ke sini," seloroh Olin penuh percaya.
"Kalau enggak?" Kayna menatap Olin dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. "Natta bisa saja capek kan Lin ngadepin sifat keras kepala aku?" mata Kayna mulai berkaca-kaca.
Hal itu membuat Olin tidak tega rasanya. Namun tidak bisa dipungkiri jika Olin merasa sangat bahagia dengan kesadaran Kayna sekarang.
__ADS_1
"Janji ya Kay, kalau Natta balik kamu dengerin dulu penjelasan dia?" tuntut Olin membuat Kayna menatap Olin dengan diam. Sebelum akhirnya memeluk Olin dengan anggukan kepalanya.
"Aku sayang Lin sama dia," lirihnya.