
Malam ini terasa begitu panjang bagi Kayna. Matanya belum juga bisa terpejam, pikirannya berkelana entah kemana. Ekor mata Kayna melirik ke arah benda pipih yang tergeletak tidak jauh darinya. Tubuhnya bangkit dari ranjang dengan tangan terulur untuk meraih benda tersebut.
Dilihatnya sudah pukul setengah 1 malam. Terdengar helaan napas dari Kayna. Kemudian ia turun dari ranjang untuk keluar dari kamar.
"Natta," panggil Kayna menghampiri Natta yang sudah tertidur di sofa depan TV.
"Nat," lanjut Kayna kali ini mencoba menggoyangkan tubuh Natta agar terbangun.
Usahanya tidak sia-sia. Tubuh Natta bergerak secara perlahan dengan kepala menoleh ke arahnya.
"Kay," heran Natta melihat adanya Kayna yang sudah berada di depannya.
"Kenapa bangun?" tanya Natta membuat Kayna mencebik.
"Bangun apanya? aku dari tadi belum tidur," keluh Kayna seketika membuat Natta langsung terbangun dan duduk.
__ADS_1
"Sini-sini," titahnya menyuruh Kayna untuk duduk di sebelahnya. Namun agaknya Kayna sedikit was-was, terbukti dari Kayna yang masih berdiri sampai harus membuat Natta menarik tubuh gadis itu agar duduk di sebelahnya.
"Kenapa nggak bisa tidur?" tanya Natta setelah berhasil membuat Kayna duduk di sebelahnya.
"Aku masih kepikiran yang tadi Nat," jelas Kayna membuat Natta malah tersenyum diiringi kekehan kecil.
"Apanya yang lucu sih?" kesal Kayna mendapat gelengan kepala dari Natta.
"Enggak ada, aku kira kamu nggak bisa tidur karena udah nggak sabar dinikahi aku," balas Natta seketika membuat Kayna langsung melayangkan pukulannya pada tubuh laki-laki itu.
"Aku serius Natta, masih nggak nyangka aja kalau ternyata mama sama om Givan-" ujar Kayna terhenti. Ia tidak bisa meneruskan lagi apa yang ingin dikatakan olehnya. Rasanya mulut Kayna begitu berat jika membahas tentang hal itu.
Setelah mendengar penjelasan dari pak Givan juga mama Mita tadi di hotel. Kayna memilih untuk tidak pulang ke rumah sebagai bentuk protes rasa kecewanya terhadap kedua orang tuanya. Meski dalam lubuk hati Kayna sudah memaafkan, bukan berati Kayna akan menerima begitu saja. Apa lagi Kayna ditinggalkan sejak masih dalam kandungan oleh ayahnya atau pak Givan tanpa alasan yang jelas. Itu membuat Kayna tidaklah mudah untuk menerima begitu saja.
"Natta, boleh aku juga tidur di sini?" tanya Kayna seketika membuat Natta terdiam.
__ADS_1
Entah ini suatu keberuntungan atau bencana bagi Natta. Karena jika Kayna tidur bersamanya, Natta jelas yang tidak akan pernah bisa tidur sekarang.
"Kenapa? kamu keberatan?" tanya Kayna melihat Natta yang masih terdiam tanpa menjawab.
"Enggak Kay," dengan kepala menggeleng, Natta mencoba untuk mengukir senyum.
"Tapi sofanya terlalu kecil enggak sih untuk berdua?" mata Kayna melirik ke arah sofa yang menurutnya tidak akan muat untuk ditiduri dua orang.
"Bujan masalah Kay, kamu bisa tidur di atasku," balas Natta seketika membuat Kayna mendelik.
Yang tadinya Kayna merasa aman dan nyaman kini tergantikan rasa was-was. Apa yang Natta katakan seakan suatu pertanda menurutnya.
"Kamu mau apa? awas aja ya Nat kalau macem-macem, kita nggak jadi nikah," ancam Kayna mendapat gelengan kepala dari Natta. Namun bukan berati Natta menuruti apa yang Kayna katakan baru saja.
Tdak ada rasa takut sama sekali dalam diri Natta mendengar ancaman dari Kayna. Natta justru langsung membalikkan tubuh Kayna sampai kini berada di bawahnya sekarang.
__ADS_1
Sontak saja apa yang Natta lakukan berhasil membuat Kayna tidak bisa berkutik lagi. Kayna terkejut dengan jantung yang mulai berdetak dengan begitu cepat.
"Cuma satu macam Kay, kita belajar jadi pengantin baru malam ini," ujar Natta tersenyum miring di atas Kayna.