Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Cemburu Atau Menyerah?


__ADS_3

Seperti dejavu bagi Natta melihat adanya mama Mita di depannya. Terlebih Natta merasakan kecewa juga marah pada diri sendiri saat melihat mama Mita membungkukan tubuhnya untuk memberi hormat.


"Selamat malam den Natta," sapa mama Mita sopan.


Jlep


Rasanya jantung Natta seperti baru saja situsuk oleh jarum 1000 kali. Natta merasakan ada lubang-lubang kecil pada bagian jantungnya yang berdebar sangat kencang saat ini. Bukan debaran seperti yang sering Natta rasakan ketika bersama dengan Kayna. Melainkan debaran tidak enak yang untuk kedua kalinya ia rasakan setelah kemarin malam ucapan mama Mita untuknya.


Bukan menjawab. Natta lebih memilih untuk mengangguk dan pergi, sudah kepala tanggung memang jika akan beralasan kepada mama Mita. Namun sekarang juga bukan waktu yang tepat untuknya menjelaskan.


Tidak jauh berbeda dengan Natta. Mama Mita juga merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Apa lagi ketika tadi tanpa sengaja berpapasan dengan seseorang yang kini beliau kenali memiliki dua kehidupan. Antara ingin marah dan kecewa sangat ingin beliau luapkan.


"Mbak Mita, terimakasih lho malam-malam sudah datang," ujar bunda Delia melihat kedatangan mama Mita.


Diluar jam kerja memang, namun tadi ketika bunda Delia meminta beliau untuk mencarikan kue tradisional khas di kotanya. Beliau langsung menyanggupi.


"Maaf merepotkan, ini permintaan ibu martua saya," lanjut bunda Delia menjelaskan.


"Ah... Tidak masalah bu, ini tidak merepotkan sama sekali," balas beliau sopan.


Tidak lama setelah itu. Oma yang tadi pura-pura tidur turun dari atas. Beliau mencari keberadaan Natta yang sudah kembali pergi.

__ADS_1


"Dimana dia?" suara dari Oma mengalihkan atensi mereka semua yang berada di ruang tv.


"Ibu, kenapa tidak istirahat saja? ini kuenya sudah kita dapatkan," jelas bunda Delia pada ibu martuanya.


"Dia pergi lagi?" tanpa menjawab ucapan dari mantunya. Oma Natta ikut duduk bersama dengan mereka. "Anak nakal," lanjut beliau menatap lurus ke depan.


"Saya akan membuatnya kembali ke rumah ini," terlihat wajah pak Rian yang terlihat sangat serius.


"Kamu seharusnya tidak sekeras itu mendidiknya. Lihatlah dia kini jadi anak laki-laki yang pembangkang! Cucuku tidak seperti ini," ujar Oma yang membuat pak Rian tampak berpikir keras.


Sementara mama Mita jadi merasa datang disaat waktu yang tidak tepat. Beliau sedari tadi lebih memilih untuk diam menyimak. Sebelum pamit untuk pulang di waktu yang tepat.


Duduk di atas motornya tepat di depan pagar kecil rumah kontarakan milik Kayna. Natta sedang menunggu kepulangan dari Kayna. Jika keberadaan mama Mita Natta sudah tahu sendiri jawabannya. Entah kenapa ada dorongan yang keras untuk mengungkapkan siapa jati dirinya kepada Kayna. Sebelum Natta semakin larut dan membuat gadis itu pergi menjauhinya.


Kegelisahan Natta terjawab setelah tidak lama setelahnya terlihat mobil milik Dio yang mendekati rumah kontrakan milik Kayna. Sontak saja Natta beranjak dari duduknya.


"Kayna?" lirihnya melihat Kayna turun dari mobil Dio. Bahkan sebelum Dio membukakan pintu untuknya.


Keduanya berjalan menuju dimana Natta kini berdiri di samping motor besar miliknya.


"Natta, ngapain di sini?" tanya Kayna bingung melihat adanya Natta yang tiba-tiba sudah berada di depan rumahnya.

__ADS_1


"Nunggu kamu," balas Natta menatap ke arah Kayna dan juga Dio secara bergantian.


"Bukannya tadi kamu bilang ada urusan mendadak ya?" heran Kayna diangguki oleh Natta. "Iya, tapi sekarang udah enggak."


Natta melirik ke arah paper bag yang berada di tangan Dio. Tanpa bertanya sudah bisa Natta simpulkan jika selain pulang bersama mereka juga mungkin saja mampir ke sebuah toko untuk berbelanja.


"Ini Kay." Dio menyerahkan paper bag di tangannya.


"Eh makasih lho kak, padahal tadi kan Olin yang-"


"Udah nggak papa, aku yang pengen beliin buat kamu," sela Dio dijawab Kayna dengan senyum tipis.


"Sekali lagi makasih kak," balas Kayna dijawab Dio dengan anggukan kepala.


Tanpa disadari tangan Natta mengepal dengan keras. Entah kenapa dia merasa Dio seperti saingan untuknya. Apa yang Arka maksudkan itu adalah Kayna? pegawai yang sedang Dio incar, jika memang benar masalah baru lagi untuknya.


Pilihannya cuma satu tetap membuat Kayna bisa bersamanya dengan kemungkinan yang akan terjadi dengan persahabatan mereka, atau mengalah demi kebaikan.


"Kay, aku pulang ya sudah malam," pamit Natta pada akhirnya.


"Nggak masuk dulu Nat? mama bentar lagi pulang," usul Kayna mendapat gelengan kepala dari Natta.

__ADS_1


"Lain kali aja, Di duluan," pamitnya setelah itu menunggangi kuda besinya yang siap mengantarkannya kemana saja.


"You lose Natta," gumamnya di balik helm miliknya.


__ADS_2