Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Merinduuuu


__ADS_3

Untuk yang pertama kalinya setelah beberapa minggu tidak menginjakkan kaki di kantor Ayahnya. Natta datang tanpa paksaan siapapun.


Melangkah dengan cukup pelan dengan seragam yang masih melekat sengaja Natta langsung menuju ke atas dimana ruangan pak Rian berada. Sebelum masuk ke ruangan ayahnya jelas Natta akan melewati ruangan mama Mita terlebih dahulu. Ruangan yang cukup luas dengan kaca besar diberi motif sebagai pembatasannya.


Ekor mata Natta tanpa sengaja melirik ke arah ruangan mama Mita. Terlihat mama Mita yang sedang duduk seraya memijit kepalanya. Awalnya Natta tidak ingin peduli dan bersikap acuh, namun melihat wajah mama Mita yang terlihat pucat membuat Natta mengepalkan tangannya kuat. Antara harus membiarkan saja atau peduli sebagai sesama manusia juga pegawai dari orang tuanya.


"S**l," umpatnya memejamkan matanya sekilas.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" ujar mama Mita mendapati suara ketukan pintu di ruangannya.


"Ada apa pak?" tanya mama Mita melihat kedatangan seorang OB ke ruangannya.

__ADS_1


"Ini bu Mita, saya cuma dititipin ini untuk ibu," ujarnya langsung pergi.


Terlihat beberapa obat juga vitamin di dalamnya. Namun belum sempat bertanya dari siapa pegawai OB tersebut sudah lebih dulu keluar dari ruangannya.


"Dari siapa? perhatian banget," lirih beliau mulai membuka satu persatu obat yang dibutuhkan.


Sementara Natta kini kembali ke motor besarnya. Niatnya untuk menemui ayahnya terurungkan setelah melihat adanya mama Mita tadi. Ia belum cukup siap harus bersitegang dengan wanita yang sudah pernah menolongnya. Mama Mita sudah sangat banyak membantu Natta pada waktu itu. Meski tidak dipungkiri ada perasaan kecewa dari Natta untuk beliau. Karena beliau meminta Kayna untuk menjauhinya, kini hubungan mereka benar-benar telah renggang.


Sementara Kayna kini sedang duduk bersama dengan Dio di depan rumah kontrakannya. Ada perasaan aneh ketika Dio yang duduk bersamanya di sana. Biasanya Natta lah yang duduk di sana, bahkan jika Natta yang berkunjung sudah pasti laki-laki itu akan masuk ke dalam untuk sekadar istirahat di kamarnya. Masih banyak barang Natta yang tertinggal di rumah Kayna. Dan anehnya sama sekali tidak ada yang Natta ambil meski menurut Kayna itu barang-barang yang Natta butuhkan.


"Emm.. gimana Kak?" tanya Kayan membuat Dio terkekeh.


"Kamu dari tadi mikirin apa sih Kay? aku di sini lho nggak dimana-mana," jelas Dio membuat Kayna tersenyum canggung.


"Sorry ya kak, akhir-akhir ini aku lagi nggak enak badan," alibi Kayna dijawab anggukan kepala dari Dio.


Dio tidak bodoh, dia tahu apa yang sedang terjadi dengan gadis di sampingnya. Meski Kayna mengatakan hal demikian, namun sejak Natta tidak masuk lagi di kafenya. Kayna jadi sering terlihat murung, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Oke kalau gitu, mending kamu istirahat aja ya sekarang, kalau masih nggak enak badan nggak usah berangkat dulu nanti," jelas Dio diangguki oleh Kayna.


"Makasih banyak, kak Dio baik banget sama aku," sudut bibir Kayna tertarik ke atas membentuk senyum yang sangat tulus.


"Itu bukan suatau masalah Kay, aku yang pastinya makasih banget sama kamu, apa lagi kalau kamu mau ikut kita liburan," ujar Dio penuh harap.


"Lihat nanti aja ya kak?" balas Kayna seperlunya, mau tidak mau Dio hanya mengangguk saja.


Meski jawaban dari Kayna terkesan menggantung, tetapi Dio berharap dihari H-nya nanti Kayna bisa ikut dengannya liburan bersama teman-temannya.


"Aku pamit Kay." Dio beranjak dari duduknya.


Kayna menganggukan kepalanya dengan senyum tipis. "Hati-hati kak."


Terdengar helaan napas dari Kayna setelah kepergian Dio. Bukan karena merasa kesepian selepas ditinggal oleh Dio, namun Kayna justru teringat akan Natta, akan kebersamaan keduanya. Sekarang Kayna mulai merasa kehilangam sosok jahil di hidupnya. Natta memang menyebalkan tetapi begitu pintar menebar rindu.


"Ada yang beda dengan dia, namun aku rindu kehadirannya," lirih Kayna menatap kosong ke depan.

__ADS_1


__ADS_2