Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Calon Martua


__ADS_3

Setelah kepulangan mama Mita. Kayna duduk di balkon kamar yang ia tempati di rumah Natta. Tadi mama Mita juga diminta untuk tinggal di rumah keluarga Natta. Namun beliau menolak dengan alasan rumah akan terasa sepi jika tidak ditempati sama sekali.


Tidak pernah terbayangkan dalam hidup Kayna jika ia ditakdirkan untuk bertemu dengan cowok seperti Natta yang menurutnya sangat unik. Harusnya Kayna marah dan kecewa dengan apa yang sudah Natta lakukan. Meski tidak merugikannya, namun kebohongan Natta sangatlah fatal. Sayangnya, Kayna tidak dapat melakukan hal itu karena rasa dalam hatinya sudah tumbuh entah sejak kapan itu.


"Kay, saya boleh masuk?" terdengar suara bunda Delia yang sudah membuka pintu.


Kayna beranjak dari duduknya. Ia menghampiri bunda Delia dan menyuruh beliau untuk menemaninya.


"Iya tante," balas Kayna membuat bunda Delia tersenyum simpul.


"Teh hangat Kay," ujar bunda Delia menaruh dua gelas teh hangat di atas meja kecil.


Melihat ibu dari atasan sekaligus teman dekatnya yang begitu baik membuat Kayna merasa sungkan rasanya. Tidak seharusnya ia diperlakukan layaknya keluarga oleh keluarga Natta. Kayna hanya pekerja Natta.

__ADS_1


"Tante maaf, Kay jadi merepotkan," ujar Kayna tidak enak hati.


Senyum tulus dari bunda Delia terlihat. Beliau memegang pundak Kayna dengan lembut. "enggak kok Kay, hanya teh," balas beliau dijawab Kayna dengan senyum tipis.


"Makasih ya tante," lagi-lagi Kayna merasa tidak enak. Diboyong tanpa alasan yang jelas oleh Natta saja sangat membuat ia tidak enak hati. Apa lagi ditambah sikap kedua orang tua Natta yang begitu baik dengannya.


"Saya yang harus berterimakasih sama kamu Kay, makasih ya udah buat Natta mau pulang lagi ke rumah ini," beliau mengambil tangan Kayna untuk digenggamnya lembut.


Perlahan bunda Delia menceritakan tentang Natta dari kecil sampai saat ini. Sebenarnya Kayna sudah tahu banyak tentang Natta, karena ketika di rumah sakit ketika itu pak Rian sendiri yang menceritakan langsung dengan Kayna. Namun Kayna baru tahu jika Natta dituntut untuk pintar dan menjadi penerus ayahnya sejak ia masih kecil. Bahkan ketika Natta masih di sekolah menengah pertama ia sudah pernah dituntut ayahnya untuk memimpin rapat. Meski sukses namun tak ayal semua yang menjadi kesibukan Natta selain pendidikan di sekolahnya. Waktu bermain Natta sangat berkurang.


Menurut namun dalam hati Natta sangat ingin berontak.


Sampai di depan rumah kontrakannya. Mama Mita turun dari mobil Natta, begitu juga dengan Natta yang ikut turun untuk mengantarkan beliau sampai di depan pagar kecil rumah tersebut.

__ADS_1


"Makasih Natta," ujar beliau diangguki oleh Natta.


Diam menatap Natta. Mama Mita seperti ingin mengatakan sesuatu hal lagi, namun tidak beliau katakan melihat Natta yang juga sedang menatapnya.


"Makasih udah ijinin Kay tinggal di rumah," ujar Natta seketika membuat langkah mama Mita terhenti.


Tubuhnya berbalik. Kembali menatap Natta yang masih berada di tempatnya. "Kalau kamu memang menyukai anak saya, cukup jangan sakiti hatinya," ujar beliau mendapat senyum tipis dari Natta.


Ada makna sendiri dari senyum yang Natta perlihatkan sekarang. "Pasti tante, sebelum aku benar-benar ingin hidup dengan Kayna, aku akan mencari keberadaan ayah Kayna terlebih dahulu, semoga tante mau membantu," ujar Natta sangat sopan. Karena setelahnya ia menundukan kepalanya pertanda hormat kepada calon ibu martua.


"Aku pamit dulu tante," lanjutnya lagi.


Tidak menjawab apa yang Natta katakan. Mama Mita terdiam di tempatnya, entah kenapa kata-kata Natta barusan begitu menohok untuk beliau, tidak ada yang salah dengan ucapan Natta, karena tujuan Natta hanya ingin membuat orang yang disayanginya tersenyum bahagia setelah bertemu dengan ayahnya. Namun entah kenapa itu membuat mama Mita merasa menjadi orang yang sangat jahat sekali.

__ADS_1


__ADS_2