
Menunggu seseorang datang, Natta mengajak Kayna untuk duduk di suatu ruangan. Cukup lama mereka menunggu sampai akhirnya terdengar suara pintu terbuka.
Seseorang masuk dengan setelan jas rapih. Kayna mengernyitkan keningnya bingung melihat orang yang datang tersebut. Bukan karena Kayna tidak mengenal, namun Kayna justru tahu orang tersebut meski tidak begitu mengenalnya. Bahkan pernah Kayna ingin cari tahu siapa orang tersebut, sebelum akhirnya ia sibuk mengurus Natta dengan segala tingkahnya.
"Selamat siang om," sapa Natta tersenyum tipis.
Mendengar ucapan Natta seketika membuat orang tersebut atau pak Givan tersadar. Tadi beliau cukup terkejut dengan adanya Kayna yang juga berada di kantornya. Beliau pikir hanya Natta yang datang seorang diri. Namun lihatlah, sepertinya Natta sengaja mengejutkannya dengan mengajak Kayna datang bersamanya.
"Natta, dia?" tunjuk pak Givan melirik ke arah Kayna.
"Dia anak bu Mita om, sekaligus calon istri saya," balas Natta seketika membuat pak Givan terbatuk.
"Maaf-maaf," ujar beliau mencoba menghentikan batuknya.
"Kalian, akan menikah?" tanya beliau melirik ke arah Natta dan Kayna secara bergantian.
"Iya om, rencananya kalau Kayna udah bertemu sama ayah kandungnya, maka dari itu saya ke sini ingin meminta bantuan om," ujar Natta membuat pak Givan terdiam seketika.
Sejak kejadian tadi di kantor pak Givan. Kayna jadi marah dengan Natta, selain karena Natta yang sudah mengajak ke kantor beliau dan membuat ia bertemu langsung dengan pak Givan. Natta juga sangat lancang sekali mengatakan tentang dirinya yang tidak mempunyai seorang ayah, secara tidak langsung Natta memberitahu pak Givan jika Kayna tidak mempunyai seorang ayah.
"Kay, *sorry*." Natta mencoba mengambil tangan Kayna lalu dikecupnya secara perlahan dan sangat singkat.
__ADS_1
"Minggirin tangan kamu, kita belum halal Natta," protes Kayna malah membuat Natta terkikik.
Apa yang Kayna ucapkan seakan tidak berati apa-apa bagi Natta. Bukannya menyadarkan Natta jika mereka memang belum menjadi suami istri, Natta justru malah teringat dengan kejadian-kejadian dimana ia pernah mencium Kayna waktu itu.
"Kenapa liatinnya gitu?" sewot Kayna melirik sinis Natta.
"Jangan lupakan kita pernah ciuman Kay," balas Natta seketika membuat Kayna terdiam.
Dengan wajah merah yang entah karena malu atau marah dengan Natta. Kayna melirik Natta lalu sengaja menginjak kaki Natta dengan cukup keras.
"Auw! sayang," tadinya Natta ingin mengumpat, namun dia berusaha untuk bersabar menghadapi sikap Kayna dengan *mood* yang mudah berubah-ubah.
"Kenapa galak banget sih sama calon suami?" tidak tahan dengan sikap galak Kayna yang terus diperlihatkan dengannya. Akhirnya Natta protes.
__ADS_1
"Karena kamu udah lancang!" tekan Kayna meninggalkan Natta yang masih duduk di restoran.
Setelah pergi ke kantor pak Givan tadi. Natta sengaja mengajak Kayna untuk ke suatu restoran, bukan dengan maksud merayu agar Kayna tidak marah lagi. Namun keduanya memang belum makan setelah pulang sekolah tadi.
"Kay!" panggil Natta mencoba mengejar Kayna.
"Aku lakuin ini untuk kamu!" teriak Natta menghentikan langkah Kayna.
"Apa yang aku lakuin semata-mata cuma untuk kamu Kay," perlahan langkah Natta semakin mendekat dimana Kayna kini masih berdiri mematung memunggunginya.
Tepat di belakang Kayna. Natta berhenti dengan menatap punggung Kayna yang mulai bergetar. Meski galak, nyatanya jika menyangkut orang tua apa lagi seorang ayah yang tidak pernah Kayna ketahui keberadaannya, Kayna sedikit lemah, Kayna rapuh dan Kayna tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu tentang sosok tersebut. Seorang ayah yang sangat Kayna inginkan keberadaannya.
Tahu dengan kedaan Kayna saat ini. Natta langsung menarik tangan Kayna untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Jangan sedih, sebentar lagi kamu bisa bertemu," ujar Natta mengelus rambut Kayna dengan lembut.
__ADS_1
*Aku pastikan itu* ujar Natta dalam hatinya.